Surabaya. Jelajahpenanews. Com – Bayangkan dua pemuda menjajakan sabun buatan tangan dari pintu ke pintu, mengayuh sepeda keliling Surabaya dan pelosok Jawa Timur. Tidak ada modal besar, tidak ada mesin canggih, tidak ada investor. Hanya dua sahabat, satu resep sabun sederhana, dan tekad yang luar biasa keras.
Itulah awal kisah Wings Group — didirikan pada 21 September 1948 dengan nama Fa Wings oleh Johannes Ferdinand Katuari dan Harjo Sutanto, dua sahabat yang memulai semuanya dari dapur rumah mereka di Surabaya, Jawa Timur.
Didorong kebutuhan untuk bertahan di era pascaperang, keduanya tanpa menyerah menjajakan produk dari pintu ke pintu, warung ke warung, desa ke desa. Kerja keras itu terbayar — sabun cuci mereka disambut hangat masyarakat.
Sayangnya, keduanya kini telah tiada. Johannes F. Katuari lebih dulu tutup usia pada tahun 2004, dan kepemimpinan Wings Group langsung diambil alih oleh putranya, Eddy Katuari. Sementara Harjo Sutanto, yang sempat tercatat sebagai miliarder tertua Indonesia dengan kekayaan diperkirakan mencapai 1,3 miliar dolar AS, wafat pada 10 September 2025 di usia 102 tahun.
Namun warisan bisnis yang mereka tinggalkan tetap berdenyut kencang.
Dalam lanskap industri barang konsumen Indonesia yang didominasi raksasa seperti Indofood dan Unilever, Wings Group memilih jalur yang berbeda: bukan menjadi pelopor yang boros biaya, melainkan pengikut yang cerdas dan sangat efisien. Strategi low-cost high-quality mereka sederhana namun mematikan — hadir di segmen yang sama dengan produk berkualitas serupa, tapi dengan harga yang lebih ramah di kantong masyarakat kelas menengah ke bawah.
Hasilnya bukan sekadar eksis. Kehadiran Mie Sedaap di pasar mi instan memaksa Indomie untuk berpikir ulang soal strategi harga. Deterjen Daia masuk ke wilayah yang selama ini dikuasai merek-merek multinasional dengan positioning yang sama sekali tidak bisa diabaikan.
Kunci di balik penetrasi pasar yang masif ini adalah jaringan distribusi yang dibangun selama puluhan tahun melalui PT Sayap Mas Utama — anak usaha Wings yang memastikan produk-produk mereka tidak hanya tersedia di minimarket kota, tapi juga di warung-warung terpencil di pelosok nusantara.
Selama lebih dari tujuh dekade, Wings Group membuktikan satu hal yang sering dilupakan dalam dunia bisnis: tidak harus menjadi yang pertama untuk memenangkan pasar. Yang paling penting adalah hadir di tempat yang tepat, dengan harga yang tepat, dan kualitas yang tidak mengecewakan.
Dari dua sepeda dan sekeranjang sabun di Surabaya, lahirlah salah satu konglomerat FMCG paling tangguh di Asia Tenggara.








