SURABAYA. Jelajahpenanews . Com — Di tengah hiruk-pikuk perkembangan Kota Surabaya, tepatnya di kawasan Jagir Wonokromo, sebelah utara kompleks Darmo Trade Center, berdiri sebuah masjid yang tak hanya menjadi tempat ibadah, namun juga menyimpan sejarah panjang peradaban Islam di wilayah selatan kota tersebut. Masjid Qowiyuddin, yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Surabaya Selatan, kembali menjadi pusat kehangatan dan kebersamaan umat Islam saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1448 Hijriah / 2026 Masehi.
Acara yang berlangsung pada malam Senin, 24 Agustus 2026 ini berlangsung penuh kekhusyukan, dihadiri ratusan jamaah dari berbagai kalangan masyarakat sekitar. Hadir pula Anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PKB, Tubagus Lukman Amin, yang juga merupakan keturunan keluarga pendiri dan pengasuh masjid, serta Ketua Takmir Masjid Qowiyuddin, Ustadz Amir Hamzah. Suasana semakin meriah dan syahdu dengan irama sholawat yang dilantunkan secara khusus oleh kelompok seni Al Banjari Qowiyuddin.

Sejarah Panjang Masjid Qowiyuddin: Jejak Kesultanan Banten di Tanah Surabaya
Masjid Qowiyuddin tidak sekadar bangunan tempat ibadah. Namanya diambil dari pendirinya, Qowiyuddin, yang membangun masjid ini sekitar pertengahan abad ke-19, diperkirakan pada rentang tahun 1840–1890. Sejarah mencatat bahwa Qowiyuddin bukanlah orang sembarangan — beliau adalah keturunan langsung dari garis kesultanan yang bermula dari Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati), pendiri Kesultanan Cirebon dan Banten, yang hidup pada abad ke-16.
Garis keturunannya terhubung secara turun-temurun melalui para Sultan Banten, hingga sampai ke Pangeran Suramanggala Tubagus Ibrahim, yang kemudian melanjutkan ke keturunannya yang berpindah dan menetap di wilayah Surabaya Selatan. Qowiyuddin kemudian mendirikan masjid kecil di kawasan Jagir Wonokromo, yang kini dikenal sebagai Masjid Qowiyuddin — menjadi saksi bisu penyebaran dan kelestarian ajaran Islam yang dibawa oleh para leluhur sejak ratusan tahun lalu.
Sejak masa pendirian, masjid ini terus dirawat dan dijaga oleh keturunan Qowiyuddin secara berkelanjutan. Dari generasi Asmaddin, Musthofa, H. Mas Thoha, H. Achiyat Thoha, hingga kini diteruskan oleh M. Zamroni Thoha dan keluarga besar, termasuk Tubagus Lukman Amin. Tradisi perawatan dan penyelenggaraan kegiatan keagamaan tidak pernah putus, dan seluruhnya dilaksanakan secara gotong royong oleh masyarakat sekitar — sebuah nilai luhur yang terus dijaga hingga saat ini.
Menjaga Warisan & Semangat Persaudaraan
Dalam sambutannya, Tubagus Lukman Amin menegaskan bahwa kehadirannya bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar masjid yang menjadi saksi sejarah Islam di Surabaya.
“Kehadiran saya di sini bukan sebagai wakil rakyat semata, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Masjid Qowiyuddin. Semoga semangat mencintai Rasulullah SAW yang kita lestarikan di masjid tertua ini terus tumbuh, menjadi berkah bagi kita semua, dan memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat Jagir Wonokromo,” ujar Tubagus Lukman Amin di hadapan para jamaah.
Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Qowiyuddin, Ustadz Amir Hamzah, menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW serta menjaga warisan para sesepuh yang telah merawat masjid ini secara turun-temurun.
“Maulid Nabi bukan sekadar peringatan kelahiran, melainkan momen untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW. Di masjid yang dijaga secara turun-temurun ini, kita berjanji menjaga warisan para sesepuh, menjaga kebersamaan, dan menjaga cinta kepada Nabi kita Muhammad SAW,” tutur Ustadz Amir Hamzah.
Suasana acara semakin syahdu dengan lantunan sholawat yang dibawakan oleh kelompok Al Banjari Qowiyuddin. Salah satu jamaah yang hadir berharap tradisi ini terus dijaga dan semakin berkembang dari tahun ke tahun.
“Dengan lantunan sholawat Al Banjari Qowiyuddin, hati kita semakin dekat kepada Rasulullah. Semoga tradisi ini terus dijaga, setiap tahun semakin berkumpul, dan semoga syafaat Nabi senantiasa menyertai kita semua,” ungkap jamaah tersebut.
Tradisi Tetap Lestari di Tengah Perkembangan Zaman
Peringatan Maulid Nabi di Masjid Qowiyuddin menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong dalam menjaga tradisi keagamaan tetap kuat di tengah masyarakat Surabaya Selatan. Kegiatan seperti peringatan Maulid Nabi, Haul, hingga peringatan bulan Muharram rutin diselenggarakan setiap tahun, dan seluruhnya dikelola secara bersama-sama oleh warga tanpa memandang perbedaan.
Di tengah perubahan zaman dan pembangunan yang terus berlangsung di sekitar kawasan Jagir Wonokromo, Masjid Qowiyuddin tetap berdiri tegak — bukan hanya sebagai bangunan, melainkan sebagai simbol identitas, persaudaraan, dan warisan leluhur yang terus dijaga oleh generasi demi generasi. Tradisi yang telah berjalan turun-temurun ini diharapkan dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW dan penghormatan terhadap sejarah Islam di tanah Surabaya.








