Sambut gagasan besar Gus Ipang Wahid : BEM PTNU siap kawal transformasi digital PBNU

Ali Wafi

Jakarta, Jelajahpenanews.com – – Presidium Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara menyambut baik gagasan besar Wakil Ketua Umum PBNU, Dr (c) Irfan Wahid (Gus Ipang), dalam bidang Digital Native, Budaya, dan Komunikasi. Bagi kami, kaum muda dan mahasiswa NU, gagasan ini bukan sekadar formalitas birokrasi organisasi, melainkan sebuah jawaban atas krisis jarak antara Nahdlatul Ulama dan generasi mudanya.

Selama ini, narasi tentang besarnya basis massa NU seringkali berbanding terbalik dengan realitas keterikatan anak muda. Data Alvara Research (2026) yang dipaparkan Gus Ipang menjadi cermin bagi kita semua: afiliasi Gen Z terhadap NU menyentuh 51,8%, sementara kelompok non-NU kian masif dan inovatif mendekati anak muda. Di sisi lain, 46% Gen Z mempelajari agama dari media sosial, namun 54% di antaranya tidak mem-follow tokoh agama.

Menghadapi disrupsi dan resistensi generasi muda ini, gagasan besar Gus Ipang adalah langkah maju yang mendesak. Mahasiswa NU menolak hanya menjadi penonton. Kami melihat program-program ini sebagai katalisator yang menyentuh langsung denyut nadi mahasiswa dan santri.

Beberapa Catatan Apresiasi dan Harapan BEM PTNU Se-Nusantara:

1. Paspor-Talent Santri: Menjawab Kebingungan Generasi
Kami mengapresiasi data kritis yang dipaparkan: 92% siswa SMA kebingungan menentukan karier, dan 87% mahasiswa merasa salah jurusan. Pilot project Paspor-Talent Santri (berbasis TalentDNA) di Universitas Hasyim Asy’ari adalah terobosan cerdas. Temuan bahwa talenta mahasiswa UNHASY tidak selalu linier dengan program studi (misal: 270 mahasiswa berpola talenta “Nelayan”, meski prodi perikanan tidak ada) membuktikan bahwa pemetaan personal ini sangat dibutuhkan. Kami menyambut baik langkah ini karena masa depan NU ada pada generasi yang mengenali jati dirinya sendiri.

2. Madrasah Teknologi Informasi & Santri Digipreneur: Membangun Kemandirian Digital
Kami memberikan perhatian khusus pada program literasi digital hingga inkubasi bisnis Santri Digipreneur. Mahasiswa NU tidak boleh hanya menjadi objek algoritma, melainkan harus berdaya sebagai subjek yang menguasai teknologi. Program pelatihan AI generatif, coding, hingga live commerce adalah bekal riil. Kami berharap ribuan mahasiswa PTNU dapat terlibat aktif dalam 12 tema bulanan Madrasah TI dan mendaftarkan inisiasi usaha mereka ke dalam program Santri Digipreneur.

3. Digital Media Community Development (DMCD) & Rebranding Budaya
Masalah utama NU di mata anak muda acapkali adalah stigma kaku. Gagasan Hype-Tahlil & Shalawat Lo-Fi, Kampung Aswaja Digital, hingga Cyber Cultural & Aswaja Content Hub adalah bentuk modernisasi budaya yang segar. BEM PTNU siap menjadi simpul kolaborasi antara kreator muda NU dengan big media dan homeless media dalam ekosistem Halaqah Media Digital NU. Kami ingin memastikan konten dakwah yang relevan dan bermakna secara personal bagi Gen Z.

4. Penguatan Inklusi dan Jaringan Diaspora
Kami juga mencatat integrasi isu disabilitas dalam setiap kanal komunikasi PBNU dan penguatan jaringan PCINU (diaspora). Ini menunjukkan bahwa wajah NU yang diusung Gus Ipang adalah NU yang inklusif, tidak mendiskriminasi kelompok marginal, dan berjejaring secara global.

Catatan Kritis dan Tawaran Kolaborasi:

Sebagai organisasi yang bergerak di basis kritis-akademis, apresiasi kami tidak bersifat buta. Kami berharap adanya transparansi, Standard Operating Procedure (SOP) yang jelas, serta metrik evaluasi (KPI) yang terukur dalam eksekusi program ini.

Sebagai wujud komitmen nyata, BEM PTNU Se-Nusantara memposisikan diri sebagai mitra strategis dalam menjadikan kampus sebagai laboratorium eksekusi. Kader-kader kami menyatakan kesiapan untuk mengambil peran aktif sebagai relawan cek fakta (anti-hoaks/deepfake), fasilitator lokal, hingga inkubator di wilayah masing-masing, sejalan dengan rencana aksi 90 hari pertama.

Gus Ipang telah menggambar peta jalan yang visioner. Kini, tugas kita bersama sebagai kaum muda Nahdliyin adalah memastikan gagasan besar ini tidak berhenti di atas kertas, melainkan berwujud nyata di ruang-ruang digital dan di tengah masyarakat.

Hidup Mahasiswa! Hidup Nahdlatul Ulama!

Achmad Baha’ur Rifqi
Presidium Nasional
BEM PTNU Se Nusantara

Bagikan