STRATEGI PERTARUHAN KEDAULATAN DAN HARGA DIRI

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Di waktu yang hampir bersamaan Indonesia melakukan diplomasi ekonomi dan militer ke dua negara yang sedang musuhan, AS – Rusia: Pakwowo ke Pakputing Rusia. PakSapri ke Pakbuseth Amerika.

Netijen jelas ribut pro-kontra. Dan seperti biasa ada analisis juga. Ringkasan analisis dari berbagai sumber itu seperti biasa saya tulis dengan bahasa sehari-hari di bawah ini:

Manuver “zigzag” Indonesia ini konon adalah penerapan jurus “Bebas Aktif” versi 4.0. Indonesia kasih pesan: aku ra melu-melu, sing penting aman. Males dianggap antek AS tapi ya males dianggap antek Rusia. Mirip sistem ekonomi jaman Mbah Harto: dianggap kapitalis ga mau, dianggap sosialis ga mau; bikin sistem sendiri namanya ekonomi Pancasila.

Intinya, Indonesia sejak awal mau temenan sambil liat-liat situasi mana yang lebih menguntungkan.

Pertama-tama, ini soal shopping list alutsista. Kita tahu sendiri kalau belanja ke AS itu prosedurnya ribet dan penuh syarat politik dalam perjanjian MDCP. Dengan tetap menjalin kontak sama Rusia, Indonesia seolah-olah bilang ke AS: “Eh, kita tetap loyal kok, tapi jangan macem-macem ya, kita juga punya akses ke sebelah.”

Lalu jaga-jaga kalau “bensin” macet gara² perang ga kelar-kelar karena harga minyak naik. Konflik AS-Iran itu taruhannya adalah Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia. Kalau itu mampet, harga bensin bisa naik-naik ke puncak gunung. Dengan merapat ke Pakputing (raja minyak dan gas), Indonesia nyoba nyari suplai alternatif. Jadi kalau suplai energi dari Timur Tengah keganggu, Indonesia sudah punya “orang dalam” di Rusia buat urusan energi dan ekonomi.

Pakwowo pernah bilang mau jadi juru damai. Tapi karena keduluan Pakistan, maka dia cari cara lain yang rada ribet. Kadang, negara besar itu butuh perantara yang nggak “berisik” buat kirim pesan rahasia. Dengan posisi Indonesia yang kayak bermuka dua ini punya akses kedua belah pihak dan bisa speak-speak lewat pintu belakang Iran.

Abis ini kabarnya Indonesia juga mau ketemu Pak Jiping. Ini urusannya
ada kaitannya dengan Selat Malaka.

Pakpedo tau Selat Malaka itu adalah tenggorokan minyak China. Sekitar 80% impor minyak China lewat sana. Kalau jalur ini sampai “dicekik” atau diblokade oleh kekuatan militer (seperti AS dan sekutunya), ekonomi China bisa lumpuh dalam hitungan minggu. Di sinilah strategi Trump untuk memegang Indonesia jadi sangat krusial. Dengan memperkuat pengaruh di titik-titik chokepoint ini, AS punya kartu as untuk menekan lawan bicaranya.

Pertemuan Presiden Prabowo dengan Xi Ji ping di Beijing (yang dijadwalkan nanti setelah manuver ke Rusia dan AS ini) bakal jadi momen “penyeimbang.” Indonesia nggak akan datang dengan tangan kosong atau sekadar basa-basi.

Berdasarkan situasi terkini di April 2026, Indonesia kemungkinan besar bakal bilang:

“Tenang, Ji, Selat Malaka tetap aman dan terbuka buat dagang, asalkan situ orang gausah gangguin kita di Natuna Utara.”

Setelah Paksaprie kabarnya membuka akses ruang udara untuk AS (sebagai bagian dari kesepakatan dengan Pete Hegseth), Indonesia butuh sesuatu buat “menyogok” China. Indonesia mungkin akan nawarin proyek-proyek strategis baru, mungkin lewat Danantara (Sovereign Wealth Fund yang baru), untuk menarik modal China di bidang hilirisasi mineral atau energi hijau.

Terakhir, ada isu UUV (Drone Bawah Laut). Baru-baru ini ada isu penemuan drone bawah laut (Underwater Unmanned Vehicle) yang diduga milik China di Selat Lombok. Prabowo kemungkinan akan membawa isu ini secara halus. Gayanya bukan melabrak, tapi mungkin lebih ke:

“Yuk, kita bikin aturan main bareng soal teknologi bawah laut biar nggak ada salah paham di masa depan.”

Terus Iran piye?
Iran cenderung ga suka meski Iran juga tahu bahwa survei menyebutkan lebih dari 80% warga Indonesia mendukung Iran. Dukungan ini malah dijadikan bekal pakwowo buat diplomasi. Indonesia mungkin akan mainin kartu saudara sesama muslim & Global South. Indo bisa bilang, “santai dulu ga sih, rakyat kita dukung kalian kok. Ini kami lagi cara buat bantu kalian.” Relasi Indonesia-Iran bisa lewat backdoor alias pintu belakang. Ada banyak caranya.

Karena Indonesia juga kerja sama dengan Pakputing Rusia, Pakwowo bisa menawarkan kerja sama yang sifatnya tripartite (tiga pihak). Misalnya, Indonesia bisa mengusulkan kerja sama ekonomi atau energi yang melibatkan Rusia, sehingga Iran tetap bisa bernapas di tengah sanksi berat dari AS. Ini cara halus buat bilang: “Kita nggak bisa lawan sanksi AS secara terbuka, tapi kita bisa cari jalan muter lewat kawan-kawan kita di Timur.”

Jadi kata pengamat geopolitik, Indonesia lagi main strategi “asuransi geopolitik”. Kita nggak tahu kapan konflik AS-Iran bakal meledak total, jadi daripada taruhan di satu meja, kita sebar chip di semua meja.

Tetapi ya namanya analisa bisa salah. Yang jelas Pakwowo sedang bertaruh dengan resiko kehilangan sebagian kedaulatan negeri kita jika diplomasi gagal. Langkah deketin semua pihak dengan prinsip bebas aktif ini sebenere sama saja mendekatkan Indonesia untuk kesamber efek konflik AS-Iran. Sebab, tetangga kita yang deket Selat Malaka, Malaysia jelas nolak pengaruh AS dan Isrhell, sedang Singapura udah bilang nentang Iran. Mereka pasti bereaksi.

Kini warga Indonesia Raya hanya bisa nonton denga harap-harap cemas, khawatir, skeptis, bertanya-tanya mampukah diplomat kita bermain api di dua kaki ini dengan lihai atau malah keblondrok dan ketipu, dan bagaimana nasib kedaulatan bangsa dan negara dan perekonomian nasional setelah ini.

Mumet lah

(Sc. Geopolitical Analysis, Finance, Kompas, The Insider, CNN, Reuters, Antara, Warclandestine/x).

Bagikan