Jakarta. Jelajahpenanews, com – Rusuh di Perancis. Gaduh di Indonesia. Jangan hanya baca isu di headline-nya. Baca siapa yang paling takut jika headline itu tidak ada.
Pada 12 Desember 2015, dunia telah sepakat menandatangani akta kematian bagi Rezim Fosil di sebuah ruangan di Le Bourget, Paris. Untuk pertama kalinya 196 negara sepakat: era minyak harus diakhiri. Tuan rumahnya adalah Perancis. Dan sejak hari itu, Paris tidak pernah lagi benar-benar tenang.
Lihat benang merahnya. Sebulan sebelum kesepakatan ditandatangani, Paris dibakar teror Bataclan November 2015. Negara dalam keadaan darurat. Pesan pertama Rezim Fosil: “Kalian usik kami, yang ada hanya chaos.”
Kesepakatan tetap jalan. Maka rencana B dijalankan: Perancis harus dibuat tidak bisa memimpin transisi. Maka lahirlah Rompi Kuning di 2018. Isunya? Kenaikan pajak BBM. Sempurna. Isu yang paling sensitif, paling mudah menyulut. Siapa yang paling diuntungkan ketika rakyat Perancis benci pajak karbon? TotalEnergies, Saudi Aramco, dan kartel di belakangnya. Gerakan akar rumput yang murni dibajak menjadi senjata untuk membunuh kebijakan iklim dari dalam.
Pola itu berulang sampai kemarin, 17 Oktober 2026. Isu pemicunya ganti baju: biaya hidup, sekolah bobrok, layanan publik. Tapi mesinnya masih sama untuk membuat Perancis sibuk memadamkan balai kotanya sendiri di Limoges, agar tidak sempat memimpin COP dan memaksa dunia tinggalkan fosil. PM Lecornu menyebut “ultra-kiri”. Dia tidak salah, tapi dia tidak menyebut siapa yang menyirami bensinnya.
Lalu lihat Indonesia. Kita adalah ancaman kedua yang lebih besar.
Karena kita bukan hanya tanda tangan. Kita adalah baterai dan tangki dunia. Pemegang nikel untuk EV, dan kita memegang CPO untuk menghancurkan dominasi diesel fosil. Motor mandatori Kesepakatan Paris.
Kebijakan satu pintu ekspor sawit dan program B50 – BBM 50% sawit – adalah rudal balistik ke jantung Rezim Fosil. Jika B50 berhasil, Indonesia tidak butuh impor solar mereka lagi. Jika B50 berhasil, model ini akan ditiru oleh Malaysia, Brasil, Kolombia. Habislah pasar mereka.
Maka Indonesia harus digoyang terus. Hari ini isu sawit merusak hutan. Besok isu biodiesel bikin mesin rusak. Lusa isu petani sawit miskin. Isu-isu lingkungan dan ekonomi itu nyata, tapi ia dipakai sebagai trigger, sebagai detonator. Tujuannya satu: agar tata kelola energi nasional kita terlihat korup, serakah, dan gagal. Agar B50 dibenci rakyatnya sendiri sebelum kita sempat membunuh Rezim Fosil.
Perancis diserang agar lumpuh sebagai otak. Indonesia diserang agar lumpuh sebagai otot.
Perhatikan polanya. Jangan hanya headline beritanya!
FAZ








