SURABAYA. Jelajahpenanews . Com — Di tengah hiruk-pikuk kawasan perdagangan dan perkembangan pesat kota metropolitan Surabaya, tepatnya di Wonokromo SS, satu hal tetap teguh berdiri: kentalnya nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal masyarakatnya. Meski bangunan menjulang, hunian tumbuh rapat, dan pola hidup masyarakat kian bertransformasi mengikuti arus modernisasi, semangat merawat tradisi justru semakin kuat di hati warga setempat.
Salah satu buktinya terlihat jelas di Musholla Putri Wonokromo SS. Di sinilah Jam’iyah Majlis Taklim Musholla Putri Wonokromo SS, di bawah pimpinan Hj. Ernawati, kembali menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Rabu, 2 September 2026. Acara yang murni diperuntukkan bagi jamaah putri ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bukti nyata komitmen warga dalam menjaga warisan budaya keagamaan di tengah perubahan zaman.
Suasana kekhusyukan langsung terasa sejak awal acara. Penampilan Hadroh Badrun Nada Asmaul Husna yang menggema memecah keheningan seketika membangkitkan semangat keimanan dan ketakwaasan para hadirin. Nyanyian pujian kepada Kanjeng Nabi terasa begitu menyentuh hati, menyatukan hati para jamaah dalam kehangatan ukhuwah perempuan.
Mengisi ceramah keagamaan, KH. M. Rofiuddin Al Hafidz mengupas secara mendalam makna Surat Al-Ahzab ayat 56 — perintah Allah SWT bagi seluruh orang beriman untuk senantiasa bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam penyampaiannya, Kiai menegaskan kemuliaan kedudukan Nabi, tempat Allah beserta para malaikat-Nya memuji dan memuliakan beliau, sekaligus mengajak seluruh jamaah menjadikan shalawat sebagai jalan untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah.
Kekhasan acara ini terletak pada penyelenggaraannya yang khusus digelar untuk kalangan jamaah putri. Suasana yang tertata rapi, penuh kesopanan, dan hangat semakin mempererat tali persaudaraan antarwarga perempuan di sekitar Wonokromo. Keakraban yang terjalin bukan hal baru; ia tumbuh subur berkat konsistensi jam’iyah ini merawat tradisi dari tahun ke tahun.
Secara historis, Wonokromo memang dikenal sebagai kawasan yang kaya jejak sejarah dan kental kehidupan religiusnya — tercatat pula keberadaan masjid tertua yang masih tegak di kawasan ini, menjadi saksi bisu panjangnya perjalanan iman masyarakat setempat. Budaya Maulidan yang digelar keluarga besar Jam’iyah Taklim Musholla Wonokromo telah mengakar kuat, menjadi identitas yang tak terpisahkan dari kehidupan warga.
Bagi masyarakat setempat, Maulidan bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah sarana untuk terus meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah, mempererat kebersamaan, sekaligus memohon syafaat di yaumil akhir kelak. Tradisi ini membuktikan satu hal: nilai-nilai luhur tak akan pernah lekang oleh waktu, meski arus zaman terus bergerak serba cepat, serba modern, dan serba digital. Di tangan para pewarisnya, budaya ini akan terus hidup, bersemi, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Tulisan ini disesuaikan dengan gaya penulisan media yang hangat, mendalam, dan menonjolkan semangat pelestarian budaya — layaknya sahabat yang bercerita. Apakah ingin disesuaikan lagi nada atau kedalaman bahasanya?








