Jakarta. Jelajahpenanews. COM – Hubungan dagang Indonesia dengan salah satu negara berkekuatan nuklir di Asia Selatan ini ternyata menyimpan peluang besar yang belum sepenuhnya tergarap. Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, mengungkapkan bahwa negaranya memiliki kapasitas kilang yang siap mengolah minyak sawit mentah atau CPO langsung dari Indonesia.
Dalam paparan media yang berlangsung Jumat, 26 Juni 2026, Zahid menjelaskan visi besar di balik tawaran ini. “Apa yang kami inginkan adalah Indonesia mengekspor minyak sawit mentah (CPO) ke Pakistan untuk diproses dan dimurnikan di kilang-kilang kami. Setelah itu, produknya tidak hanya dipasarkan di Pakistan, tetapi juga didistribusikan ke Timur Tengah, Asia Tengah, hingga Afrika,” ujarnya.
Bukan tanpa alasan Pakistan menjadi mitra penting di sektor ini. Negara tersebut memang sudah lama menjadi salah satu pembeli terbesar minyak sawit Indonesia, dengan nilai impor CPO dari Indonesia mencapai sekitar US$4 miliar atau setara Rp71,9 triliun per tahun.
Menurut Zahid, skema kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak. Bagi Indonesia, permintaan CPO yang stabil akan memberikan kepastian pasar bagi industri sawit nasional, termasuk para petani swadaya yang menggantungkan hidup dari komoditas ini. Sementara bagi Pakistan, pasokan minyak sawit yang konsisten menjadi kunci penting menjaga ketahanan pangan di tengah ketidakpastian harga pangan global.
Tawaran ini muncul di tengah evaluasi hubungan dagang kedua negara, terutama setelah pemerintah Indonesia memperketat aturan ekspor CPO melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI, serta penerapan kewajiban pasokan domestik atau Domestic Market Obligation. Kebijakan baru ini mulai mendapat respons dari berbagai negara mitra dagang, termasuk Pakistan.
Bagi Pakistan, hubungan dagang bernilai miliaran dolar ini seharusnya tidak hanya berhenti pada jual beli bahan mentah semata. Mereka berharap kerja sama ini bisa berkembang menjadi kolaborasi industri yang benar-benar memberi nilai tambah bagi kedua negara, bukan sekadar hubungan eksportir dan importir biasa.








