ISLAMABAD . Jelajahpenanews. Com – Pakistan kini berada di persimpangan jalan geopolitik yang sangat berbahaya menyusul ancaman milisi Houthi di Yaman untuk memblokade total pesisir Laut Merah milik Arab Saudi. Situasi darurat ini secara otomatis mengaktifkan perjanjian pertahanan bersama (Mutual Defense Pact) yang ditandatangani kedua negara pada September 2025, di mana serangan terhadap kedaulatan Arab Saudi wajib dianggap sebagai serangan langsung terhadap Pakistan. Direktur Pakistan Institute for Conflict and Security Studies (PICSS), Abdullah Khan, menegaskan bahwa implikasi krisis ini sangat serius karena memaksa militer Islamabad bersiap memobilisasi pasukannya ke medan tempur guna memenuhi komitmen pertahanan mengikat demi menjaga stabilitas sekutu terkaya mereka di Teluk Arab.
Ancaman blokade dari kelompok proksi pro-Iran tersebut dinilai para pengamat militer sebagai bahaya riil yang mematikan dan bukan sekadar gertakan politik belaka. Berbekal pasokan rudal balistik canggih, pesawat nirawak jarak jauh, hingga kapal cepat tanpa awak bermuatan peledak, Houthi memiliki kapabilitas penuh untuk melumpuhkan ekspor energi global dan melambungkan biaya premi asuransi maritim hingga ke level tertinggi. Bagi Pakistan, kebangkitan militer Houthi ini menjadi mimpi buruk taktis, sebab Angkatan Bersenjata Pakistan kini harus membagi fokus pertahanan dalam negeri mereka untuk membentengi perimeter luar Kerajaan Arab Saudi dari potensi gempuran udara dan laut jarak jauh yang merusak.
Di sisi lain, dampak ekonomi yang membayangi Pakistan jika Selat Bab el-Mandeb ditutup total diprediksi akan menjadi pukulan telak yang meruntuhkan sisa-sisa kekuatan ekonomi mereka. Analis kebijakan ekonomi, Ali Ehsan, memperingatkan bahwa kelangkaan rantai pasok minyak mentah dari Saudi akan memicu inflasi gila-gilaan pada harga bahan bakar dan tarif listrik domestik. Kondisi ini kian diperparah dengan lumpuhnya jalur logistik ekspor komoditas tekstil andalan Pakistan menuju pasar Uni Eropa, sebuah hantaman fatal yang tidak hanya akan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja massal secara domestik tetapi juga menyeret ekonomi Islamabad masuk ke dalam jurang krisis keuangan jangka panjang yang mengerikan.
Sumber Berita : Sputnik








