Mengapa Jenazah Ali Khamenei Empat Bulan Lebih Baru Dimakamkan?

Red JPN

Iran. Jelajahpenanews. COM – Kalau di Indonesia ada tetangga meninggal pukul 08.00 pagi, biasanya pukul 14.00 siang liang lahat sudah siap, tenda sudah berdiri, dan bapak-bapak kompleks sudah mulai membahas harga cabai sambil menunggu prosesi selesai. Namun di Iran tahun 2026, terjadi sesuatu yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi sampai hampir membentuk huruf Arab.

Ali Khamenei wafat pada 28 Februari 2026 akibat serangan gabungan AS-Israel. Tetapi pemakamannya baru dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli 2026. Empat bulan lebih. Empat bulan!

Itu bukan jeda pemakaman biasa. Itu sudah seperti masa tunggu proyek stadion, masa kampanye pilkada, atau waktu yang dibutuhkan sebagian pejabat untuk mengingat kembali janji-janjinya saat pemilu.

Muncullah pertanyaan yang beterbangan lebih cepat dari drone pengintai. Bukankah Islam mengajarkan agar jenazah segera dimakamkan? Bukankah baik Sunni maupun Syiah sama-sama menganjurkan penguburan secepat mungkin? Apakah ini tradisi khusus Syiah?

Jawabannya, tidak.

Justru kasus ini mengajarkan sesuatu yang jarang diketahui banyak orang. Dalam Islam memang ada anjuran menyegerakan pemakaman. Namun ada juga prinsip yang namanya darurat dan kemaslahatan yang lebih besar. Ketika keadaan berubah menjadi luar biasa, hukum praktisnya pun bisa ikut menyesuaikan.

Keadaan Iran saat itu memang tidak sedang normal. Iran saat itu bukan negara yang sedang bersantai menikmati kebab sambil menonton pertandingan sepak bola. Negara itu sedang berada di tengah situasi perang terbuka yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Nuan bayangkan begini. Kalau pemakaman biasa dihadiri 100 orang, maka pemakaman Ali Khamenei diperkirakan bisa dihadiri jutaan manusia. Bahkan sejumlah perkiraan menyebut jumlah pelayat dapat mencapai 20 juta orang.

Dua puluh juta. Itu bukan lagi kerumunan. Itu sudah seperti seluruh penduduk sebuah negara sedang pindah rumah secara bersamaan. Mekah musim haji saja hanya empat juta. Ini sampai 20 juta. “Yak..bayak..” kata urang Sambas.

Masalahnya, jutaan manusia yang berkumpul dalam satu lokasi ketika perang masih berlangsung adalah target yang sangat menggoda bagi pihak musuh. Menggelar pemakaman saat itu sama seperti memasang papan reklame raksasa bertuliskan, “Perhatian! Tokoh paling penting Iran sedang dihormati di sini. Silakan lihat koordinat GPS berikut.”

Karena itulah faktor keamanan menjadi alasan terbesar penundaan. Iran juga masih menyimpan trauma mengerikan dari pemakaman Jenderal Qasem Soleimani tahun 2020. Saat itu jutaan orang memadati jalanan. Suasananya begitu padat hingga terjadi desak-desakan yang menewaskan 56 orang.

Alih-alih mengantar satu jenazah, puluhan jenazah tambahan justru ikut muncul. Pengalaman pahit itu menjadi pelajaran mahal. Pemerintah Iran tidak ingin tragedi yang sama terulang dalam skala yang lebih besar.

Lalu ada faktor kedua yang sering luput dari perhatian dunia luar, Muharram. Bagi banyak Muslim Sunni, Muharram mungkin dikenal sebagai tahun baru Islam. Namun bagi komunitas Syiah, Muharram memiliki makna emosional yang jauh lebih dalam. Ini adalah bulan berkabung mengenang gugurnya Imam Husein dalam Tragedi Karbala tahun 680 M.

Kalau dunia sepak bola punya final Piala Dunia, maka dalam memori spiritual Syiah, Asyura adalah peristiwa yang dampaknya jauh lebih besar dari sekadar pertandingan. Ini adalah tragedi yang membentuk identitas sejarah mereka selama lebih dari 1.300 tahun.

Karena itu pemerintah Iran menjelaskan, pemakaman sengaja diundur agar tidak mengganggu sepuluh hari pertama Muharram dan peringatan Asyura yang jatuh sekitar 25–26 Juni 2026. Dengan kata lain, wafatnya pemimpin tertinggi negara tidak menggeser posisi Karbala dalam kalender spiritual Syiah.

Lalu muncullah faktor ketiga. Politik. Nah, inilah bumbu yang membuat masakan Timur Tengah selalu lebih pedas dari sambal level lima.

Sejumlah analis Barat, termasuk Behnam Taleblu dari Foundation for Defense of Democracies, menilai pemerintah Iran memiliki kekhawatiran tersendiri. Sebelum perang, ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi dan sosial masih cukup tinggi.

Mengumpulkan jutaan orang dalam satu tempat selalu mengandung risiko. Pemerintah berharap acara berubah menjadi penghormatan. Tetapi tidak ada jaminan sebagian massa tidak mengubahnya menjadi panggung protes.

Selain itu, muncul pula spekulasi mengenai Mojtaba Khamenei, putra almarhum yang kemudian menjadi Pemimpin Tertinggi baru. Mojtaba dilaporkan ikut terluka dalam serangan yang sama. Kehadirannya dianggap penting untuk menunjukkan bahwa proses suksesi berjalan mulus dan negara tetap stabil.

So, ketika banyak orang bertanya mengapa pemakaman Ali Khamenei baru dilakukan empat bulan kemudian, jawabannya ternyata jauh lebih rumit dari sekadar urusan penguburan. Ada perang. Ada ancaman serangan. Ada trauma tragedi Soleimani. Ada penghormatan terhadap Muharram dan Asyura. Ada pula pertimbangan politik serta stabilitas kekuasaan.

Karena itulah pemakaman yang akhirnya dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli 2026 bukan sekadar acara pemakaman. Itu lebih mirip operasi nasional raksasa yang menggabungkan keamanan, agama, sejarah, diplomasi, dan politik dalam satu panggung megah.

Di Timur Tengah, perjalanan terakhir menuju liang lahat kadang bisa lebih rumit dari proses memilih presiden, membentuk kabinet, dan menyusun anggaran negara sekaligus.

“Luar biasa ya, Bang. Semoga lancar dan aman pemakamannya nanti.”

“Aamin. Sebanyak 20 juta, itu lautan manusia. Semoga ada live-nya kita nonton sambil seruput Koptagul, wak.”

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Bagikan