BEN-GURION

Reporter : karjoko

Iran.Jelajahpenanews. Com – Iran seperti menggunakan strategi “pretheli dhisik, liyane pikir karo mlaku.” Berturut-turut IRGC mentargetkan berbagai infrastruktur vital.

Berdasarkan data dari sumber kredibel seperti Institute for the Study of War (ISW), Alma Research Center, dan laporan resmi militer, target yang sudah hancur atau mengalami kerusakan adalah: Infrastruktur ekonomi dan bisnis dan kawasan industri di kota Holon, Bat Yam, dan Or Yehuda, pangkalan Udara Palmachim & Ovda strategis, yang menampung skuadron jet tempur dan sistem pertahanan rudal, pembangkit listrik (Hadera), fasilitas nuklir Dimona dan banyak lagi. Baru-baru ini bandara internasional Ben Guiron pun kena menyebabkan penerbangan lumpuh sementara ini.

Nama bandara itu diambil dari pendiri Israel dan perdana menteri pertama, David Ben-Gurion. Lahir di Płońsk, Polandia (saat itu bagian dari Kekaisaran Rusia), Ben-Gurion tumbuh di lingkungan yang kental dengan gerakan Zionisme. Ayahnya adalah seorang pengacara yang aktif dalam gerakan Lovers of Zion.

Pada usia 17 tahun, ia pindah ke Warsawa dan bergabung dengan kelompok sosialis Zionis, Poale Zion. Keyakinannya sederhana namun radikal: orang Yahudi tidak akan pernah aman di Eropa dan harus kembali ke tanah leluhur mereka di Palestina untuk menjadi petani dan pekerja, bukan hanya intelektual atau pedagang.

Selama PD I, Ben-Gurion sempat diasingkan oleh penguasa Ottoman karena aktivitas Zionisnya. Ia pergi ke Amerika Serikat, di mana ia bertemu istrinya, Paula, dan membantu merekrut orang Yahudi untuk Legiun Yahudi guna membantu Inggris merebut Palestina dari Ottoman. Dia kemudian menyatukan berbagai milisi Yahudi radikal (terutama Haganah) menjadi kekuatan militer yang terorganisir (IDF). Setelah memproklamasikan kemerdekaan Isrhell, Gurion Membawa ratusan ribu orang Yahudi dari seluruh dunia (Eropa dan negara Arab) ke Israel.

Ben Gurion adalah arsitek di balik program nuklir Israel di Dimona (dengan bantuan Prancis) untuk memastikan kelangsungan hidup Israel dalam jangka panjang. dalam peristiwa Nakba, Ben-Gurion secara spesifik memberikan perintah (melalui Yitzhak Rabin saat itu) untuk mengusir penduduk Arab guna memastikan jalur strategis menuju Yerusalem aman dari “elemen musuh”.

Atas perintah Gurion, Ariel Sharon, pasukan khusus Ishell melakukan serangan ke desa Qibya di Tepi Barat (saat itu di bawah Yordania) sebagai balasan atas pembunuhan seorang ibu dan dua anak Israel, menewaskan korban dalam jumlah besar, sebagian besar wanita dan anak-anak yang bersembunyi di dalam rumah.

Meskipun ia juga membawa ratusan ribu Yahudi dari negara-negara Arab (Mizrahi) ke Israel, pendekatannya sangat kontroversial. Ben-Gurion dan elit Ashkenazi (Yahudi Eropa) menganggap budaya Yahudi Arab sebagai budaya yang “terbelakang”. Banyak imigran Yahudi Mizrahi ditempatkan di kamp-kamp transit (Ma’abarot) yang kumuh di daerah terpencil atau gurun, sementara Yahudi Eropa mendapatkan prioritas perumahan di pusat kota.

Dalam buku “The Jewish Paradox” (terbit tahun 1978) yang ditulis oleh Nahum Goldmann (presiden World Jewish Congress) serta teman dekat sekaligus kritikus David Ben-Gurion, di halaman 99 di beberapa edisi, Goldmann menceritakan percakapan pribadi yang jujur antara dirinya dan Ben-Gurion di rumah Ben-Gurion. Ben-Gurion berkata:

“Jika saya menjadi pemimpin Arab, saya tidak akan pernah menandatangani perjanjian dengan Israel. Itu wajar saja: kita telah mengambil negara mereka. Memang benar Tuhan menjanjikannya kepada kita, tetapi apa hubungannya dengan mereka? Tuhan kita bukan tuhan mereka. Kita berasal dari Israel, itu benar, tetapi itu dua ribu tahun yang lalu, dan apa hubungannya dengan mereka? Ada anti-Semitisme, Nazi, Hitler, Auschwitz, tetapi apakah itu kesalahan mereka? Mereka hanya melihat satu hal: kita datang dan mencuri negara mereka. Mengapa mereka mau menerima [kesepakatan] itu?”

Jika “Bapak negara Israel” sudah mengakui begitu, timbul pertanyaan di banyak pengamat politik: mengapa raja-raja muslim sunni di arab menjalin kesepakatan dan bahkan membela ishell?

(sc. BBC, Jazeera, The Guardian)

Bagikan