Analisis Partai Koptagul, Amerika Bertekuk Lutut pada Iran

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. COM – Tulisan ini agak panjang. Skip saja bagi yang tak suka baca. Ini hasil analisis dari berbagai sumber terpercaya dunia terkait damai Iran dan Amerika.

Setelah hancur-hancuran, saling bom, jumlah korban jiwa yang udah malas ngitungnya, Amerika dan Iran sepakat berdamai. Mungkin sekarang sudah pada ngopi. Apalagi para tentara, mungkin lagi nonton Piala Dunia. Muncul pertanyaan, siapa yang menang, siapa yang kalah? Kesimpulan Partai Koptagul, Paman Usman, eh salah, Paman Sam-lah yang bertekuk lutut. Iran menang. Berikut analisisnya dan ada baiknya baca sambil seruput Koptagul, wak!

Pada 19 Juni, dunia dikejutkan oleh pengumuman nota kesepahaman damai antara Amerika Serikat dan Iran. Dari podium di Washington, kesepakatan itu dijual sebagai kemenangan diplomasi luar biasa. Amerika mengklaim berhasil mencegah ancaman nuklir Iran sekaligus mengembalikan stabilitas energi dunia. Kedengarannya megah. Musik latarnya seolah-olah cocok untuk film Hollywood dengan bendera Amerika berkibar di akhir cerita.

Masalahnya, ketika para analis geopolitik mulai membedah isi kesepakatan dan hasil perang selama 109 hari terakhir, muncul kesimpulan yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Ini tidak terlihat seperti kemenangan Amerika. Ini lebih mirip seseorang yang datang ke arena dengan niat meng-KO lawan, tetapi pulang sambil bersyukur masih memakai kolor.

Selama lebih dari tiga bulan konflik, Amerika mengerahkan kekuatan militernya luar biasa. Fasilitas Iran dihantam. Infrastruktur rusak. Program-program strategis Iran menjadi sasaran serangan. Namun ketika perang mendekati garis akhir, Iran ternyata masih berdiri tegak. Rezimnya tidak runtuh. Program rudalnya tidak dilucuti. Bahkan posisi strategisnya justru terlihat semakin kuat.

Di sinilah muncul tokoh utama yang sebenarnya dalam perang ini. Bukan pesawat siluman. Bukan rudal hipersonik. Bukan kapal induk. Tokoh utama itu bernama Selat Hormuz.

Jalur laut sempit ini adalah urat nadi energi dunia. Sebagian besar pasokan minyak global melewati wilayah tersebut. Iran berada tepat di dekat kerongkongan ekonomi dunia itu. Jika selat tersebut terganggu, harga minyak bisa melonjak seperti roket yang baru menemukan bahan bakar haram.

Robert Kagan dari Brookings Institution menggambarkan, situasi ini sebagai “bencana” bagi negeri Trump. Kagan bukan orang sembarangan. Ia adalah salah satu arsitek intelektual kubu neokonservatif yang selama bertahun-tahun mendukung dominasi Amerika di Timur Tengah. Namun kini ia mengakui sesuatu yang pahit. Menurutnya, Iran menguasai akses menuju Selat Hormuz. Itu berarti menguasai akses terhadap sebagian besar pasokan energi dunia. Ia mengatakan, keadaan ini telah membalik keseimbangan kekuasaan kawasan dan dunia. Kalau ini bukan skakmat, kata Kagan, maka posisinya sudah sangat dekat dengan skakmat.

Nuan bayangkan ironi yang terjadi. Orang dulu mendukung berbagai intervensi militer Amerika kini terdengar seperti komentator sepak bola yang baru menyadari tim jagoannya tertinggal tiga gol di menit ke-90.

David French dari The New York Times juga memberikan analisis yang tidak kalah pedas. Ia menyebut Selat Hormuz sebagai “Trump Card” Iran yang sesungguhnya. Menurut French, Amerika mungkin mampu menghancurkan berbagai target militer Iran, tetapi tidak mampu menghapus kenyataan, Iran tetap bisa mengancam jalur energi dunia kapan saja. Jika perang berakhir dan Iran masih memiliki kemampuan menutup Hormuz, maka Iran justru keluar dengan daya gentar yang lebih besar dari sebelum perang dimulai.

Dengan kata lain, Iran belajar, mengguncang ekonomi dunia ternyata jauh lebih efektif dari mencoba menandingi armada militer Amerika secara langsung. Ini seperti menyadari, untuk mengalahkan petinju kelas berat, tidak perlu memukul wajahnya. Cukup matikan listrik stadion dan semua orang akan panik.

Analisis serupa datang dari Nate Swanson, mantan Direktur Iran di Dewan Keamanan Nasional AS. Ia menyebut kemampuan menutup Selat Hormuz sebagai kartu truf baru Iran. Swanson mengkritik keras pemerintahan Trump yang dinilai meremehkan daya tahan Iran dan memulai konflik tanpa strategi yang benar-benar matang.

Yang lebih menarik lagi, laporan intelijen Amerika yang bocor ke CNN disebut mengakui, perang ini justru memberikan Iran kendali de facto atas Selat Hormuz. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Bagi sebagian analis, itu berarti Amerika tanpa sadar membantu menciptakan senjata ekonomi paling menakutkan yang pernah dimiliki Iran.

Karena itulah isi kesepakatan damai menjadi sangat menarik. Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz secara gratis selama 60 hari. Sebagai gantinya, Amerika mencabut blokade maritim, melonggarkan sanksi, membuka akses bantuan rekonstruksi, dan kembali ke meja perundingan. Banyak analis melihat pertukaran ini sangat tidak seimbang. Amerika yang awalnya ingin melumpuhkan Iran, pada akhirnya hanya mendapatkan janji pembicaraan lanjutan mengenai isu nuklir. Sebaliknya Iran mendapatkan apa yang paling dibutuhkannya, ruang bernapas secara ekonomi dan pengakuan terhadap posisi strategisnya.

Paul Hare, mantan duta besar Inggris, mengatakan Iran kini memiliki opsi permanen untuk menekan dunia melalui Selat Hormuz. Sementara Daniel Green dari University of Delaware berpendapat, bagi Iran, memiliki “senjata Selat” mungkin jauh lebih berguna dari memiliki program nuklir mahal dan terus menjadi sasaran tekanan internasional.

Lalu tibalah bagian yang paling lucu sekaligus paling ironis dalam seluruh kisah ini, Donald Trump sendiri. Preman kelas dunia, bos.

Sebelum perang, Trump berkali-kali berbicara tentang “Unconditional Surrender”. Iran harus menyerah tanpa syarat. Iran harus tunduk. Iran harus dilucuti. Narasinya sangat heroik. Kalau dijadikan trailer film, penonton pasti berdiri dan tepuk tangan.

Namun setelah 109 hari konflik, kenyataannya jauh berbeda. Iran tidak menyerah tanpa syarat. Rezimnya tidak runtuh. Program rudalnya tidak hilang. Bahkan, si rambut jagung itu kini terdengar jauh lebih lunak. Ia mulai berbicara, Iran seharusnya boleh memiliki rudal balistik jika negara lain juga memilikinya. Ia juga mulai membuka ruang pembicaraan mengenai pengayaan uranium tingkat rendah. Ungkapan Trump ini konon membuat Israel marah besar. Info terkini, Trump malah berkonflik dengan Netanyahu, bukan lagi dengan Iran.

Ini bukan putar balik biasa. Ini putar balik yang begitu tajam sampai kompas geopolitik ikut pusing.

Menurut berbagai laporan yang beredar, kesepakatan tersebut juga berpotensi membuka akses Iran terhadap aset yang selama ini dibekukan, nilainya diperkirakan mencapai 124 hingga 167 miliar dolar. Ditambah lagi peluang ekspor minyak legal sekitar 2 juta barel per hari dan dana rekonstruksi yang disebut bisa mencapai 300 miliar dolar.

Jika angka-angka itu benar-benar terwujud, perang yang dimaksudkan untuk melemahkan Iran justru berakhir dengan masuknya arus dana raksasa ke Teheran. Sementara China dan Rusia duduk santai di pinggir lapangan seperti penonton VIP yang tidak membeli tiket tetapi tetap mendapat kursi terbaik.

Pada akhirnya, perang ini mungkin akan dikenang sebagai salah satu ironi terbesar abad ke-21. Amerika datang dengan kapal induk, jet tempur, rudal, dan kekuatan militer terbesar di muka bumi. Iran datang dengan ketahanan, kesabaran, dan sebuah selat sempit yang tidak bisa dipindahkan ke mana-mana.

Ketika debu perang mulai mengendap, dunia mendadak menyadari sesuatu yang membuat banyak orang terdiam. Ternyata bom paling menakutkan bukan yang meledak di langit, melainkan yang menggantung di pasar energi dunia. Dalam permainan itu, Iran tampaknya berhasil membuat negara adidaya duduk di meja perundingan sambil menelan banyak kata-katanya sendiri.

“Bang, lalu bagaimana dengan negara kita, apakah nanti Pertamax akan turun, karena Selat Hormuz sudah dibuka.”

“Sekali lagi saya bilang, di negeri ini barang yang sudah naik harga sulit turunnya. Tanya aja om Bahlil ganteng, pasti dijawabnya, benar pace.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Bagikan