Kegiatan Rutin Malam Jum’at Pahing di Makam Pesarehan Mbah Singo Dipuro, Tradisi Religi yang Terus Terjaga

Reporter: Ali Wafi

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 33;

Lamongan, Jelajahpenanews.com – Suasana penuh khidmat kembali menyelimuti kawasan Pesarehan Mbah Singo Dipuro atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Agung, yang berada di Dusun Badu, Desa Wanar, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan. Seperti yang telah menjadi tradisi turun-temurun, setiap malam Jum’at Pahing masyarakat dari berbagai warga dusun badu berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan berupa pembacaan Surah Yasin, tahlil, serta istighosah.

Kegiatan rutin tersebut dihadiri para sesepuh desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jamaah putra dan putri yang datang dengan penuh keikhlasan. Mereka duduk bersama dalam suasana guyub dan penuh kekeluargaan, memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan harapan memperoleh keberkahan, keselamatan, serta mendoakan para leluhur yang telah mendahului.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, bacaan tahlil, dan doa-doa yang dipimpin oleh para ustad dan sesepuh setempat menggema di area pesarehan hingga seluruh rangkaian acara selesai. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana beribadah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga serta memperkokoh nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Menurut sejarah para sesepuh, Mbah Singo Dipuro atau Mbah Agung merupakan salah satu keturunan dari Sunan Giri, salah seorang anggota Wali Songo yang memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Sunan Giri diketahui memiliki sepuluh orang putra, salah satunya adalah Sunan Dalem. Dari garis keturunan Sunan Dalem inilah lahir Raden Panembahan Singo Dipuro yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai Mbah Agung. Kini, makam beliau berada di Dusun Badu, Desa Wanar, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan dan menjadi salah satu tempat yang banyak diziarahi masyarakat.

Keberadaan pesarehan Mbah Agung tidak hanya menjadi bagian dari sejarah penyebaran Islam di wilayah Lamongan, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan yang terus dilestarikan oleh masyarakat hingga sekarang. Setiap malam Jum’at Pahing, jamaah yang hadir hanya berasal dari Dusun badu desa Wanar, warga yang ingin mengikuti doa bersama dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Selain kegiatan rutin bulanan tersebut, setiap tahun pada bulan Rajab juga diselenggarakan Haul Mbah Singo Dipuro. Acara haul menjadi momentum penting untuk mengenang jasa dan perjuangan beliau dalam syiar Islam. Ribuan jamaah biasanya memadati area pesarehan untuk mengikuti rangkaian doa bersama, pengajian, dan pembacaan tahlil.

Haul Mbah Agung dihadiri oleh para ulama, kiai, habaib, tokoh masyarakat, santri dari berbagai pondok pesantren di wilayah sekitar, serta masyarakat umum dari berbagai daerah. Tidak hanya itu, jajaran Pemerintah Kabupaten Lamongan, termasuk Bupati Lamongan beserta unsur Forkopimda dan perangkat daerah, juga turut hadir sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah dan budaya Islam yang ada di Kabupaten Lamongan.

Melalui kegiatan rutin malam Jum’at Pahing maupun pelaksanaan haul tahunan, masyarakat berharap tradisi keagamaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini dapat terus dilestarikan oleh generasi muda. Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat akan pentingnya menghormati perjuangan para ulama dan leluhur yang telah menyebarkan ajaran Islam dengan penuh kebijaksanaan.

Semangat kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap nilai-nilai agama yang tampak dalam setiap pelaksanaan kegiatan menjadi bukti bahwa warisan spiritual para pendahulu masih hidup dan terus dijaga oleh masyarakat Dusun Badu, Desa Wanar, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan.

Bagikan