AS. Jelajahpenanews. COM – Strategi “Guardian of the Hormuz” milik Donald Trump kini berada di bawah tekanan besar. Setelah beberapa hari mengguncang pasar energi global dengan ancaman untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz dan memungut tarif 20% bagi kapal kargo yang melintas, Presiden Donald Trump hari ini menarik kembali ancaman pungutan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa blokade Amerika Serikat terhadap Iran akan tetap berlanjut.
Langkah mundur ini dibaca oleh banyak analis sebagai tanda bahwa Gedung Putih sedang kesulitan menemukan jalan keluar dari konflik yang kembali berkobar setelah gencatan senjata tiga bulan dinyatakan “bocor” dan tidak berlaku lagi.
Pasca serangkaian serangan udara balasan antara pasukan AS dan Iran, Trump kini berhadapan dengan realitas lapangan yang brutal: Iran menolak tunduk, dan klaim Tehran bahwa selat tersebut ditutup demi mengakhiri “campur tangan AS” terus memicu volatilitas harga minyak mentah dunia.
Trump sempat menyebut AS sebagai “penjaga” selat yang vital bagi 20% pasokan energi dunia ini, namun desakan untuk mendapatkan kompensasi finansial justru memperumit posisi tawar AS di mata sekutu internasionalnya.
Sementara itu, Pentagon terus meluncurkan serangan udara untuk menurunkan kemampuan militer Iran dalam mengganggu pelayaran komersial. Namun, di saat bersamaan, suara-suara di Washington mulai mempertanyakan apakah strategi tekanan maksimum ini benar-benar membawa perdamaian, atau justru menjebak AS dalam konflik berkepanjangan yang tidak kunjung usai.
Di tengah gempuran serangan drone dan rudal, masa depan salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia ini kini menjadi taruhan utama dalam pertaruhan geopolitik global.








