Benar-benar Goblok, Hasil Korupsi di BGN Dibelikan Pesawat dan Helikopoter

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Kalian silakan marah, ngamuk. Gerombolan H Dadan, tikus got gorong-gorong dari BGN, korupsinya sudah di luar nalar. Hasil korupsi ada dibelikan pesawat dan helikopter. Belum lagi barang mewah lainnya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ini bukan berita. Ini pengkhianatan tingkat dewa! Nuan bayangkan, uang pajak yang diperas dari keringat rakyat digilas habis-habisan oleh gerombolan di Badan Gizi Nasional era H. Dadan Hindayana. Program MBG yang katanya untuk menyelamatkan anak-anak bangsa, ternyata jadi mesin pencetak jet pribadi dan helikopter mewah.

Telah disita satu unit pesawat Textron Aviation. Satu unit helikopter Bell 505. Ditambah Lexus LM500 tahun 2025, dua BYD, satu Dolphin, satu Hino. Uang tunai hampir Rp25 miliar disita Kejagung. Apa ini program gizi atau program gaya hidup sultan korup?!

Rp1,2 triliun anggaran kendaraan operasional MBG. Target awal 25.644 unit, direvisi jadi 21.000. Realisasi? Cuma 2.117 unit! Tapi dilapor seolah-olah sudah 21.800 unit selesai. Apa ini sihir? Atau sekadar tipuan murahan yang biasa dipakai pengkhianat untuk mengeruk uang negara sambil tersenyum di podium?

Lima tersangka sudah digelandang: Kolonel Budi Utomo alias BU dari TNI yang jadi PPK, plus empat cukong swasta AM, YY, AA, YB. Mereka diduga atur pemenang, atur spesifikasi, atur harga. PT YAT menang tender seharga istana. Sementara anak-anak di pelosok masih makan nasi garam.

Ini bukan sekadar korupsi. Ini penghinaan terhadap setiap rupiah dipotong dari gaji buruh, dari omzet pedagang kecil, dari pajak restoran yang dibayar ibu-ibu. Uang itu seharusnya jadi telur, susu, sayur, buah untuk anak-anak. Bukan jadi sayap pesawat siap terbang ke surga para pejabat.

Bukan jadi rotor helikopter berputar di atas penderitaan rakyat. Dadan dan gerombolannya layak disebut pengkhianat bangsa. Mereka bukan pejabat. Mereka adalah parasit menghisap darah sendiri dari tubuh negara.

Kejagung sudah menyita. Sudah menggeledah. Sudah menahan. Tapi itu belum cukup. Rakyat harus marah sampai tulang belulang. Harus berteriak sampai langit retak. Karena kalau kasus Rp1,2 triliun ini hanya jadi tontonan televisi dan kemudian dilupakan, besok akan ada yang lebih gila lagi. Besok mungkin mereka beli kapal selam dengan uang gizi. Atau satelit pribadi. Atau pulau pribadi di mana anak-anak miskin tidak boleh masuk.

Ini cermin. Cermin memantulkan wajah para pengkhianat berani memakai seragam pejabat sambil menghitung hasil jarahan. Mereka bilang “demi rakyat”. Tapi rakyat yang mana? Rakyat yang pesawatnya? Rakyat yang helikopternya? Atau rakyat yang anaknya masih stunting karena anggaran digondol?

Biarkan emosi ini membara. Biarkan amarah ini jadi api. Karena jika rakyat diam, pengkhianat akan terus menari di atas piring kosong anak-anak Indonesia. Cukup! Hentikan pesta korupsi di BGN. Gantung mereka di tiang keadilan sampai uang rakyat kembali utuh. Sampai pesawat dan helikopter itu dijual, hasilnya dikembalikan ke dapur-dapur rakyat. Karena ini bukan lagi soal hukum. Ini soal harga diri bangsa yang digadaikan seharga satu unit Textron Aviation.

“Memang sudah tidak waras mereka. Cuma, mereka tidak dimiskinkan. Hanya dipenjara, paling tinggi lima tahun. Rasanya percuma. Kalau pun nanti masuk Lapas, apalagi di Cibinong, rasanya sia-sia kita memaki mereka, Bang.”

“Sepakat, wak. Mereka dipenjara seperti liburan saja. Setelah keluar, mereka tetap tajir melintir. Kadang malah dijadikan pengurus parpol, dikasih jabatan. Inilah negeri kita, negeri MBG, wak!” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Bagikan