Dari Tari Remo hingga Doa Tolak Balak, Meruwat Indonesia dalam Panggung Lintas Generasi

Red JPN

Surabaya, jelajahpenanews . Com — Tari Remo, musik oriental, paduan suara, lagu-lagu nasional, hingga mantra berbahasa Jawa bertemu dalam satu panggung Meruwat Indonesia di area makam Pahlawan Nasional Wage Rudolf Supratman, Surabaya, Rabu (28/10/2026).

Ragam penampilan itu menghadirkan wajah kebudayaan yang tidak tunggal. Seni tradisi berdampingan dengan ekspresi musik, sementara anak-anak, pelajar, komunitas perempuan, dan seniman lintas pengalaman berbagi ruang pertunjukan.

Salah satu penampilan yang menyedot perhatian adalah tari Remo kolosal gaya Bolet oleh 40 penari dari Perguruan Seni Budaya Kampung Ilmu. Dengan konfigurasi dinamis arahan koreografer Sasmita dan Putu, para penari bergerak serempak menyajikan kekuatan tari tradisi Jawa Timur.

Bagi para penari muda itu, pertunjukan bukan sekadar memenuhi jadwal acara. Ada kebahagiaan setelah melewati latihan panjang.
“Kalau menari ditonton banyak orang, rasanya senang. Latihan yang begitu lama dan capek akhirnya bisa menyenangkan penonton,” tutur Fay seusai tampil, didampingi Mega dan Zaskia.

Kegembiraan tersebut menjadi gambaran bahwa seni tradisi dapat menjadi ruang ekspresi yang dekat dengan generasi muda, asalkan mereka memperoleh kesempatan untuk terlibat secara nyata.

Sejarah, doa, dan lagu kebangsaan

Sebelum pertunjukan seni, kegiatan diawali prosesi kirim doa di pusara WR Supratman. Anak-anak dan orang tua yang mendampingi mereka mengikuti ritual dengan doa berbahasa Jawa yang dipandu Nyai Ngatinah, 69 tahun.

Peserta kemudian melantunkan Indonesia Raya tiga stanza. Lagu karya WR Supratman itu pertama kali diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II di Batavia pada 28 Oktober 1928.

Pemilihan lokasi dan tanggal tersebut mempertemukan peringatan sejarah dengan kegiatan kebudayaan. Di makam pencipta lagu kebangsaan, peserta tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga mengambil bagian dalam ekspresi bersama melalui doa dan nyanyian.

Suasana lintas generasi berlanjut lewat penampilan duet musik W Sibling dengan sajian oriental, paduan suara SMK Muhammadiyah Kapasan Surabaya, serta komunitas ibu-ibu berkebaya yang menyanyikan lagu-lagu nasional.

Setiap kelompok membawa bentuk ekspresi berbeda. Namun, semuanya bertemu dalam satu gagasan: kebudayaan perlu diberi ruang untuk hidup dan berkembang melalui keterlibatan masyarakat.

Doa Tolak Balak sebagai penutup

Panggung pamungkas menghadirkan Teater Mantra dengan repertoar Doa Tolak Balak. Nyai Ngatinah tampil sebagai aktris tunggal, diiringi biola Hery Jolotundo.

Dengan kostum menyerupai resi pertapa, Ngatinah melantunkan mantra secara ekspresif. Pengalamannya bermain ludruk, ketoprak, dan terlibat dalam sejumlah produksi film turut membentuk kemampuannya menghidupkan adegan.

Salah satu larik yang dibawakannya berbunyi, “Sengkala saking wetan sing nolak Sang Hyang Maha Dewa, sengkala balik mangetan Raja Iman Slamet.”

Mantra tersebut berlanjut menyebut arah selatan, barat, utara, tengah, hingga atas. Salah satu larik lainnya menyebut, “Sengkala saking tengah, sing nulak Sang Hyang Betara Bayu, sengkala lebur dadi awu.”

Dalam pemaknaan simbolis, Doa Tolak Balak merupakan permohonan agar malapetaka ditolak atau dilebur. Kehadirannya dalam Meruwat Indonesia memberi dimensi spiritual dan budaya pada kegiatan yang juga mengangkat sejarah kebangsaan.

Merawat tradisi perlu generasi penerus

Ketua pelaksana Meruwat Indonesia dari komunitas KPIR (Kami Pecinta Indonesia Raya), Rokimdakas, menilai pertemuan berbagai kelompok dan generasi merupakan bagian penting dari tujuan acara.

“Dengan adanya lintas generasi seperti itu, harapan kami dari event ini bisa menanamkan memori kebudayaan di kalangan anak-anak. Di masa mendatang, mereka itulah yang kemungkinan besar akan merawat dan mengembangkan kekayaan budaya. Tanpa menyiapkan generasi pendukung, masa depan seni budaya kita akan menghadapi persoalan serius,” katanya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa keberlanjutan kebudayaan tidak cukup hanya mengandalkan pertunjukan sesekali atau penghormatan seremonial.

Seni tradisi membutuhkan pelaku baru, ruang belajar, kesempatan tampil, dan masyarakat yang bersedia mendukungnya.

Melalui tari Remo, musik, nyanyian kebangsaan, serta Teater Mantra, Meruwat Indonesia mencoba mempertemukan warisan masa lalu dengan pengalaman generasi masa kini.

Pada akhirnya, merawat kebudayaan bukan hanya menjaga bentuk kesenian agar tetap dikenal. Lebih dari itu, diperlukan kesempatan agar anak-anak dan generasi muda merasa menjadi bagian dari kebudayaan tersebut—bukan sekadar penonton, melainkan penerus yang kelak ikut menentukan masa depannya. (**)

Bagikan