Surabaya . jelajahpenanews.com – Selama ini banyak orang tertipu memahami Kujang sebagai senjata pusaka Raja-Raja Sunda. Pandangan ini berkembang dari cerita-cerita mitos yang tidak sesuai dengan fakta sejarah.
Namun jika merujuk pada naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, dijelaskan secara rinci bahwa senjata orang Sunda terbagi menjadi tiga kelas sosial: Raja, Petani, dan Pendeta. Menariknya, dalam naskah tersebut tidak disebutkan bahwa Kujang adalah senjata milik raja atau bangsawan.
Dalam Kropak 630 bagian XVII, naskah ini menyebutkan dengan rinci pembagian senjata:
Sa(r)wa Iwir/a/ ning teuteupaan ma telu ganggaman palain. Ganggaman di sang prebu ma: pedang, abet, pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa pina/h/ka dewanya, ja paranti maehan sagala. Ganggaman sang wong tani ma: kujang, baliung, patik, kored, sadap. Detya pina/h/ka dewanya, ja paranti ngala kikicapeun iinumeun. Ganggamam sang pandita ma: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa pina/h/ka dewanya, ja itu paranti kumeureut sagala. Nya mana teluna ganggaman palain deui di sang prebu, di sang wong tani, di sang pandita. Kitu lamun urang hayang nyaho di sarean(ana), eta ma panday tanya.
Berdasarkan isi Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian di atas maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Senjata raja (prebu): pedang, abet (pecut), pamuk, golok, pisau teundeut, dan keris. Senjata ini dianggap mewakili kekuatan raksasa, karena digunakan untuk membunuh.
- Senjata petani: kujang, baliung, patik, kored, dan pisau sadap. Digunakan oleh petani, karena dipakai untuk memperoleh hasil alam.
- Senjata pendeta: kala katri, pisau raut, pisau dongdang, pangot, dan pakisi. Senjata ini dihubungkan dengan danawa, karena fungsinya untuk mengerat atau memotong secara spiritual maupun harfiah.
Jadi, jika kita memahami fungsi asli dari Kujang dalam sejarah, maka sejatinya Kujang diperuntukkan untuk Petani bukan untuk Raja atau Bangsawan.
Lantas, apa senjata pusaka Raja Sunda?
Seperti yang disebutkan oleh Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yaitu salah satunya adalah Keris, yang digunakan untuk tujuan membunuh atau berperang.
Dengan demikian, berdasarkan fakta sejarah yang sudah diuraikan di atas dapat diketahui bahwa senjata pusaka Raja-Raja Sunda adalah Keris bukan Kujang. Kujang adalah senjata untuk Petani.
Jika kita menemui lukisan Raja Sunda terutama Prabu Siliwangi menggenggam Kujang maka sejatinya sang pelukis sedang merendahkan Raja Sunda itu sendiri. Karena Kujang adalah senjata untuk Petani malah disandangkan untuk Raja yang merupakan seorang Bangsawan.
Dengan demikian lukisan Prabu Siliwangi yang benar sesuai Fakta Sejarah seharusnya adalah menggegam/menyarungkan Keris. Seperti halnya lukisan Prabu Siliwangi milik Keraton Kasepuhan Cirebon.








