Surabaya, Jelajahpenanews . Com — Suara Merdeka Suasana di kawasan Pengadilan Tipikor Surabaya menjadi saksi kebersamaan yang kuat. Sementara sidang pembacaan pleidoi enam pegawai PT Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) sedang berlangsung di dalam ruang sidang, ratusan rekan kerja mereka dari Aliansi Serikat Pekerja Tanjung Perak berdiri tegak Depan halaman gedung pengadilan Tipikor Surabaya untuk menyampaikan dukungan dan pembelaan secara damai.
Massa berkumpul dengan tertib, membawa spanduk besar yang tertulis: “Satu Terdampak Semua Bergerak Bebaskan 6 Kawan Kami, Tidak Terbukti Memperkaya Diri Sendiri, Orang Lain Maupun Korporasi.”

Aksi ini bukan bentuk penolakan terhadap proses hukum melainkan wujud kepedulian sesama pekerja yang memahami bagaimana dunia kerja berjalan. Mereka menyampaikan argumen yang mendalam dan berdasar fakta:
Pertama, tidak ada aliran dana ke pribadi. Selama persidangan berlangsung, tidak ditemukan bukti bahwa keenam pegawai tersebut menerima uang atau keuntungan pribadi dari pekerjaan pengerukan alur laut. Jika tidak ada yang masuk ke kantong sendiri, maka unsur utama korupsi menjadi sangat diragukan.
Kedua, proses pekerjaan berjalan wajar. PT APBS melaksanakan tugasnya melalui prosedur administrasi dan keputusan bisnis yang berlaku di perusahaan. Justru pekerjaan ini diambil karena pihak lain tidak dapat menyelesaikannya alur laut akan terbengkalai jika tidak segera dikerjakan.
Ketiga, keuntungan perusahaan bukan kejahatan. Setiap perusahaan wajar mencari untung. Hasil dari pekerjaan pengerukan masuk ke kas PT APBS dan menjadi milik Pelindo secara keseluruhan bukan dibagi-bagi ke perorangan. Menganggap margin perusahaan sebagai kerugian negara adalah hal yang keliru.
Keempat, kerjasama dengan mitra sah. PT SAI dilibatkan karena menyediakan alat dan tenaga agar pekerjaan selesai. Bayaran yang diterima adalah imbalan jasa bukan komisi gelap.
“Jangan sampai keputusan bisnis yang diambil secara jujur dan bertanggung jawab justru dihukum seolah-olah kejahatan,” ujar perwakilan massa. “Kami menghormati proses hukum, namun kami juga memohon agar keadilan benar-benar ditegakkan berdasarkan fakta, bukan sekadar tuduhan.”
Saat sidang di dalam gedung masih berjalan, dukungan dari rekan-rekan di luar terus mengalir. Mereka berdiri bersama, menyatu dalam harapan yang sama: kebenaran harus terungkap, dan yang tidak bersalah harus dibebaskan.
Aksi berlangsung sepenuhnya damai, tertib, dan mencerminkan kedewasaan warga yang menghargai hukum sekaligus berani menyuarakan kebenaran.








