Kasal Muhammad Ali Dukung Sang Istri Main Film Lain Setelah “Arafuru 1962”

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Kabar menarik datang dari dunia militer yang bersinggungan dengan industri perfilman. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal), Muhammad Ali, memberikan sinyal dukungan penuh kepada sang istri, Fera Muhammad Ali, untuk kembali berakting setelah debutnya dalam film sejarah Arafuru 1962.

Dalam film tersebut, Fera memerankan tokoh Rahayu—seorang ibu dari Nastiti, yang diperankan oleh Michelle Ziudith. Pengalaman ini menjadi langkah pertama Fera di dunia akting, sebuah tantangan baru yang ia jalani dengan penuh kesungguhan. Saat ditemui di lokasi syuting yang berlangsung di kediaman bersejarah Oerip Sumohardjo di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, Fera mengungkapkan bahwa peran ini bukan hanya pengalaman baru, tetapi juga kesempatan untuk menguji kemampuan diri di bidang yang sama sekali berbeda dari kesehariannya.

Ia mengakui, proses adaptasi di depan kamera bukan hal mudah. Namun, dukungan dari tim produksi dan para aktor profesional sangat membantunya. Michelle Ziudith, yang sudah lama berkecimpung di dunia perfilman, turut membimbing Fera dalam memahami dinamika akting, mulai dari ekspresi hingga teknik saat pengambilan gambar. Selain itu, sutradara dan produser juga berperan besar dalam membangun rasa percaya diri Fera selama proses syuting berlangsung.

Menariknya, Fera mengungkapkan bahwa sejak kecil ia tidak pernah membayangkan akan tampil dalam sebuah film. Namun, keterlibatannya dalam proyek ini ia anggap sebagai kehormatan tersendiri, terlebih karena film tersebut mengangkat kisah heroik Yos Sudarso dalam perjuangan merebut Irian Barat. Kisah tersebut berpusat pada operasi laut di atas KRI Matjan Tutul, sebelum kapal tersebut dihancurkan dalam serangan udara Belanda.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan kembali bermain film setelah proyek ini, Fera menyatakan bahwa keputusan tersebut sangat bergantung pada izin dan dukungan sang suami. Menanggapi hal itu, Muhammad Ali dengan tegas menyatakan dukungannya dengan catatan bahwa film yang diikuti memiliki nilai edukatif dan mampu memberikan inspirasi bagi generasi muda.

“Jika tujuannya untuk memberikan pelajaran kepada generasi muda, tentu kita dukung sepenuhnya,” ujarnya.

Film “Arafuru 1962” sendiri merupakan proyek yang digarap serius oleh PT Instream, melalui proses riset mendalam serta pengembangan teknologi Computer Graphic Image (CGI) selama dua tahun. Selain Fera dan Michelle Ziudith, film ini juga menghadirkan sejumlah aktor ternama seperti Fedi Nuril yang memerankan Yos Sudarso, serta Yesaya Abraham sebagai Satria.

Kehadiran tokoh-tokoh militer bersejarah seperti Sudomo, Omar Dani, dan lainnya turut memperkuat nuansa historis film ini, menjadikannya bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi yang sarat nilai perjuangan.

Langkah Fera Muhammad Ali ini menjadi contoh menarik bagaimana seseorang dapat melampaui batas peran yang selama ini melekat, dan berani menjajal dunia baru demi kontribusi yang lebih luas khususnya dalam menghidupkan kembali sejarah bangsa melalui layar lebar.
Sumber : Gatra.com

Bagikan