Bukan Lahir dari Keluarga Kaya, Begini Perjuangan Ganjar Pranowo Kuliah Sambil Cuti Karena Gak Ada Biaya

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Dibalik sorotan kamera dan panggung politik nasional, banyak yang tidak menyangka bahwa Ganjar Pranowo pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Sebelum dikenal sebagai Gubernur Jawa Tengah dua periode atau calon presiden, pria kelahiran Tawangmangu ini adalah seorang mahasiswa yang harus berjuang keras hanya untuk mempertahankan status kuliahnya.

Kisah masa mudanya bukanlah tentang kemewahan, melainkan tentang keterbatasan ekonomi yang hampir saja memutus mimpinya di dunia pendidikan.

Lahir dari Keluarga Sederhana di Lereng Lawu
Ganjar lahir dari pasangan Parmudji Pramudi Wiryo dan Sri Suparni. Ayahnya adalah seorang polisi berpangkat rendah yang bertugas dengan penghasilan pas-pasan. Hidup di desa di lereng Gunung Lawu membuat Ganjar terbiasa dengan prihatin.

Kondisi ekonomi keluarga semakin diuji ketika sang ayah memasuki masa pensiun tepat saat Ganjar baru akan menyelesaikan masa SMA-nya di Yogyakarta. Untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah anak-anaknya, sang ibu harus membuka warung kelontong, sementara Ganjar muda tidak malu berjualan bensin eceran di pinggir jalan.

Perjuangan di Kampus Kerakyatan: Cuti Dua Semester
Setelah lulus dari SMA Bopkri 1 Yogyakarta, Ganjar berhasil menembus salah satu kampus paling bergengsi di Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, diterima di universitas ternama tidak lantas membuat hidupnya mudah.

Keterbatasan biaya menjadi penghalang utama. Dalam berbagai kesempatan, Ganjar menceritakan bahwa ia sempat mengambil cuti kuliah selama dua semester. Alasannya tunggal: keluarganya benar-benar tidak memiliki uang untuk membayar uang kuliah.

“Saya pernah cuti kuliah karena tidak ada biaya. Jadi kalau ada mahasiswa yang curhat susah bayar kuliah, saya sangat paham rasanya karena saya pernah berada di posisi itu,” kenang Ganjar dalam sebuah dialog terbuka.

Selama masa “sulit” itu, Ganjar tidak berdiam diri. Ia tetap aktif di organisasi, melatih kegiatan pecinta alam di sekolah-sekolah menengah (seperti SMA 8 Yogyakarta dan SMA 1 Sewon), dan terus mencari celah agar tetap bisa melanjutkan mimpinya meraih gelar sarjana hukum.

Mentalitas “Prihatin” yang Membentuk Karakter
Perjuangan membayar biaya kuliah ini membentuk karakter Ganjar menjadi sosok yang tangguh. Di kampus, ia tidak hanya belajar pasal-pasal hukum, tetapi juga belajar tentang realitas sosial melalui demonstrasi. Ia tercatat pernah ikut berdemonstrasi menolak penggusuran proyek Waduk Kedungombo, sebuah aksi yang mempertemukannya langsung dengan isu-isu rakyat kecil.

Dosen pengujinya kala itu, Prof. Nindyo Pramono, menjadi saksi bagaimana seorang anak polisi desa ini akhirnya mampu menyelesaikan studinya meski tertatih-tatih secara finansial.

Inspirasi Bagi Generasi Muda
Kisah Ganjar yang harus cuti kuliah karena masalah biaya adalah pengingat bagi banyak anak muda saat ini bahwa kemiskinan bukanlah penghalang akhir dari kesuksesan. Keteguhan untuk kembali ke kampus setelah dua semester vakum membuktikan bahwa tekad yang kuat bisa mengalahkan keterbatasan materi.

Kini, pengalaman masa sulit itu ia transformasikan ke dalam kebijakan saat menjabat sebagai gubernur, seperti sekolah asrama gratis (SMK Jateng) bagi keluarga tidak mampu, agar tidak ada lagi “Ganjar-Ganjar” lain yang harus putus sekolah atau cuti kuliah hanya karena urusan biaya.

Sumber: Wikipedia

GanjarPranowo #InspirasiHidup #KisahInspiratif #PerjuanganHidup #AnakMudaKreatif #TokohNasional #SemangatKuliah

Bagikan