SELAMA INI YANG DI FRAME FILM BIOSKOP JADUL PERISTIWA G 30 S PKI ADALAH FAKTA YANG MENYESATKAN PUBLIK ? (SERIES 1)

Red JPN

CHEK REFERENSI YANG DIGUNAKAN UNTUK UTAS INI!

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Fakta ini bikin Gen Milenial seperti Bu Guru bakal merinding. Bisa-bisanya memori sejarah kita dipengaruhi oleh framing bioskop jadul yang menggiring opini tidak benar terkait fakta yang sebenarnya terjadi saat peristiwa G30S PKI Tahun 1965. Jaman dulu itu, tayangan bioskop hampir seluruhnya sama dengan apa yang ditulis di buku sejarah yang dipelajari di sekolah.

​Awalnya Bu Guru meriset efek dari peristiwa ini yang JAUH LEBIH MENGERIKAN LAGI di akar rumput, yang akan Bu Guru up di series 2. (KEKEJAMAN PKI TAHUN 48 JUGA DIULAS DI SANA & FAKTA KEKEJAMAN PKI LAINNYA).

Namun untuk sesi ini, ada fakta kelam sejarah bangsa harus diluruskan dari memori kolektif rakyat, terutama generasi yang waktu kecil dulu diwajibkan menonton film bioskop penumpasan dan pembantaian tujuh jenderal setiap akhir September.

​Bu Guru pun awalnya sempat ragu… apa iya sampai segitunya narasi sejarah dibelokkan? Untuk apa? Tapi setelah ditelusuri, media dan arsip yang meliput nggak kaleng-kaleng: mulai dari liputan investigasi mendalam Majalah Tempo, salinan berkas resmi persidangan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), telaah arsip internasional Cornell University oleh Prof. Benedict Anderson, penelitian doktoral Prof. Saskia Wieringa, hingga kesaksian langsung salah satu dokter forensik yang membedah jenazah para perwira di RSPAD. Semuanya bermuara pada satu dokumen autentik negara berkop resmi Departemen Angkatan Darat.

CERITA INI NGGAK MENGURANGI KEBIADABAN CARA BUNUH 7 JENDRAL YA …
TAPI MELURUSKAN SAJA ADA NARASI YG DIBIARKAN BELOK SELAMA INI.

Penasaran ? Yuuk Chek it Out!

Kalau mendengar cerita seputar peristiwa Lubang Buaya pada pengujung 1965, apa bayangan pertama yang melintas di kepala kalian? Tarian telanjang liar, silet yang mencabik-cabik raga, atau mata para jenderal yang dicungkil habis? Adegan di layar perak itu memang sengaja dibuat begitu mencekam dan sukses bikin bulu kuduk bergidik selama puluhan tahun.

​Namun, tunggu dulu. Kali ini Bu Guru ingin mengajak kalian menepi sejenak dari hiruk-pikuk dongeng masa lalu dan mulai menatap sejarah dengan kacamata sains, dokumen kedokteran forensik, serta arsip medis yang autentik. Karena ternyata, apa yang selama ini dipercaya publik sebagai “kebenaran mutlak” di Lubang Buaya sesungguhnya adalah bentuk propaganda rekayasa (sexual slander) yang sengaja ditiupkan demi membakar amarah massa hingga ke titik didih.

​Mari kita bedah kebenaran faktualnya secara jernih, segar, dan berlandaskan akal sehat!
​Fakta Medis di Balik Pintu Forensik RSPAD
​Mari kita putar kembali lembaran waktu ke petang hari 4 Oktober 1965. Setelah jenazah enam jenderal dan satu perwira pertama Angkatan Darat berhasil diangkat dari dasar sumur tua berkedalaman 12 meter di kawasan Lubang Buaya, Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Kostrad dan Pangkopkamtib segera memerintahkan pembentukan tim dokter forensik gabungan.

​Tugas mereka cuma satu: memeriksa kondisi fisik jenazah para perwira secara objektif berdasarkan sumpah keilmuan kedokteran demi kepentingan penegakan hukum (pro justitia).

​Pemeriksaan forensik itu berlangsung maraton sejak pukul 16.30 WIB tanggal 4 Oktober hingga rampung menjelang fajar 5 Oktober 1965 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Siapa saja dokter di balik meja autopsi tersebut? Mereka bukan sosok sembarangan, melainkan lima pakar forensik terbaik negeri ini—kombinasi dua dokter militer Angkatan Darat dan tiga akademisi independen dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:

1). ​dr. Brigjen Frans Pattiasina (Perwira Kesehatan Angkatan Darat)
2). ​dr. Roebino Kertopati (Dinas Kesehatan Tentara / Dokkes Kepolisian)
3). ​dr. Liaw Yan Siang (Lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman FKUI)
4). ​dr. Lim Joe Thay (Lektor Muda Ilmu Kedokteran Kehakiman FKUI, salah satu perintis forensik modern Indonesia)
5). ​drg. Sutomo Tjokronegoro (Lektor Fakultas Kedokteran Gigi UI / Ahli Forensik Gigi RSPAD)

​Hasil pemeriksaan ilmiah tersebut dirangkum dalam dokumen resmi bernama Visum et Repertum Nomor H.103 sampai H.109, yang membedah kondisi raga Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen MT. Harjono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Soetojo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Tendean.

​Apa temuan medis objektif yang tertulis hitam di atas putih?👀♻️

​Penyebab Kematian: Ketujuh korban gugur murni akibat terjangan proyektil peluru senjata api laras panjang maupun pendek, serta trauma benda tumpul yang meretakkan tulang kepala, rahang, dan panggul. Kerusakan mekanik tersebut terjadi akibat hantaman popor senapan dan benturan keras saat jasad dijatuhkan saling bertumpuk ke dasar sumur sempit.

​Kondisi Alat Kelamin: Dalam lembar visum tiap-tiap jenazah, tim dokter secara spesifik mencatat bahwa alat kelamin seluruh korban dalam kondisi utuh. Tidak ada bekas sayatan silet, tidak ada luka iris pisau, dan sama sekali tidak ada mutilasi.

​Kondisi Bola Mata: Mata para korban tidak pernah dicungkil. Rusaknya atau lepasnya jaringan bola mata pada sebagian jenazah murni disebabkan oleh proses pembusukan alami (dekomposisi post-mortem), mengingat jasad telah terendam air dan lumpur di dasar sumur tropis yang lembap selama lebih dari 75 jam sebelum dievakuasi.

​Kelahiran Mitos: Bagaimana Propaganda Seksual Dirancang?.👀😭

​Lalu muncul pertanyaan kritis: kalau para dokter forensik sudah memastikan raga para jenderal utuh tanpa mutilasi sejak subuh 5 Oktober 1965, mengapa cerita yang disuntikkan ke benak masyarakat justru sebaliknya?

​Di sinilah perang psikologis (psywar) bekerja. Dokumen hasil visum yang ditandatangani lima dokter ahli itu diserahkan langsung kepada pimpinan militer, namun berkas tersebut dikunci rapat dan dirahasiakan dari publik sepanjang era Orde Baru.

​Sebaliknya, pada pekan kedua Oktober 1965, surat kabar yang berada di bawah kendali tentara—terutama harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha—menyemburkan berita-berita bombastis. Publik dijejali dongeng mengerikan: para pahlawan revolusi dikabarkan disiksa secara sadis, matanya disayat silet, kemaluannya dipotong, sembari diiringi tarian telanjang massal kader Gerwani yang dilabeli “Tari Harum Bunga”.

​Dalam kajian sosiologi politik dan sejarah, strategi manipulasi ini dikenal sebagai Sexual Slander (fitnah moral bernuansa seksual). Taktik ini terbukti jitu melumpuhkan empati masyarakat. Dengan mencap aktivis perempuan Gerwani sebagai kelompok liar tak bermoral dan haus darah, batas kemanusiaan publik langsung runtuh. Akibatnya, milisi warga dan pemuda di berbagai daerah merasa mendapatkan pembenaran moral serta legitimasi agama untuk memburu, menangkap, hingga membantai siapa pun yang dituding simpatisan kiri tanpa secuil pun rasa bersalah.

​Dua Kesaksian Sejarah: Suara dari Fakta Forensik dan Realitas Korban

​Agar kita bisa melihat betapa timpangnya narasi propaganda masa lalu dengan fakta riil di atas meja autopsi, mari kita cermati dua kutipan otentik dari media nasional kredibel:
​Terkait otentisitas dokumen visum yang membongkar mitos mutilasi para jenderal di Lubang Buaya, investigasi mendalam Tempo yang mengangkat penuturan dr. Liaw Yan Siang mencatat fakta kunci:

​”Di dalam visum itu terlihat bahwa para jenderal itu tidak disiksa. Mereka menderita luka tembak. Tubuh mereka tidak dimutilasi. Kelamin mereka utuh. Itulah kesimpulan yang diambil oleh dokter yang melakukan otopsi. Visum ini adalah petunjuk awal dari kerapuhan narasi Orde Baru ini.”

​Sementara itu, menyoroti bagaimana fitnah propaganda tersebut berbalik menghancurkan kehidupan kaum perempuan di akar rumput, kanal edukasi Detik (detikEdu) mengulas sisi kelam yang dialami para korban:

​”Perempuan tak luput dari korban G30S PKI. Anggota Gerwani dituduh terlibat dalam penyiksaan jenderal, meski kemudian terbukti tuduhan itu adalah bagian dari propaganda. Kesaksian penyintas menunjukkan bahwa kekerasan seksual dilakukan secara sistematis, bukan insiden terpisah.”

​Terkuaknya Tabir dan Jalan Panjang Rekonsiliasi

​Pembiaran fakta sejarah yang di belokan tidak bisa selamanya menutupi data sains forensik. Dokumen medis yang lama disembunyikan itu akhirnya terkuak ke pentas dunia pada tahun 1987. Indonesianis terkemuka dari Universitas Cornell, Prof. Benedict Anderson, secara mengejutkan menemukan salinan resmi Visum et Repertum tersebut terselip dalam lampiran berkas persidangan Mahmilub perkara Dr. Soebandrio.

​Ben Anderson kemudian mempublikasikan dokumen bersejarah itu secara utuh lewat artikel ilmiah bertajuk “How Did the Generals Die?” di jurnal internasional Indonesia. Publik akademis dunia pun tersentak menyadari bahwa cerita resmi mutilasi di Lubang Buaya sama sekali tidak berpijak pada data kedokteran.

​Temuan ini diperkuat oleh disertasi Prof. Saskia Wieringa dari Universitas Amsterdam yang menelusuri bagaimana fabrikasi fitnah seksual digunakan untuk meremukkan gerakan perempuan di Indonesia. Menjelang akhir hayatnya di Amerika Serikat, dr. Liaw Yan Siang mengonfirmasi langsung kepada peneliti sejarah bahwa dokumen visum yang beredar itu asli, sah, dan ia sendiri yang turut memeriksa fisik para perwira tersebut.

Fakta ini kian terang benderang setelah diulas tuntas oleh sejarawan BRIN Dr. Asvi Warman Adam serta liputan edisi khusus Majalah Tempo.

Ada pendapat lain ? Atau ini propaganda pembela PKI… ? Wallahualam …
Next series 2 …efek kejadiaj ini yg memakan korban memgerikan …

​Meluruskan sejarah bukanlah tentang membela ideologi politik tertentu, melainkan tentang ikhtiar mengembalikan kewarasan dan akal sehat bangsa. Ketika fitnah masa lalu dibiarkan terus bercokol di memori publik tanpa koreksi ilmiah, kita sejatinya sedang membiarkan racun dendam diwariskan dari generasi ke generasi.

​Membaca sejarah lewat kejernihan data adalah langkah awal untuk merawat nurani kemanusiaan kita bersama.

​Salam Sayang Literasi Numerasi
Bu Guru💕

​#PerangLiterasi #LawanLupa #LogikaForensikSejarah #PelurusanSejarah #BuGuru #LiterasiNumerasi

Bagikan