SIDOARJO. Jelajahpenanews . Com — Semangat kemerdekaan Republik Indonesia belumlah pudar meski telah memasuki bulan September. Hal ini tampak nyata di Desa Wadungasri, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, yang pada Sabtu, 6 September 2026, meriah menggelar pawai budaya dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Pawai ini diikuti oleh 19 kelompok peserta yang mewakili seluruh wilayah Rukun Tetangga (RT) se-Desa Wadungasri, turut meramaikan juga barisan pelajar dari sekolah-sekolah di lingkungan kelurahan setempat. Rute pawai membentang sepanjang kurang lebih dua kilometer, dimulai dari Jalan Raya Wadungasri berkeliling pemukiman warga, hingga berakhir di Lapangan Wadungasri. Suasana tampak penuh warna dan riuh kegembiraan, membuktikan semangat warga dalam menjaga tradisi perayaan kemerdekaan hingga di tingkat akar rumput tetap membara.

Penyelenggaraan pawai budaya di berbagai wilayah Sidoarjo sejatinya telah tumbuh menjadi tradisi rutin masyarakat. Namun demikian, Asfan Mukhlis, pemerhati perkembangan karnaval dan tradisi budaya di Sidoarjo, menilai kegiatan bernilai luhur ini kurang mendapat perhatian yang memadai dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
“Pawai di setiap desa dan kelurahan di Sidoarjo kerap dilaksanakan secara swadaya. Hal tersebut semestinya mendapat perhatian lebih dari pemangku kebijakan setingkat Pemerintah Kabupaten,” ujar Asfan yang senantiasa memantau perkembangan karnaval budaya di wilayah Sidoarjo.
Ia menambahkan, penyelenggaraan karnaval budaya di Sidoarjo selama ini masih berjalan terpisah-pisah dan belum terpadu. Belum adanya sistem pendataan maupun penilaian yang terstruktur dari pemerintah kabupaten, padahal hal tersebut dapat menjadi sarana menyeleksi karya-karya terbaik untuk dipertandingkan pada ajang berskala kecamatan hingga kabupaten.
“Pemerintah Kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten semestinya tanggap terhadap potensi besar ini. Mengingat karnaval budaya kerap digelar di berbagai pelosok, sudah selayaknya dilakukan pendataan terhadap desa atau kelurahan yang telah menyelenggarakannya, lalu dijadikan ajang kompetisi bertingkat. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya terus lestari, tetapi kualitas dan kreativitasnya pun dapat terus meningkat,” tegas Asfan.
Harapan besar ini disampaikan agar tradisi pawai budaya yang tumbuh dari inisiatif dan kekompakan warga sendiri tidak berhenti di tingkat desa. Semoga kelak mendapat dukungan dan wadah yang lebih luas, sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya serta penguatan identitas masyarakat Sidoarjo yang berkelanjutan.








