India. Jelajahpenanews. Com – Sebagai pengikut Partai Koptagul mesti tahu pertemuan global. Baru saja presiden kita, Prabowo tiba di tanah air. Dua hari penuh beliau mengikuti BRICS di India. Lalu, apa oleh-olehnya? Apakah beliau membanggakan MBG dalam pertemuan itu? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di New Delhi, panasnya bukan lagi cuaca. Es batu saja mungkin sudah mengajukan surat pengunduran diri. Tetapi para pemimpin BRICS tetap berkumpul di Bharat Mandapam, seperti para dewa sedang rapat menentukan nasib planet sambil mengunyah keripik geopolitik.
Hasilnya, New Delhi Declaration, 140 poin. Seratus empat puluh poin! Skripsi mahasiswa semester akhir saja belum tentu kuat. Kalau dibaca sambil ngopi, kopi bisa dingin sebelum sampai poin terakhir.
BRICS sepakat mendukung reformasi PBB, termasuk Dewan Keamanan. China dan Rusia mendukung India dan Brasil masuk klub elite. Rasanya seperti penjaga pintu VIP tiba-tiba berkata, “Sudah, wak, masuk saja.”
Mereka juga mengutuk serangan Pahalgam 22 April 2025 yang menewaskan 26 orang. Kutukannya keras. Kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi, “Jangan macam-macam!”
BRICS juga menentang tarif unilateral dan mekanisme perbatasan karbon. Suara Global South, katanya, harus lebih kuat. Maklum, selama ini negara Selatan merasa punya suara, tetapi negara Utara yang memegang mikrofon.
Lalu Presiden Prabowo Subianto naik panggung membawa jurus industrialisasi bersama. BRICS, katanya, sudah memiliki rantai pasok alami. Tinggal dihubungkan dan dioptimalkan. Gampang sekali. Seperti kabel charger putus, sambungkan, isolasi, lalu berharap tidak meledak.
Indonesia juga berada di Cincin Api, penuh gunung meletus, cuaca ekstrem, dan ancaman kenaikan permukaan laut. Namun kerentanan itu hendak diubah menjadi kekuatan melalui mineral kritis, tanah jarang, dan hutan.
Konspirasi warung kopi pun muncul. Jangan-jangan BRICS sedang merancang bumi edisi baru. Gunung menjadi aset, mineral menjadi ATM, hutan menjadi pabrik oksigen, lalu kawasan industri berdiri dari Jakarta sampai Johannesburg.
Tinggal tunggu pabrik di bulan. Prabowo juga bicara pangan. Indonesia yang dulu menjadi importir besar biji-bijian, beras, dan jagung, kini bergerak menjadi eksportir. Dulu beli, sekarang jual. Besok mungkin dunia antre membawa karung sambil berkata, “Wak, beras dua kontainer!”
Namun ada satu pertanyaan menarik. Apakah Prabowo membanggakan MBG di forum BRICS? Jawabannya, tidak secara khusus.
Tidak ada parade angka penerima, jumlah dapur, atau cerita jutaan anak menyantap menu MBG. Program yang biasanya muncul seperti bintang tamu langganan justru tidak menjadi pusat panggung.
Tetapi gagasan dasarnya tetap muncul dalam pesan jauh lebih besar. Kekuatan sebuah negara dimulai dari kemampuan memberi makan rakyat, menyediakan energi, mendidik anak-anak, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk sejahtera.
Inilah cara membangun bangsa tangguh dan mandiri, supaya Indonesia “tidak suka didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu.” Nah, ini baru menarik. Prabowo, gitu loh!
Jadi MBG bukan sekadar urusan nasi, lauk, sayur, dan telur. Dalam narasi besar Prabowo, kemampuan memberi makan rakyat adalah bagian dari kekuatan negara. Dari sini logikanya menjadi excited. Negara yang perut rakyatnya bergantung kepada orang lain, politiknya juga berpotensi ikut bergantung. Ente paham ndak, wak? Ups
BRICS kemudian menjadi panggung lebih besar. Kemandirian nasional, persatuan Global South, industrialisasi, energi, pangan, pendidikan, dan kerja sama nyata.
China mendapat presidensi BRICS 2027. Para pemimpin berjabat tangan. Dunia menonton. Global South berharap. Kita di warung kopi cuma bisa geleng kepala. Ini BRICS sedang membangun masa depan dunia atau sedang menggambar ulang planet?
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani








