Surabaya. Jelajahpenanews. Com- Semakin banyak kita bertemu orang, semakin kita memahami bahwa kepintaran, kekayaan, dan jabatan bukanlah ukuran utama kemuliaan seseorang. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu akhlak dalam memperlakukan sesama. Sebab, karakter sejati terlihat ketika seseorang tetap menghormati mereka yang tidak memiliki kekuasaan, kekayaan, atau keuntungan apa pun untuk diberikan kepadanya.
Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan berbagai macam manusia. Ada yang berilmu tinggi, berharta melimpah, memiliki jabatan terhormat, dan disegani banyak orang. Namun, ada pula yang hidup sederhana, tidak memiliki kedudukan, dan namanya jarang disebut dalam percakapan orang-orang terpandang. Perbedaan keadaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk membedakan penghormatan kita kepada sesama manusia. Sebab, di hadapan Allah, kemuliaan tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh ketakwaan dan kualitas akhlak seseorang.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa perbedaan latar belakang, status sosial, kekayaan, dan kedudukan bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Semua manusia berasal dari penciptaan Allah yang sama, sedangkan ukuran kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketakwaan. Karena itu, seseorang yang memiliki banyak kelebihan seharusnya semakin rendah hati, bukan semakin mudah merendahkan orang lain.
Kepintaran memang merupakan anugerah yang patut disyukuri. Kekayaan dapat menjadi jalan untuk menolong sesama. Jabatan juga bisa menjadi sarana untuk menegakkan keadilan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Akan tetapi, semua kelebihan tersebut kehilangan sebagian besar nilai kebaikannya apabila tidak disertai akhlak yang mulia. Ilmu tanpa kerendahan hati dapat melahirkan kesombongan. Kekayaan tanpa kepedulian dapat menumbuhkan keangkuhan. Jabatan tanpa amanah dapat berubah menjadi alat untuk menindas dan merendahkan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, no. 2564).
Hadis ini memberikan pelajaran mendalam bahwa penampilan, harta, dan segala sesuatu yang terlihat oleh manusia bukanlah ukuran utama penilaian Allah. Yang lebih penting adalah keadaan hati dan perbuatan yang lahir darinya. Hati yang bersih akan mendorong seseorang untuk menghormati orang lain, menjaga lisannya, tidak meremehkan orang miskin, dan tidak menjadikan kelebihannya sebagai alasan untuk menyakiti sesama.
Sesungguhnya, salah satu ujian akhlak yang paling nyata adalah bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepada kita. Bersikap ramah kepada atasan karena mengharapkan promosi tentu berbeda dengan menghormati petugas kebersihan yang tidak memiliki pengaruh terhadap karier kita. Menunjukkan kesopanan kepada orang kaya mungkin terasa mudah, tetapi tetap santun kepada orang sederhana ketika tidak ada kepentingan apa pun merupakan cerminan karakter yang patut dijaga.
Orang yang benar-benar berakhlak mulia tidak mengukur harga diri seseorang berdasarkan manfaat yang bisa diperolehnya. Ia memahami bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang wajib dijaga. Ia tidak hanya menyapa orang yang dianggap penting, tetapi juga menghargai mereka yang sering tidak diperhatikan. Ia tidak hanya bersikap lembut ketika membutuhkan pertolongan, tetapi juga tetap santun setelah kepentingannya terpenuhi.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra: 70).
Ayat tersebut mengingatkan kita tentang kehormatan manusia yang Allah anugerahkan. Oleh karena itu, janganlah kita merasa berhak mempermalukan orang lain hanya karena kedudukan kita lebih tinggi, penghasilan kita lebih besar, atau pendidikan kita lebih baik. Menghargai sesama bukan berarti harus menyetujui semua perkataannya, melainkan memperlakukan mereka dengan adil, santun, dan tidak merampas kehormatannya.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, dan Muslim, no. 47).
Hadis ini mengajarkan bahwa akhlak tidak hanya tampak dalam tindakan besar, tetapi juga dalam perkataan sehari-hari. Cara kita berbicara kepada orang yang lebih lemah, menanggapi kesalahan seseorang, dan menyampaikan pendapat ketika berbeda pandangan menunjukkan sejauh mana kita mampu mengendalikan diri. Tidak semua hal harus diucapkan, tidak setiap kesalahan harus dipermalukan, dan tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan penghinaan.
Terkadang, seseorang merasa dirinya hebat karena mampu membuat orang lain takut. Padahal, ditakuti tidak selalu berarti dihormati. Ada pula orang yang disegani karena kekayaannya, tetapi tidak dirindukan kehadirannya. Sebaliknya, ada orang sederhana yang tidak memiliki banyak harta, tetapi kehadirannya membawa ketenteraman karena tutur katanya lembut dan perilakunya menenangkan. Inilah perbedaan antara kebesaran yang tampak dari luar dan kemuliaan yang tumbuh dari dalam.
Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).
Larangan ini mengajarkan agar kita tidak memelihara sikap merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kesombongan bisa hadir dalam bentuk yang halus: enggan menyapa orang kecil, meremehkan pekerjaan sederhana, berbicara dengan nada merendahkan, atau hanya memberikan perhatian kepada mereka yang dianggap setara dan menguntungkan. Padahal, kita tidak pernah mengetahui perjalanan hidup seseorang, ujian yang sedang dihadapinya, ataupun amal kebaikan yang mungkin lebih bernilai di sisi Allah.
Maka, marilah kita membiasakan diri menghargai siapa pun tanpa harus menunggu mereka menjadi orang penting. Ucapkan terima kasih kepada orang yang membantu kita. Sapa mereka yang sering terabaikan. Dengarkan orang lain tanpa merasa selalu paling benar. Berikan hak setiap orang secara adil. Jangan menjadikan kesederhanaan seseorang sebagai bahan ejekan, sebab pekerjaan yang halal dan kehidupan yang bersahaja tidak mengurangi kehormatan seorang manusia.
Apabila Allah memberikan ilmu, gunakanlah untuk membimbing, bukan mempermalukan. Apabila Allah memberikan kekayaan, gunakanlah untuk berbagi, bukan membangun kesombongan. Apabila Allah memberikan jabatan, gunakanlah untuk melayani, bukan menuntut penghormatan secara berlebihan. Semakin besar nikmat yang diterima, seharusnya semakin besar pula tanggung jawab untuk bersikap rendah hati dan memberikan manfaat.
Kehidupan ini akan terus berubah. Jabatan bisa berakhir, kekayaan bisa berkurang, kecantikan bisa memudar, dan popularitas bisa dilupakan. Namun, kebaikan yang ditanamkan dalam hati manusia dapat meninggalkan kesan yang mendalam. Orang mungkin lupa seberapa mahal hadiah yang pernah kita berikan, tetapi mereka dapat mengingat bagaimana kita menghormati mereka ketika sedang berada dalam kesulitan.
Jangan menunggu menjadi kaya untuk belajar berbagi. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk belajar menghormati. Jangan menunggu menjadi orang terpandang untuk bersikap santun. Mulailah dari hal sederhana, karena kemuliaan akhlak dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tulus dan konsisten.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari kesombongan, menjauhkan kita dari kebiasaan merendahkan sesama, serta membimbing kita agar mampu menghargai setiap manusia dengan adil dan penuh kasih sayang. Semoga ilmu membuat kita semakin bijaksana, kekayaan menjadikan kita semakin dermawan, dan kedudukan mendorong kita semakin amanah. Sebab, kemuliaan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia, melainkan seberapa rendah hati kita dalam memperlakukan sesama dan seberapa baik amal kita di hadapan Allah SWT.
Amin ya Rabbal ‘alamin.








