UEA  BERISIKO MENGHADAPI KRISISNYA SENDIRIAN.

Red JPN


‎Iran. Jelajahpenanews. Com – Beberapa waktu lalu pemerintahan Dubai mengusir ribuan pekerja Pakistan dari negara itu karena Pakistan menjalin hubungan dekat Arab Saudi dan Iran, apalagi Pakistan berperan menjadi mediator. Upaya damai ini tidak disukai Pak Camat Zayed karena dia inginnya Iran tetap digempur.  Ekspatriat Pakistan itu ditangkap secara mendadak, rekening bank dibekukan, dan langsung dideportasi tanpa penjelasan jelas. Ada sekitar 2 juta pekerja Pakistan di UEA. Mereka mengirim miliaran dolar setiap tahun ke Pakistan (remitansi), jadi deportasi ini sangat merugikan ekonomi Pakistan. UEA juga pernah menuntut Pakistan melunasi pinjaman sekitar 3,5 miliar dolar.


‎Sebagai tanggapan, Iran mengatakan akan minta bayaran sewa untuk kabel internet bawah laut yang melintasi wilayah Iran yang menghubungkan Dubai dengan dunia. Jika tidak mau, Iran megancam akan memutus kabel itu.  Selain itu, Iran juga akan menangani sendiri pemeliharaan kabel-kabel tersebut. Jika diputus, internet di UEA, Qatar, Bahrain, dan negara Teluk lainnya bisa terganggu parah. Namun, ada banyak kabel lain di wilayah itu, jadi tidak semua langsung mati total.


‎UEA itu  negara artifisial, sebab lebih dari 90% populasi terdiri dari warga asing. Hanya sebagian kecil yang berasal dari suku-suku arab asli. Singkatnya, UEA lebih berfungsi sebagai negara buatan yang bisa dimanfaatkan oleh setiap negara daripada sebagai bangsa sejati. Jadi, UEA sangat bergantung pada tenaga kerja luar negeri dan rentan terhadap tekanan seperti ini. Deportasi ini memengaruhi sektor konstruksi, jasa, penerbangan (seperti Etihad), kesehatan, dan perdagangan. Namun, UEA bisa mengganti dengan pekerja dari India, Bangladesh, Filipina, atau negara lain yang lebih “aman” secara politik. Meski demikian, pengusiran ekspatriat ini membuat citra UEA di mata ekspatriat negara lain tercoreng, dan makin banyak pekerja di berbagai negara yang mulai mikir-mikir jika akan bekerja di UEA.


‎Kini pilihannya adalah  UEA  harus “mengandalkan Israel sepenuhnya” atau berhenti memusuhi negara-negara Muslim lain terutama di Teluk. Namun karena hubungan UEA-Israel sudah sangat erat sejak Abraham Accords tahun 2020, dan konflik dengan Iran di 2026 mempercepat kerjasama ini, sedangkan relasi dengan Arab Saudi dan Qatar masih tegang, kemungkinan setidaknya dalam jangka pendek, UEA akan bergantung pada Israel.


‎Pejabat UEA juga sudah secara publik menyatakan bahwa mereka kecewa dengan sekutu Arab tradisional (seperti Saudi) dan lebih memilih mendekat ke Israel, AS, Inggris, dan Prancis. Karena itu, UEA saat ini disebut sebagai “mitra Arab terdekat Israel,” dan hubungannya sudah berubah dari “kerja sama diam-diam” menjadi “aliansi strategis operasional”. Israel punya perusahaan teknologi di Abu Dhabi, dan modal UEA mengalir ke startup Israel. Ada juga kerjasama drone, AI, dan industri pertahanan.


‎Beberapa analis dari kawasan Timteng dan Turki melontarkan kritik bahwa  semua ini menunjukkan betapa rapuhnya hubungan negara-negara di kawasan Teluk, meskipun negara-negara itu kaya minyak dan megah seperti UEA, namun negeri ini tidak punya prinsip yang jelas selayaknya sebagai suatu bangsa. Oleh karenanya,  meski tampak kuat karena uang, ia mudah disetir dan dijadikan boneka. Kritik ini makin sering muncul seiring dengan kebijakan-kebijakan baru di tengah ketegangan militer saat ini, seperti kebijakan untuk memperketat arus informasi dan membatasi kebebasan warga domestik maupun asing.


‎(Sc. New York Times, Economictimes, Times of  India, Dawn, Iranitnl, NewArab, Asiatimes, Russen Press).


‎#iran #UAE #war #

Bagikan