Oleh: M Isa Ansori
Surabaya. Jelajahpenanews. Com – Kadang saya merasa, untuk memahami sebuah kampung, kita tidak cukup hanya datang, melihat, lalu pulang membawa catatan. Kita perlu duduk lebih lama dan mendengarkan cerita orang-orang yang setiap hari hidup di dalamnya. Dari sana sering kali muncul sesuatu yang tidak tertulis dalam laporan, tetapi justru penting untuk memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan warga.
Saya beberapa kali mengalami itu ketika bertandang ke kawasan hulu Kali Tebu, Tambak Wedi, Kenjeran. Karib saya, Nur Syamsi, mula-mula mengajak saya berdiskusi dengan beberapa nelayan di sana. Dari pertemuan sederhana itu, perlahan saya mengenal mereka bukan sekadar sebagai nelayan, tetapi sebagai kawan, bahkan seperti keluarga.
Tidak ada acara resmi. Tidak ada meja rapat. Kami hanya jagongan, seperti kebiasaan warga ketika melepas lelah. Biasanya malam hari, setelah para nelayan pulang melaut. Kami menikmati ikan hasil tangkapan yang dimasak sederhana, sering dengan bumbu kuning, ditemani angin laut yang kadang keras, kadang hanya sepoi-sepoi. Percakapan mengalir tanpa agenda.
Mas Arief dan kawan-kawan nelayan sering menghubungi saya dan Nur Syamsi untuk sekadar jagongan. Dari obrolan semacam itu muncul banyak gagasan yang liar, tetapi menarik: bagaimana memberdayakan nelayan, bagaimana menata kawasan hilir Kali Tebu dan Pantai Kenjeran sebagai kawasan wisata pesisir, bahkan gagasan Mancing Nusantara di Tambak Wedi, yang mempertemukan para pemancing dari berbagai daerah untuk berburu jenis ikan tertentu.
Di situ saya semakin percaya bahwa masyarakat sebenarnya tidak pernah miskin gagasan. Yang sering kali kurang adalah ruang untuk mendengarkan gagasan mereka.
Bagi saya, itulah makna partisipasi masyarakat yang sesungguhnya. Bukan warga dikumpulkan untuk mendengarkan program yang sudah jadi, tetapi warga diajak menjadi bagian dari proses sejak gagasan itu lahir.
Nelayan tidak perlu diajari bagaimana menangkap ikan. Mereka lebih tahu lautnya. Mereka tahu membaca angin, gelombang, musim dan jenis tangkapan. Yang mungkin perlu dilakukan pemerintah adalah membantu sesuatu yang belum bisa mereka lakukan sendiri: teknologi, modal, pengolahan, legalitas, kemasan, pemasaran dan membuka akses pasar.
Dari sinilah saya menemukan satu hal sederhana yang selama ini mungkin luput dari perhatian: ikan yang mereka buang.
Jumlah nelayan aktif di kawasan Tambak Wedi dan Kenjeran, menurut cerita mereka, sekitar 90 orang. Sekali melaut, rata-rata hasil tangkapan sekitar 10 kilogram. Dari jumlah itu, kira-kira 2 kilogram per nelayan bisa menjadi ikan yang tidak dimanfaatkan atau dibuang.
Kalau hitungan sederhana ini kita gunakan, 90 nelayan dikalikan 2 kilogram berarti sekitar 180 kilogram ikan per hari. Dalam sebulan, jumlahnya bisa mencapai sekitar 5,4 ton.
Ini bukan data statistik resmi. Ini hanya perkiraan sederhana berdasarkan cerita para nelayan. Tetapi justru dari angka sederhana itu kita bisa melihat sebuah peluang.
Jika ikan yang selama ini dianggap tidak bernilai itu dihargai, misalnya, Rp1.000 per kilogram, maka ada potensi sekitar Rp5,4 juta dalam sebulan. Nilainya memang belum besar. Tetapi persoalannya bukan semata-mata uang. Persoalannya adalah mengubah sesuatu yang dianggap sampah menjadi nilai.
Ikan tersebut bisa diolah menjadi terasi, petis atau produk pangan lainnya. Dari sana muncul rantai ekonomi baru. Nelayan mendapatkan nilai tambahan dari hasil tangkapannya. Perempuan di kampung dapat terlibat dalam pengolahan. Anak-anak muda bisa mengurus desain, merek dan pemasaran digital. UMKM tumbuh. Wisatawan memiliki oleh-oleh khas. Dan kampung memiliki identitas ekonominya sendiri.
Satu ikan yang tadinya dibuang dapat menghidupi lebih dari satu tangan.
Di titik ini saya teringat masa kecil. Dulu ketika diajak orang tua ke Pantai Kenjeran, rasanya belum lengkap kalau pulang tanpa membawa oleh-oleh. Ada kerajinan kulit kerang, ikan asin, dan berbagai hasil laut. Sekarang saya justru sering bertanya: apa yang benar-benar menjadi produk khas Kenjeran yang dibuat oleh masyarakat dan nelayannya sendiri?
Ada ironi lain yang lebih menarik.
Terasi dan petis sangat dekat dengan kuliner Surabaya. Sambal, rujak, lontong, kerupuk dan berbagai makanan kita tidak asing dengan dua bahan tersebut. Tetapi ketika mencari terasi atau petis sebagai produk khas Surabaya, kita justru sering menemukan label produksi dari Tuban, Sidoarjo, Madura dan daerah sekitarnya.
Tidak ada yang salah dengan produk-produk tersebut. Justru mereka membuktikan bahwa hasil laut bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Pertanyaannya, mengapa Surabaya yang memiliki garis pantai, nelayan, hasil tangkapan laut dan pasar wisata yang besar belum memiliki terasi dan petis yang kuat sebagai produk khas yang lahir dari nelayan Surabaya sendiri?
Di sinilah peluang Tambak Wedi dan Kenjeran.
Gagasan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Saya pernah membicarakannya dengan Pak Sekda Lilik, Kepala Dinas Koperasi, juga dengan Bu Erna ketika masih menjadi Asisten I Pemerintah Kota. Sekarang gagasan ini terasa semakin relevan ketika ekonomi sirkular menjadi bagian dari pembicaraan pembangunan kota.
Ekonomi sirkular jangan berhenti sebagai istilah dalam dokumen. Ia harus terasa di kampung.
Pemerintah tidak perlu mengambil alih. Nelayan tetap melaut. Warga mengolah. Anak muda memasarkan. Pelaku usaha membuka jaringan pasar. Pemerintah memfasilitasi teknologi, legalitas, pembiayaan, pendampingan, promosi dan akses pasar.
Bayangkan suatu hari wisatawan datang ke Kenjeran, bukan hanya melihat laut, tetapi pulang membawa “Terasi Kenjeran” atau “Petis Tambak Wedi” sebagai buah tangan. Bukan sekadar produk UMKM, tetapi cerita tentang nelayan, kampung, laut dan Surabaya.
Barangkali yang terlupakan dari limbah ikan Tambak Wedi bukan ikannya, tetapi nilai kehidupan yang ada di baliknya.
Dan mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat ikan yang dibuang sebagai limbah. Sebab di tangan warga yang diberi ruang, teknologi dan kesempatan, sesuatu yang hari ini dianggap tidak bernilai bisa menjadi pekerjaan, penghasilan, kebanggaan dan identitas sebuah kota.
Surabaya tidak kekurangan laut. Tidak kekurangan nelayan. Tidak kekurangan pasar. Yang mungkin masih kurang adalah keberanian untuk melihat potensi yang selama ini ada di depan mata.
Surabaya, 5 Oktober 2026
M. Isa Ansori
Kolumnis, Pengajar dan praktisi transaksional analisis, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim








