Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Dalam sejarah panjang Tentara Nasional Indonesia, jabatan Panglima TNI lebih sering dipegang oleh perwira tinggi dari Angkatan Darat. Namun, ada momen-momen penting ketika putra terbaik dari Angkatan Udara tampil memimpin seluruh matra. Mereka bukan hanya simbol keseimbangan antarangkatan, tetapi juga representasi kepemimpinan strategis di tingkat tertinggi militer Indonesia.
Berikut tiga Marsekal TNI AU yang pernah menduduki posisi Panglima TNI:
- Hadi Tjahjanto
Lahir di Malang pada 8 November 1963, Hadi Tjahjanto merupakan sosok yang paling dikenal publik modern. Ia menjabat sebagai Panglima TNI sejak 8 Desember 2017 setelah dilantik oleh Joko Widodo.
Masa kepemimpinannya berlangsung hampir empat tahun hingga November 2021. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU). Setelah pensiun dari militer, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang sejak 2022. Kepemimpinannya dikenal adaptif, terutama dalam menghadapi dinamika keamanan modern dan transformasi organisasi TNI. - Djoko Suyanto
Marsekal Djoko Suyanto lahir di Madiun pada 2 Desember 1950. Ia menjabat sebagai Panglima TNI pada 13 Februari 2006, dilantik oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Meskipun masa jabatannya relatif singkat, sekitar satu tahun lebih, perannya cukup signifikan dalam menjaga stabilitas nasional pasca reformasi. Setelah pensiun, ia melanjutkan pengabdian sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (2009–2014), memperlihatkan kapasitasnya tidak hanya di militer tetapi juga di ranah pemerintahan sipil. - Soerjadi Soerjadarma
Lahir di Banyuwangi pada 6 Desember 1912, Soerjadi Soerjadarma adalah pionir Angkatan Udara Indonesia. Ia diangkat oleh Soekarno sebagai tokoh penting dalam pembentukan AURI pada 1945, dan kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Udara pertama pada 1946.
Pada periode 1959–1961, ia menjabat sebagai pemimpin tertinggi angkatan bersenjata, saat jabatan tersebut masih dikenal sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KASAB). Perannya sangat krusial dalam meletakkan fondasi kekuatan udara Indonesia di masa awal kemerdekaan.
Sumber : Sindonews.com








