Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Ada kisah cinta yang tumbuh di tengah kesederhanaan. Ada pula kisah rumah tangga yang kemudian ikut terseret ke dalam pusaran sejarah sebuah bangsa.
Begitulah perjalanan Soeharto dan Siti Hartinah, atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Tien Soeharto.
Keduanya menikah pada 26 Desember 1947 di Solo. Saat itu Soeharto berusia 26 tahun dan Siti Hartinah 24 tahun. Pernikahan mereka berlangsung sederhana, bahkan resepsinya diterangi lampu lilin. Mereka tidak melalui masa pacaran panjang seperti pasangan pada umumnya. Pernikahan justru menjadi awal dari perjalanan hidup yang panjang, ketika Indonesia masih berada dalam suasana revolusi dan Soeharto masih seorang perwira muda.
Beberapa hari setelah menikah, Siti Hartinah mengikuti suaminya ke Yogyakarta. Kehidupan mereka pada masa awal jauh dari kemewahan. Soeharto kerap meninggalkan rumah karena tugas militer, sementara Tien menjalani kehidupan sebagai istri seorang perwira yang harus siap menghadapi ketidakpastian.
Bahkan ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung pada Desember 1948, Tien sedang mengandung anak pertama mereka. Dalam keadaan perang dan penuh keterbatasan, ia akhirnya melahirkan Siti Hardiyanti Hastuti, yang kemudian dikenal sebagai Tutut, pada Januari 1949. Soeharto saat itu masih menjalankan tugas militernya dan tidak dapat segera berada di sisi istrinya.
Dari pernikahan tersebut kemudian lahir enam anak: Tutut, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Titiek Soeharto, Tommy Soeharto, dan Mamiek Soeharto.
Waktu mengubah kehidupan keluarga itu secara drastis.
Soeharto yang dahulu seorang perwira muda perlahan menapaki jenjang kekuasaan. Setelah pergolakan politik 1965, ia menjadi tokoh militer paling kuat dan kemudian tampil sebagai Presiden Republik Indonesia. Sejak saat itulah kehidupan keluarga mereka berubah dari rumah tangga seorang perwira menjadi keluarga yang berada di pusat kekuasaan negara.
Ibu Tien pun bukan lagi sekadar istri seorang tentara. Ia menjadi Ibu Negara selama puluhan tahun.
Di mata publik, ia dikenal dengan penampilan yang tenang, pakaian kebaya, kegiatan sosial, perhatian terhadap budaya, dan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kenegaraan. Salah satu warisan yang paling lekat dengan namanya adalah Taman Mini Indonesia Indah, yang kemudian menjadi salah satu simbol kebudayaan pada era Orde Baru.
Namun di balik citra keluarga yang teratur itu, ada sisi lain yang semakin lama semakin menjadi perhatian publik.
Ketika keluarga mulai menjadi bagian dari kekuasaan
Seiring menguatnya posisi Soeharto, anak-anaknya juga tumbuh menjadi pelaku bisnis dengan jaringan yang luas.
Berbagai perusahaan yang terkait dengan keluarga memperoleh kesempatan di sektor-sektor strategis, mulai dari perdagangan komoditas, jalan tol, minyak, telekomunikasi, media, otomotif hingga perbankan.
World Bank kemudian mencatat bahwa periode Orde Baru ditandai oleh persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta hubungan erat antara kelompok bisnis dan kekuasaan politik.
Majalah TIME pada 1999 bahkan melakukan investigasi besar mengenai kekayaan keluarga Soeharto. Laporan tersebut memperkirakan bahwa keluarga Soeharto menguasai kepentingan bisnis di ratusan perusahaan dan mengaitkan pertumbuhan kekayaan keluarga dengan jaringan patronase politik serta monopoli dan konsesi bisnis. Angka-angka dalam laporan tersebut merupakan hasil investigasi TIME dan menjadi bahan kontroversi; Soeharto sendiri membantah tuduhan mengenai kekayaannya.
Nama Ibu Tien pun ikut terseret dalam kontroversi tersebut.
Sejumlah laporan media pada masa itu menggunakan julukan “Madam Tien Percent” atau “Ibu Tien Sepuluh Persen”, yang mengacu pada tuduhan bahwa ia menerima persentase tertentu dari berbagai proyek bisnis. Tuduhan tersebut memang pernah diberitakan secara luas, tetapi penting dicatat bahwa julukan itu merupakan tuduhan dan laporan media, bukan putusan pengadilan yang menetapkan Ibu Tien melakukan korupsi.
Inilah salah satu sisi paling rumit dari kisah Ibu Tien.
Di satu sisi, ia dikenal sebagai ibu negara yang dekat dengan kegiatan sosial dan kebudayaan. Di sisi lain, namanya ikut muncul dalam kritik terhadap jaringan bisnis keluarga yang berkembang selama kekuasaan suaminya.
Anak-anak Cendana dan warisan kekuasaan
Keluarga Soeharto kemudian sering disebut sebagai keluarga Cendana, merujuk pada kediaman mereka di Jalan Cendana, Jakarta.
Anak-anak Soeharto bukan lagi sekadar putra-putri presiden. Mereka menjadi nama-nama besar dalam dunia bisnis.
Tutut dikenal melalui bisnis jalan tol dan media. Bambang membangun kerajaan bisnis Bimantara. Sigit terlibat dalam berbagai usaha. Titiek juga memiliki aktivitas bisnis dan sosial. Mamiek menjalankan sejumlah bisnis. Sedangkan Tommy menjadi salah satu figur keluarga yang paling kontroversial.
Kedekatan keluarga dengan kekuasaan kemudian menjadi bahan kritik utama terhadap Orde Baru. World Bank mencatat bahwa hubungan antara pemerintah dan kelompok bisnis yang memiliki kedekatan politik telah menciptakan struktur ekonomi yang sangat bergantung pada jaringan dan hubungan kekuasaan.
Dan ketika krisis ekonomi Asia menghantam Indonesia pada 1997–1998, persoalan tersebut menjadi jauh lebih besar.
Nilai rupiah jatuh. Harga-harga meningkat. Perbankan mengalami krisis. Demonstrasi mahasiswa membesar.
Kemewahan dan kekayaan keluarga penguasa yang sebelumnya menjadi simbol keberhasilan pembangunan justru berubah menjadi sasaran kemarahan publik.
Pada Mei 1998, setelah 32 tahun berkuasa, Soeharto akhirnya mengundurkan diri dari jabatan presiden.
Tommy dan perkara yang mengguncang keluarga
Beberapa tahun setelah kejatuhan Soeharto, persoalan keluarga Cendana belum berakhir.
Salah satu yang paling dramatis adalah perkara Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto.
Tommy sebelumnya telah berurusan dengan hukum dalam perkara korupsi terkait pertukaran tanah Bulog. Setelah hakim agung Syafiuddin Kartasasmita yang menangani perkara tersebut ditembak dan tewas pada 2001, Tommy kemudian diadili dan pada 2002 dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena dinyatakan bersalah mendalangi pembunuhan tersebut, selain perkara kepemilikan senjata ilegal dan pelarian dari proses hukum. Tim pembelanya membantah tuduhan tersebut.
Peristiwa itu menjadi salah satu pukulan terbesar terhadap citra keluarga Soeharto setelah Reformasi.
Nama keluarga yang selama puluhan tahun berada di puncak kekuasaan kini harus berhadapan dengan pengadilan.
Sebuah keluarga yang juga harus menghadapi kematian
Namun sebelum badai politik terbesar datang, keluarga ini lebih dahulu mengalami kehilangan.
Ibu Tien meninggal dunia pada 28 April 1996.
Kepergiannya terjadi ketika Soeharto masih menjadi presiden. Selama hampir lima dekade pernikahan, Tien telah menjadi orang yang mendampingi Soeharto sejak masa perjuangan sebagai perwira muda hingga berada di Istana Negara.
Setelah kematiannya, Soeharto kehilangan pasangan yang telah bersamanya sejak usia muda.
Dua tahun kemudian, Soeharto sendiri kehilangan kekuasaan.
Pada titik itu, kehidupan keluarga mereka seolah memasuki babak yang sama sekali berbeda.
Dari Istana menuju pengadilan dan kontroversi
Setelah Soeharto lengser, pertanyaan mengenai kekayaan keluarga semakin keras.
World Bank memperkirakan keuntungan pribadi Soeharto selama masa Orde Baru berada dalam kisaran US$15–35 miliar, sementara berbagai laporan investigatif memberikan angka yang berbeda mengenai kekayaan keluarga. Angka-angka tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai satu angka pasti karena metodologi dan cakupan perhitungannya berbeda.
Berbagai yayasan yang berhubungan dengan Soeharto juga menjadi objek pemeriksaan. Salah satu laporan TIME menyebut adanya temuan mengenai penggunaan dana yayasan untuk pinjaman kepada perusahaan yang terkait dengan keluarga dan kroni. Temuan dan tuduhan tersebut menjadi bagian dari perdebatan panjang mengenai bagaimana kekuasaan politik dan kepentingan bisnis berkelindan pada masa Orde Baru.
Karena itu, warisan keluarga Soeharto tidak pernah menjadi cerita hitam-putih.
Ada pembangunan ekonomi dan stabilitas politik yang oleh pendukung Orde Baru dianggap sebagai pencapaian penting.
Namun ada pula kritik serius mengenai korupsi, kolusi, nepotisme, konsentrasi kekuasaan, pembatasan politik, serta hubungan antara kekuasaan negara dan kepentingan bisnis keluarga.
Dua sisi tersebut merupakan bagian dari sejarah yang sama.
Cinta yang bertahan, keluarga yang berubah
Jika seluruh kontroversi politik dan ekonomi itu disingkirkan sejenak, tersisa kisah dua manusia yang menikah ketika Indonesia masih berada dalam masa perjuangan.
Soeharto dan Tien memulai rumah tangga ketika mereka masih muda.
Mereka melewati masa perang, berpindah-pindah tempat, membesarkan enam anak, memasuki kehidupan Istana, menikmati masa kejayaan, kemudian menyaksikan keluarga mereka berada di tengah badai politik yang akhirnya mengakhiri kekuasaan Soeharto.
Ibu Tien tidak sempat menyaksikan kejatuhan suaminya.
Ia meninggal pada 1996, dua tahun sebelum Soeharto meninggalkan Istana.
Karena itu, ia tidak pernah mengalami secara langsung salah satu babak paling pahit dalam sejarah keluarga Cendana: ketika nama yang selama puluhan tahun identik dengan kekuasaan justru menjadi simbol dari pertanyaan besar tentang hubungan antara keluarga, kekayaan, dan kekuasaan.
Pada akhirnya, foto lama Soeharto dan Ibu Tien bukan hanya menyimpan kenangan tentang sebuah pasangan.
Di dalamnya terdapat perjalanan hampir setengah abad—tentang cinta, keluarga, perjuangan, kemewahan, kehilangan, kekuasaan, kontroversi, dan perubahan zaman.
Dari rumah sederhana seorang perwira muda hingga Istana Negara. Dari keluarga yang tampak begitu kokoh hingga menghadapi badai sejarah.
Kisah Soeharto dan Ibu Tien pada akhirnya bukan hanya kisah cinta dua orang.
Ia adalah kisah sebuah keluarga yang kehidupannya berjalan beriringan dengan perjalanan panjang Indonesia.








