Siapa itu Satrio Piningit?

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Secara harfiah dari bahasa Jawa: Satria = Ksatria, Piningit = yang disembunyikan / dipingit / dirahasiakan oleh zaman.

Dalam Jangka Jayabaya dan serat-serat Ranggawarsita, ia digambarkan sebagai tokoh apokaliptik yang akan menjadi Pemimpin Besar Nusantara, bahkan memimpin dunia dari Tanah Jawa.

Ciri-ciri klasik yang ditulis di Kitab Musarar gubahan Sunan Giri Prapen (bait 159) yang merujuk Jayabaya:
“Akan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa, bersenjatakan trisula wedha”
Versi lain menyebut: paras tampan berkharisma, kepandaian intelektual dan spiritual, dan muncul di zaman Kalabendu – zaman kekacau-balauan peradaban, sebagai penanda transisi menuju zaman keemasan. Ada juga tafsir populer: sudah tidak punya ayah-ibu (mandiri), lulus Weda Jawa, sakti mandraguna tanpa aji-aji.

Intinya: ia bukan pewaris tahta yang disiapkan, tapi orang yang tersembunyi, diremehkan, lalu dimunculkan zaman.

  1. Kenapa nama Gibran Rakabuming dikaitkan?
    Di TikTok, YouTube, dan warung kopi Solo-Surakarta, ada 3 benang yang ditarik orang untuk mencocokkan Gibran:

a. Jalur “Piningit” secara politik

Dari pengusaha catering dan Wali Kota Solo yang tidak diperhitungkan elit nasional, tiba-tiba menjadi Wapres termuda. Pola “disembunyikan lalu dimunculkan” ini mirip definisi piningit.

b. Jalur genealogi simbolik: Dalam ramalan, Satrio Piningit disebut “putra Bathara Indra”. Sebagian penafsir Jawa mengartikan Bathara Indra sebagai pemimpin besar / penguasa langit. Narasi pendukung Gibran mengaitkan ini sebagai “putra seorang pemimpin besar” – putra Jokowi.

c. Jalur lokasi dan waktu.

Jayabaya adalah Raja Kediri, Jawa Timur. Gibran lahir dan besar di Solo, pusat budaya Jawa Mataram, dan kemunculannya berbarengan dengan fase yang dianggap banyak orang sebagai Kalabendu – pandemi, perang, disrupsi ekonomi, polarisasi.

  1. Kenapa banyak budayawan menolak klaim itu?.

Budayawan Jawa yang lebih konservatif punya 3 sanggahan utama:

a. Satrio Piningit itu watak, bukan orang. Secara substansial, Piningit adalah karakter atau sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin, bukan nama orang. Ia digambarkan anggun, agung, moralitasnya tidak dipertanyakan, menyatu dengan rakyat. Jadi semua orang bisa dinilai dari wataknya.

b. Konsep “Ratu Adil” itu bebas nilai. Menurut naskah-naskah, dia bebas nilai, tidak disoal dari kalangan jelata atau ningrat, miskin atau kaya. Mengklaim satu politikus sebagai Ratu Adil dianggap politisasi – istilah ini memang sudah dipolitisasi sejak 500 tahun lalu untuk legitimasi kekuasaan.

c. Ciri fisik dan spiritual tidak lengkap. Jika memaksa tafsir harfiah Kresna-Baladewa-Trisula, belum ada satu tokoh modern yang benar-benar memenuhi semua baik.
Apakah Gibran termasuk Satrio piningit?

“Gibran bukan Satrio Piningit karena ia dinobatkan. Jika ramalan itu benar, ia menjadi Satrio Piningit justru karena ia pernah dipingit – disembunyikan, diremehkan, tidak dianggap – lalu zaman yang memanggilnya.

Apakah ia akan menjadi Ratu Adil atau hanya menjadi Senopati di transisi zaman, itu bukan ditentukan oleh ramalan, tapi oleh apa yang ia lakukan setelah kekacauan itu.”

Itulah kenapa di Jawa orang tua bilang: Satrio Piningit itu tidak pernah mengaku dirinya Satrio Piningit. Begitu ia mengaku, ia gugur dari ramalan.

sejarah

Bagikan