Jakarta. Jelajahpenanews . Com – Dalam peta pergerakan Islam dunia, nama Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin—atau yang lebih dikenal sebagai Din Syamsuddin—adalah jaminan mutu bagi diplomasi Islam moderat. Ia bukan sekadar pemimpin organisasi massa, melainkan seorang intelektual publik yang berhasil meletakkan wajah Islam Indonesia yang ramah, toleran, dan berkemajuan di etalase global.
Perjalanannya dari sebuah desa di Sumbawa menuju panggung-panggung elit di New York, Vatikan, hingga London adalah potret dedikasi tanpa henti bagi umat dan kemanusiaan.
Akar Pesantren dan Intelektualitas Global
Lahir di Sumbawa pada 31 Agustus 1958, pondasi karakter Din Syamsuddin ditempa di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di sana, ia menyerap nilai-nilai kedisiplinan dan penguasaan bahasa asing yang menjadi modal utamanya kelak.
Dahaga intelektualnya membawa Din terbang ke Amerika Serikat, di mana ia meraih gelar doktor (Ph.D.) dari University of California, Los Angeles (UCLA). Perpaduan antara pendidikan pesantren yang tradisional-disiplin dan pendidikan Barat yang kritis-analitis membentuk sosok Din sebagai pemimpin yang fasih berbicara tentang syariat sekaligus piawai berdiskusi mengenai demokrasi dan hak asasi manusia.
Nakhoda Muhammadiyah dan Penjaga Marwah MUI
Kepemimpinan Din Syamsuddin di Indonesia tercatat dengan tinta emas saat ia menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama dua periode (2005–2015). Di bawah arahannya, Muhammadiyah tidak hanya fokus pada amal usaha pendidikan dan kesehatan, tetapi juga semakin vokal dalam isu-isu kedaulatan bangsa dan keadilan sosial.
Tak berhenti di situ, ia juga diamanati menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggantikan almarhum KH. Sahal Mahfudh. Di MUI, Din menjadi sosok pemersatu yang mampu merangkul berbagai faksi umat Islam, memastikan bahwa suara ulama tetap menjadi kompas moral bagi bangsa Indonesia yang majemuk.
Diplomat Rakyat: Membawa “Islam Wasathiyah” ke Dunia
Salah satu warisan terbesar Din Syamsuddin adalah perannya sebagai Presiden Moderat Asia Conference on Religions for Peace (ACRP) dan keterlibatannya dalam berbagai forum lintas agama dunia. Ia secara konsisten mempromosikan konsep Islam Wasathiyah—Islam jalan tengah.
Bagi dunia internasional, Din adalah juru bicara yang kredibel untuk menjelaskan bahwa Islam dan demokrasi bisa berjalan beriringan. Kehadirannya di berbagai konferensi perdamaian internasional sering kali menjadi penyejuk di tengah meningkatnya isu Islamofobia, membuktikan bahwa Muslim Indonesia adalah kekuatan perdamaian dunia.
Kehidupan Pribadi dan Teladan Kedamaian
Di balik kesibukannya di panggung dunia, Din adalah seorang kepala keluarga yang didampingi oleh sang istri, Fira Beranata, dan dianugerahi tiga orang anak. Kesederhanaan dan keterbukaannya terhadap perbedaan membuat dirinya dihormati bukan hanya oleh kawan, tetapi juga oleh mereka yang berbeda pandangan politik.
Kini, meski tidak lagi berada di struktur kepemimpinan utama organisasi, pengaruh Din Syamsuddin tidak memudar. Ia tetap aktif menyuarakan pesan-pesan perdamaian dan persatuan. Sosoknya mengingatkan kita bahwa untuk menjadi pemimpin besar, seseorang harus memiliki kedalaman ilmu, keluasan hati, dan keberanian untuk menjembatani perbedaan.
Sumber: Wikipedia








