Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Saya tulis ini dengan duka. Untuk anak-anak yang sesak karena asap, untuk para sopir dan ibu-ibu yang antre BBM berjam-jam di SPBU. Tidak ada yang menang dalam tulisan ini. Ini adalah pilihan sulit, sangat sulit.
Dan pilihan sulit ini tidak dibuat di Kalimantan. Pilihan ini dibuat di Texas, Selat Hormuz, Kilang Aramco dan kilang di Rusia.
Dengarkan.. Rezim Fosil sedang sekarat, tapi belum mati. Mereka tahu, jika Indonesia bisa dan berhasil menjalankan B50 solar dari sawit kita sendiri, maka 21% monopoli minyak mereka lewat Selat Hormuz menjadi tidak relevan. Dolar minyak mereka runtuh. Ya, Minyak Fosil adalah Darah Thanos dan Dolar adalah nafasnya.
Maka mereka memainkan kartu terakhir: Ciptakan krisis energi di depan mata kita.
Mari kita lihat peta hari ini. Selat Hormuz dikunci kapal perang. Kilang Aramco di Abqaiq jadi target drone. Kilang Rusia di Ust-Luga terbakar tiap minggu. Pasokan solar dunia sengaja dibocorkan. Harga melambung. Akibatnya? Efeknya sudah terasa di sini. Antrean BBM di mana-mana.
Lalu Rezim Fosil berbisik: “Lihat, tanpa minyak kami, rakyatmu akan chaos di belantara SPBU.”
Negara kita pun panik. Kita harus punya strategi Parit Khandaq Energi, yaitu membuka lahan baru untuk Biofuel.
Tapi Rezim Fosil juga berbisik ke telinga dunia: “Jika mereka gali parit itu dengan cara membakar hutan, maka kita punya amunisi untuk mengharamkan biofuel mereka selamanya.”
Maka kita terjebak di persimpangan paling kejam: Chaos di hutan gambut, atau chaos di belantara rakyat.
Jika kita hentikan semua pembukaan lahan hari ini demi langit biru, besok yang terbakar adalah perut rakyat. Truk logistik mogok. Ekonomi berhenti.
Jika kita biarkan api liar di ujung kemarau Oktober ini demi kejar target B50, maka kita masuk jebakan Rezim Fosil. Foto satelit kita jadi bukti di WTO.
Itulah Buah Simalakama!
Solusinya bukan memilih salah satu chaos. Solusinya adalah “Parit Khandaq Sebagai Teknologi Sekat Bakar”.
Para tetua gambut tahu, api gambut tidak menjalar di atas, tapi merayap di bawah tanah. Satu-satunya cara mengurungnya adalah menggali parit Khandaq dalam 4 meter sampai tanah liat, lebar 5 meter, dan isi dengan air. Api akan mentok dan mati di dinding air itu.
Inilah strategi Khandaq yang benar:
Bukan parit untuk menahan musuh, tapi parit untuk mengurung api kita sendiri.
Gali Khandaq Luar kelilingi blok peremajaan sawit B50. Di dalamnya, buat Khandaq Dalam tiap 50 hektar. Jika memang harus ada pembakaran terkontrol yang tercepat di ujung kemarau ini karena dikejar hujan November, biarlah api itu terkunci, terukur, mati di dalam Khandaq.
Hutan di dalam Khandaq adalah parit energi kita yang sah sebagai cadangan energi rakyat. Sedangkan hutan di luar Khandaq haram tersentuh. Namun begitu, masih ada juga musuh yang menyusup dan membakar di luar Khandaq.
Dengan begini, Rezim Fosil tidak bisa lagi menuduh kita. Rakyat pun tidak perlu antre BBM saat Hormuz dan Aramco terus terbakar.
Karena parit sudah digali. Api sudah kita kurung. Dan hujan juga sudah mulai turun.
FAZ








