Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Sebelum ada nama besar, miliaran rupiah, dan perusahaan yang dikenal jutaan orang, ada dua manusia yang terlebih dahulu memilih untuk berjalan bersama.
Pada 22 Oktober 1986, Hary Tanoesoedibjo dan Liliana Tanoesoedibjo mengikat pernikahan. Saat itu, belum ada MNC Group sebesar seperti yang dikenal sekarang. Waktu kemudian membawa keduanya melewati perjalanan panjang: membangun usaha, membesarkan keluarga, menghadapi perubahan zaman, hingga melihat anak-anak mereka tumbuh dan mengambil jalan masing-masing.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai lima anak: Angela, Valencia, Jessica, Clarissa, dan Warren.
Hary kemudian membangun MNC Group, yang berkembang ke berbagai bidang seperti media & entertainment, jasa keuangan, pariwisata & hospitality, serta energi. Bisnis keluarga ini juga mencakup berbagai perusahaan dan merek yang telah lama akrab dengan masyarakat Indonesia.
Sementara Liliana tidak hanya berada di belakang keluarga. Ia juga aktif dalam dunia bisnis, sosial, mode, kecantikan, dan kegiatan kemasyarakatan, serta memiliki peran di lingkungan MNC Group.
Kini, generasi berikutnya pun mulai mengambil bagian dalam perjalanan keluarga tersebut. Anak-anak mereka tumbuh dengan bidang dan kesibukan masing-masing, sebagian di antaranya terjun ke dunia bisnis dan ruang publik.
Dari sisi kekayaan, Forbes memperkirakan kekayaan Hary Tanoesoedibjo sekitar US$1 miliar pada 2025. Angka tersebut merupakan estimasi kekayaan bersih dan dapat berubah mengikuti nilai saham serta aset yang dimilikinya.
Tetapi menariknya, angka sebesar itu bukanlah bagian pertama dari kisah mereka.
Sebab sebelum kekayaan dihitung dalam miliaran dolar, kehidupan mereka terlebih dahulu dibangun dalam hitungan tahun.
Hampir 40 tahun bukan waktu yang singkat.
Dunia bisnis berubah. Anak-anak tumbuh dewasa. Perusahaan berkembang. Zaman berganti.
Namun satu hal tetap menjadi bagian dari perjalanan itu: dua orang yang memulai kehidupan bersama dan kemudian melewati begitu banyak babak dalam satu perjalanan keluarga.
Karena pada akhirnya, sebesar apa pun sebuah kerajaan bisnis, cerita paling manusiawi di baliknya tetaplah tentang keluarga dan waktu yang mereka lalui bersama.








