Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Selama ini kita menyebut Bumi sebagai Planet Biru karena sekitar 71 persen permukaannya tertutup air. Tapi para ilmuwan kini punya pertanyaan yang lebih menggelitik: bagaimana jika samudra terbesar di Bumi justru tersembunyi jauh di bawah kaki kita?
Itulah yang tengah diungkap oleh serangkaian penelitian geofisika dalam beberapa tahun terakhir.
Para peneliti dari Northwestern University dan University of New Mexico menemukan bukti kuat adanya air dalam jumlah masif yang terperangkap jauh di bawah Amerika Utara, tepatnya di lapisan mantel Bumi yang dikenal sebagai transition zone, pada kedalaman sekitar 400 hingga 660 kilometer.
Yang membuat penemuan ini benar-benar mengejutkan adalah skalanya. Ahli geofisika Northwestern University Steve Jacobsen, salah satu peneliti utama, menyatakan bahwa jika hanya satu persen saja dari berat batuan di transition zone berupa air, jumlahnya sudah setara dengan hampir tiga kali volume seluruh samudra di permukaan Bumi.
Namun jangan bayangkan lautan bergelombang di dalam perut bumi. Air itu tidak berbentuk cair, bukan es, bukan pula uap. Ia terikat secara kimiawi di dalam struktur kristal mineral batuan mantel, terjebak di bawah tekanan dan suhu yang melampaui 1.000 derajat Celsius.
Bukti fisik pertama datang dari sebuah berlian kecil. Pada 2009, tim ilmuwan yang dipimpin Dr. Graham Pearson dari University of Alberta menemukan mineral bernama ringwoodite di dalam batu yang berasal dari kedalaman 410 hingga 660 kilometer di bawah permukaan Bumi. Mineral biru cerah ini mampu menyimpan air dalam bentuk ion hidroksida di bawah tekanan ekstrem — dan ini adalah pertama kalinya ringwoodite ditemukan dalam kondisi alami dari mantel Bumi.
Penelitian terus berkembang. Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Desember 2025, dipimpin Profesor Zhixue Du dari Guangzhou Institute of Geochemistry, Chinese Academy of Sciences, menemukan bahwa bridgmanite — mineral paling melimpah di mantel Bumi — mampu menyimpan air jauh lebih banyak dari yang pernah diperkirakan sebelumnya, terutama pada suhu tinggi seperti saat Bumi masih berupa lautan magma miliaran tahun lalu.
Model simulasi tim tersebut menunjukkan bahwa mantel bagian bawah bisa menyimpan antara 0,08 hingga 1 kali volume samudra yang ada saat ini — angka yang masih terus dikaji, namun sudah cukup untuk mengubah cara ilmuwan memahami sejarah air di planet ini.
Jacobsen menyebut penemuannya sebagai bukti pertama adanya siklus air skala Bumi secara menyeluruh, di mana air berpindah dari permukaan menuju kedalaman mantel melalui lempeng tektonik, lalu berpotensi naik kembali ke permukaan. “Para ilmuwan sudah mencari air dalam yang hilang ini selama beberapa dekade,” katanya.
Artinya, Bumi tidak sekadar menyimpan air di permukaannya. Jauh di bawah sana, tersimpan warisan purba yang ikut membentuk kehidupan di atas kita — diam, tersembunyi, dan terus menunggu untuk sepenuhnya dipahami.








