Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik sekaligus kritikus paling vokal dalam sejarah ekonomi-politik modern. Dr. Ir. H. Rizal Ramli, M.A. (1954–2024), tokoh yang dijuluki “Sang Penerobos”, berpulang pada awal Januari 2024, meninggalkan warisan pemikiran yang selalu berpihak pada ekonomi kerakyatan.
Lahir di Padang, Sumatera Barat, Rizal adalah sosok yang membuktikan bahwa integritas seorang intelektual tidak boleh luntur, meski ia berada di dalam maupun di luar lingkaran kekuasaan.
Masa Kecil yang Keras: Yatim Piatu di Usia 8 Tahun
Perjalanan hidup Rizal tidaklah mudah. Ia menjadi yatim piatu di usia delapan tahun setelah kehilangan kedua orang tuanya. Dibesarkan oleh neneknya di Bogor, Rizal tumbuh menjadi pemuda yang mandiri. Ia sempat bekerja di percetakan hingga menjadi penerjemah bahasa Inggris demi membiayai kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Jiwa aktivisnya meledak saat mahasiswa. Pada tahun 1978, ia harus mendekam di penjara karena kritik tajamnya terhadap kebijakan rezim Orde Baru. Namun, jeruji besi justru menguatkan tekadnya. Ia kemudian terbang ke Amerika Serikat dan meraih gelar Doktor Ekonomi dari Boston University pada tahun 1990.
Sang Penyelamat Ekonomi di Era Gus Dur
Nama Rizal Ramli melambung saat dipercaya oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selama masa baktinya yang singkat namun krusial, ia mencatatkan berbagai terobosan fenomenal:
Menyelamatkan PLN: Tanpa suntikan dana pemerintah, ia melakukan revaluasi aset yang membuat modal PLN melonjak dari minus Rp9 triliun menjadi surplus Rp119,4 triliun.
Reformasi Bulog: Hanya dalam 6 bulan, ia mengubah Bulog menjadi lembaga yang transparan dan menguntungkan dengan memangkas ratusan rekening menjadi hanya sembilan.
Efisiensi Telkom-Indosat: Mendorong penghapusan kepemilikan silang untuk menciptakan kompetisi sehat di dunia telekomunikasi.
“Rajawali Ngepret” di Kabinet Jokowi
Setelah lama berada di luar pemerintahan, Rizal kembali dipanggil oleh Presiden Joko Widodo pada 2015 sebagai Menko Kemaritiman. Di sinilah istilah “Kepret” menjadi viral. Rizal tidak segan mengkritik kebijakan rekan sejawatnya sendiri jika dianggap merugikan negara—mulai dari proyek listrik 35.000 MW hingga rencana pembelian pesawat Garuda.
Baginya, jabatan hanyalah alat untuk mengabdi. Ia bahkan pernah menolak jabatan internasional sebagai Sekjen ESCAP di PBB karena lebih memilih fokus membenahi Indonesia.
Intelektual Kelas Dunia yang Diakui PBB
Reputasi Rizal diakui secara global. Ia pernah menjadi anggota tim panel penasihat ekonomi PBB bersama para peraih Nobel Ekonomi seperti Amartya Sen. Pemikirannya yang tidak konvensional namun tepat sasaran membuatnya disegani di forum-forum ekonomi dunia.
Warisan Keberanian
Hingga akhir hayatnya, Rizal Ramli tetap konsisten dengan gaya bicaranya yang lugas dan tajam. Meski sering memicu kontroversi, survei publik sering menempatkannya sebagai salah satu menteri dengan kinerja terbaik karena keberaniannya membongkar ketidakadilan.
Rizal Ramli telah pergi, namun semangat “Rajawali” yang ia gaungkan akan selalu menjadi pengingat: bahwa kepentingan rakyat harus selalu berada di atas kepentingan elit. Selamat jalan, Sang Penerobos dari Ranah Minang.
Sumber: Wikipedia








