Bismillahir Rahmanir Rahiem
Bogor, jelajahpenanews. Com – Pagi ini Rabu 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang memberikan kesadaran sejarah kebangsaan (nasionalisme) Indonesia, bahwa kita adalah bangsa pejuang dan negara besar yang memiliki sejarah, dimana para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang agama, etnis dan budaya, menyatakan tekad kuat yaitu berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ikrar sumpah pemuda tersebut terjadi di Jakarta pada tgl 28 Oktober 1928, lk 98 tahun yang lalu. Mengenang dan memperingati sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober setiap tahun itu merupakan hal yang sangat penting bagi setiap kita WNI guna membangun kesadaran kebangsaan Indonesia, agar kita mencintai Tanah Air dengan memupuk rasa Persatuan dan Kesatuan Bangsa di dalam wadah NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Saat ini, adanya peringatan Sumpah Pemuda, yang demikian itu, semakin urgent dibutuhkan, dengan melihat kondisi negara-bangsa (nation state) belum “baik-baik amat” alias carut marut, banyak gejala sosial “paradoks dan anomali”. Ini terjadi sebagai dampak negatif dari tata kelola negara dan pemerintahan yang masih memburuk (bad governance), akibat maraknya perbuatan kriminal korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Salah satu faktanya program unggulan dan perioritas regim berkuasa Prabowo Subianto-Gibran Raka Buming adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), yang katanya bertujuan menanggulangi atau mencegah terjadinya Stunting (bayi tengkes) akibat gizi buruk bagi anak-anak balita, remaja dan ibu hamil. Akan tetapi kenyataannya di lapangan program MBG membawa malapetaka bagi para siswa di sekolah, setelah mengkonsumsi menu MBG, siswa-siswi sekolah jatuh sakit, main factornya diduga adalah KKN yang marak dan akut, akibat lemahnya penegakan hukum di negeri Kanoha-Mapioso bin Bulus dan Fulus.
Pagi ini tgl 28 Oktober 2026, saya
AA sarapan pagi dengan menikmati Gorpis Pisang Kepok hasil kebunku, didampingi minum Kopi Pahit, sambil membaca koran “bad news” di HU Radar Bogor pagi Rabu tgl 28/10-2026 topic headline “481 Murid-Guru Mual dan Muntah Usai Menyantap Menu MBG”. Kasusnya terjadi di SMPN 1, 2 dan 3 Kec. Dramaga Kab. Bogor.
Padahal belum seminggu kasus dugaan keracunan bikin gempar warga Puncak Bogor, kini muncul lagi kasus serupa di Kec. Dramaga, lokasinyanberdekatan kampus IPB University. Ada sebanyak 481 murid dan guru yang mengalami keracunan seperti mual dan muntah, juga pusing dan sakit perut.
Para korban merasakan gangguan kesehatan, setelah beberapa saat mengkonsumsi Menu MBG oleh para murid dan guru dari ketiga SMPN tsb, seperti yang dilaporkan wartawan HU Radar Bogor, komposisi menu yang dimakam adalah nasi, tempe orek, sate ayam dan buah.
Sekarang, sampel makanan MBG tsb masih dalam tahap uji pemeriksaan laboratorium kesehatan daerah (Labkesra). Hasil laboratorium secara resmi akan diumumkan Pemerintah.
Dengan kasus keracunan MBG tersebut, sebuah pelajaran (a lesson learned) apa yang bisa kita petik, karena kejadian yang menyedihkan dan memprihatinkan terjadi berulang-ulang, bukan saja di Bogor, tetapi juga di daerah lain di seluruh Indonesia. Walapun kata juru bicara Pemerintah tata kelola MBG terus diperbaiki, setelah banyak kritikan dari warga masyarakat dan para ilmuwan pemerhati sosial. Oleh karena itu sudah saatnya, pihak Perguruan Tinggi yang exellence, independen dan berintegritas spt IPB University yang memiliki Prodi Pangan dan Gizi, Teknologi Pangan, IPB memiliki SDM expert dengan kompetensi yang cukup kuat, ditugasi oleh Presiden RI yml Bpk PS untuk melakukan riset permodelan sistemik dan komprehensip (holistic and systemic) untuk mengevaluasi kinerja dan profile SPPG-MBG yang ada di seluruh Indonesia baik dari aspek kapasitas SDM, menu makanan MBG, ketaatan dan kepatuhan terhadap SoP of MBG dan SPPG system, ketersediaan bahan baku dalam kontek jumlah dan mutu, managemen finansial, dll.
Output dan outcome riset tsb berfungsi memperbaiki kinerja Tata Kelola MBG baik bersifat makro dan mikro, sistemik dan menyeluruh. InsyaAllah peristiwa keracunan anak-anak pelajar dan siswa di sekolah sehingga jatuh sakit, yang mendapat layanan MBG yang disupply dapur SPPG tidak terulang kembali. Kita berkeyakinan itu bisa dilakukan perbaikan Tata Kelola MBG yang lebih baik (better), karena alokasi anggaran Jumbo dari APBN, bisa menemukan berbagai faktor penghambat dalam management SPPG-MBG selama ini terjadi, terutama mendisiplin SDM yang terlibat dalam pengelolaan dan pelaksana teknis MBG,jangan berwatak eksploitatif-kapitalist mengejar untung sebesar-besarnya (maximum profite) dengan mengorbankan anak-anak Indonesia dengan perilaku menekan biaya produksi sekecil-kecilnya (lowest cost).
Akhirul kalam, semoga dengan narasi tentang MBG yang saya AA tulis ini, diharapkan muncul kesadaran untuk mengaudit MBG secara sistemik dan holistik, sehingga citra buruk implementasi program MBG secara pelan dan pasti semakin membaik (better) menjadi “best practice of SPPG MBG” di seluruh Indonesia dan dipercaya melalui MBG untuk penanggulangan Stunting yang tepat sasaran dan presisi, bukan memperkaya kroni-kroni Regim yang berkuasa untuk Pemenangan Pemilu 2029, ….no ways!. Semoga Allah SWT selalu memberkahi, Aamin-3 YRA***
Save Anak Indonesia dari Keracunan Menu MBG!!!
Gallery and Ecofunopoly, Kp Wangun Atas Rt 06 Rw 01 Kel Sindangsari Botim City, West Java, Rabu 28 Oktober 2026###
Wassalam.
=====🙏👏🤝
Dr Ir. H. Apendi Arsyad. MSi (Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pemerhati serta Kritikus Sosial melalui Tulisan-tulisannya di Media Sosial dalam Rangka ikut berkontribusi mewujudkan Keberhasilan Visi dan Misi Indonesia Emas thn 2045)








