JERUSALEM . Jelajahpenanews. Com – Badan intelijen Israel secara resmi merilis dokumen penilaian strategis terbaru yang menuduh Republik Islam Iran telah memindahkan ribuan mesin sentrifuge pengayaan uranium ke dalam jaringan terowongan rahasia di bawah kompleks pegunungan batu solid yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain (Mount Kolang Gaz La). Berdasarkan laporan investigasi eksklusif yang diterbitkan oleh harian The Wall Street Journal (WSJ), langkah relokasi masif ini telah diendus selama 15 bulan terakhir pasca-perang besar pada Juni 2025 yang melumpuhkan tiga situs nuklir utama Teheran, termasuk Fordow dan Natanz. Tel Aviv menilai manuver pemindahan ke situs yang terletak dekat kompleks Natanz tersebut merupakan upaya terencana Iran untuk memulihkan kembali arsitektur program senjata nuklirnya dari ancaman serangan udara konvensional di masa depan.
Para pakar dari Institute for Science and International Security mengonfirmasi adanya aktivitas konstruksi yang konsisten, perkuatan struktur beton terowongan, serta mobilitas tinggi truk logistik militer di Pickaxe Mountain. Kompleks pertahanan bawah tanah ini diperkirakan beroperasi pada kedalaman 300 hingga 450 kaki (sekitar 90 hingga 137 meter) di bawah formasi batuan granit padat, sebuah kedalaman yang secara teknis sangat sulit ditembus oleh bom penghancur bunker (bunker buster) standar milik militer Barat. Di sisi lain, kekhawatiran global kian meruncing lantaran Teheran menutup rapat akses inspeksi bagi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) seraya dilaporkan telah mengakumulasi pasokan sekitar 1.000 pon (450 kilogram) uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen—sebuah ambang batas yang sangat dekat dengan kualifikasi material hulu ledak militer.
Kendati demikian, laporan tersebut memuat catatan krusial bahwa keberadaan sentrifuge di dalam gunung batu ini tidak serta-merta menjadi bukti konkret beroperasinya reaktor pengayaan aktif, melainkan bisa jadi sekadar gudang perlindungan darurat untuk mengamankan komponen yang selamat dari pengeboman tahun lalu. Isu sensitif ini kini berada di titik persimpangan geopolitik yang tajam antara kepentingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mendesak Presiden Donald Trump untuk segera meluncurkan operasi pemusnahan total via serangan udara, melawan sikap kehati-hatian Washington yang sengaja menolak membidik target nuklir sejak 7 Juli demi menjaga stabilitas pelayaran. Status Pickaxe Mountain yang tidak dapat diinspeksi oleh lembaga internasional ini dipastikan akan menjadi target militer berisiko tinggi berikutnya atau menjelma sebagai kartu truf negosiasi terbesar dalam babak baru diplomasi regional di Timur Tengah.
Sumber Berita:
The Wall Street Journal (WSJ), Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Institute for Science and International Security, The Times of Israel








