Medan. Jelajahpenanews. Com – Di tengah bara Revolusi Kemerdekaan, ketika kota Medan menjadi medan pertarungan antara kekuatan Republik dan kolonial, muncul satu nama yang membekas dalam ingatan sejarah: Pao An Tui (PAT). Bagi sebagian kalangan, mereka adalah pelindung komunitas. Namun bagi pejuang Republik, PAT menjelma menjadi ancaman mematikan pasukan bayangan yang bergerak licin, cepat, dan mematuk seperti ular dari kegelapan.
Awal Mula: Dari Penjaga Komunitas Menjadi Alat Perang
Pada awal 1946, kawasan pecinan di Pasar Sentral Medan hidup dalam dua wajah: siang yang tenang, malam yang mencekam. Dentuman tembakan kerap memecah sunyi. Dalam situasi kacau itu, komunitas Tionghoa dipersenjatai oleh NICA dan membentuk barisan keamanan sendiri: Pao An Tui.
Awalnya, tujuan mereka sederhana melindungi toko dan harta benda dari aksi perampokan yang marak terjadi sebagai dampak revolusi. Namun seiring waktu, peran mereka berubah drastis. PAT tidak lagi sekadar bertahan, melainkan ikut aktif dalam operasi militer bersama tentara Belanda dan Inggris, menghadapi laskar-laskar Republik dan Tentara Republik Indonesia.
Teror dari Loteng dan Sudut Kota
Dengan persenjataan yang lebih modern dan dukungan logistik yang kuat, PAT menjadi kekuatan yang sulit ditandingi. Mereka kerap menembaki pejuang Indonesia dari tempat-tempat tak terduga loteng rumah, atap pertokoan, hingga sudut gelap kota.
Pasar-pasar dan pusat keramaian berada di bawah kontrol ketat mereka. Setiap orang yang melintas diperiksa. Bahkan, metode mereka dalam mendeteksi “musuh” tergolong unik sekaligus mengerikan: siapa pun yang memiliki bahu keras diduga akibat gesekan tali senapan langsung dicurigai sebagai gerilyawan dan ditangkap.
Tak jarang, interogasi berujung tragis. Sejumlah korban dikabarkan tewas, dan jenazah mereka dibuang di lokasi tersembunyi seperti kawasan semak di Jalan Tempel tempat yang kemudian dikenal sebagai titik eksekusi diam-diam.
Taktik Licik dan Penyusupan Mematikan
Keunggulan PAT bukan hanya pada senjata, tetapi juga taktik. Dalam beberapa operasi militer, mereka menyusup ke wilayah Republik dengan menyamar sebagai pejuang. Salah satu aksi paling mencolok terjadi dalam serangan ke Deli Tua pada Mei 1946.
Dengan kendaraan tempur Belanda yang dihias bendera putih dan nama-nama tokoh laskar, mereka berpura-pura sebagai pasukan Republik yang berhasil merebut perlengkapan musuh. Warga yang tertipu menyambut mereka tanpa menyadari bahwa “pahlawan” yang datang justru membawa ancaman. Begitu kepercayaan didapat, penggeledahan dan penindakan pun dilakukan.
Taktik ini membuat PAT dikenal sebagai pasukan dengan gaya bertempur “ular mematuk” diam, cepat, dan mematikan dari arah tak terduga.
Dibenci dan Ditakuti
Dalam Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947 bagian dari Agresi Militer Belanda I—PAT kembali memainkan peran penting. Mereka membantu pasukan Belanda menembus pertahanan Komando Medan Area dengan serangan dari belakang, memanfaatkan celah-celah kota.
Bagi pejuang Republik, PAT bukan sekadar lawan mereka adalah simbol pengkhianatan. Sementara di sisi lain, banyak anggota PAT memandang pejuang Indonesia sebagai ancaman terhadap keamanan komunitas mereka. Kesalahpahaman ini memperdalam jurang permusuhan.
Akibatnya, hubungan antara komunitas Tionghoa dan pejuang Republik di Medan menjadi sangat tegang. PAT pun akhirnya diidentikkan sebagai alat kolonialisme ditakuti sekaligus dibenci.
Warisan Kelam dalam Sejarah Revolusi
Kisah Pao An Tui adalah potret kompleks dari masa revolusi tentang ketakutan, kepentingan, dan pilihan-pilihan sulit di tengah kekacauan. Mereka lahir dari kebutuhan akan perlindungan, namun berkembang menjadi kekuatan militer yang berseberangan dengan perjuangan kemerdekaan.
Di balik setiap peluru yang ditembakkan dan setiap operasi yang dijalankan, tersimpan pelajaran penting: bahwa dalam perang, garis antara pelindung dan penindas bisa menjadi sangat tipis dan sejarah akan selalu mengingat bagaimana garis itu dilampaui.
Sumber : Historia.id








