Arena Judi Sabung Ayam Sidoarjo Bangkit Lebih Mewah Pasca Dibakar Aparat ,Tidak Takut dengan Aparat

Reporter : karjoko


‎Sidoarjo. Jelajahpenanews. Com –  Rabu, 17 Februari 2026 Praktik perjudian sabung ayam di Desa Pepe, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, kembali menantang hukum secara terang-terangan. Meski sempat dibumihanguskan oleh aparat gabungan pada 9 Februari 2026, arena ini justru “hidup kembali” dengan fasilitas yang jauh lebih permanen, memicu dugaan adanya intervensi oknum kuat di belakang layar.


‎Pengelola judi sabung ayam di Desa Pepe, yang diduga dibekingi oknum “berambut cepak” dan oknum pejabat, berhadapan dengan tuntutan tegas dari Gus Aulia (Ketua LPK-RI DPC Gresik), Muhammad Akbar Ali (Ketua JPKPN Sidoarjo), dan warga setempat.


‎Pembangunan kembali arena judi sabung ayam dengan fasilitas lebih mewah (kanopi besi, kursi besi, dan karpet hijau) hanya berselang seminggu setelah pembongkaran paksa oleh aparat.


‎Desa Pepe, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

‎Terpantau berdiri kembali pada pertengahan Februari 2026, pasca penertiban tanggal 9 Februari 2026.

‎Diduga karena adanya rasa “kebal hukum” dan dukungan oknum tertentu, serta motif ekonomi yang mengatasnamakan “mencari nafkah” untuk melegalkan pelanggaran Pasal 303 KUHP.


‎Arena dibangun lebih terorganisir dengan konstruksi permanen, mengabaikan tindakan hukum sebelumnya, dan memicu keresahan warga menjelang bulan suci Ramadan.

‎Ironi di Balik Kanopi Besi

‎Transformasi fisik arena di Desa Pepe ini menjadi tamparan keras bagi aparat penegak hukum (APH).


‎Pantauan lapangan menunjukkan perubahan drastis; jika sebelumnya hanya bangunan ala kadarnya, kini berdiri konstruksi kanopi besi dengan tiga gelanggang karpet hijau mewah.

‎Pimpinan Redaksi Nasionaldetik.com, Edi Uban, menyebut situasi ini sebagai ironi nasional.


‎“Negara kita sedang tidak baik-baik saja. Sangat ironis melihat mereka seakan kebal hukum karena merasa ada kekuatan di belakangnya,” tegasnya.

‎Dugaan Intervensi & Desakan Penutupan Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Muncul klaim bahwa ada oknum pejabat yang mencoba mengintervensi pasca pembakaran tempo hari. Hal ini memicu reaksi keras dari Gus Aulia, Ketua LPK-RI DPC Gresik.



‎“Hukum harus tegak lurus. Jika sudah dibongkar lalu berdiri lagi lebih megah, itu adalah penghinaan nyata terhadap wibawa aparat! Jangan kalah oleh oknum,” cetus Gus Aulia.

‎Menjelang Ramadan, tekanan kini berada di pundak Forkopimcam Sedati dan Polresta Sidoarjo. Publik menunggu: apakah hukum akan benar-benar tajam ke atas, atau justru tumpul di hadapan kanopi besi Desa Pepe?


Bagikan