Jakarta. Jelajahpenanews. COM – Senin malam, 6 Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto baru saja melepas kepulangan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan menyambut kedatangan Perdana Menteri India Narendra Modi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Di sela dua agenda kenegaraan besar dalam satu hari itu, ada satu pertemuan lagi yang menunggu — bukan di istana, bukan di ruang formal, melainkan di kediaman pribadi Prabowo di Jalan Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Tamu malam itu adalah Sir Anthony Charles Lynton Blair — atau Tony Blair, nama yang lebih dikenal dunia. Mantan Perdana Menteri Inggris itu datang bukan sebagai tamu protokoler biasa. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menggambarkan suasana pertemuan sebagai pertemuan dua kawan lama yang sudah melewati banyak perjalanan bersama.
“Pertemuan antara dua kawan lama ini menjadi momen penting untuk bernostalgia sekaligus bersilaturahmi. Dalam kesempatan tersebut, keduanya juga saling berbagi pandangan mengenai berbagai perkembangan strategis global,” kata Teddy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/7/2026).
Tony Blair bukan wajah baru di lingkaran kebijakan Indonesia. Pria kelahiran Edinburgh, Skotlandia, 6 Mei 1953 ini merupakan perdana menteri Inggris termuda sejak 1812 ketika ia dilantik pada 1997, dan menjadi pemimpin Partai Buruh dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah negara itu — sepuluh tahun penuh hingga 2007. Setelah meninggalkan Downing Street, Blair mendirikan Tony Blair Institute for Global Change (TBI), sebuah lembaga yang aktif memberikan konsultasi kebijakan kepada pemerintah di berbagai belahan dunia.
Hubungannya dengan Indonesia sudah terjalin sejak era Presiden Joko Widodo. Saat ambisi pemindahan ibu kota negara ke Nusantara sedang membutuhkan legitimasi internasional, Jokowi menggandeng Blair sebagai anggota Dewan Penasihat IKN — bersama sejumlah tokoh global lain termasuk Putra Mahkota Abu Dhabi Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan pendiri SoftBank Masayoshi Son. TBI kemudian menandatangani kerja sama dengan Otorita IKN pada November 2023, mencakup pengembangan pendidikan, kesehatan, hingga potensi investasi di ibu kota baru.
Di era Presiden Prabowo, keterlibatan Blair berlanjut ke dimensi yang lebih strategis. CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani mengonfirmasi pada Februari 2025 bahwa Blair masuk dalam jajaran Danantara — lembaga pengelola aset BUMN senilai lebih dari Rp14 ribu triliun yang resmi diluncurkan Prabowo pada 24 Februari 2025 itu.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan tidak menyembunyikan kedekatan tersebut. “Iya bagus, Tony Blair teman baik ya,” katanya saat dimintai komentar. Luhut bahkan mengungkap bahwa Blair selama ini sudah lama membantu pemerintah Indonesia, termasuk dengan menempatkan sejumlah stafnya di Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi semasa Luhut menjabat.
Sekretariat Kabinet menyatakan pertemuan malam itu mencerminkan komitmen pemerintah untuk terus mempererat hubungan dengan tokoh-tokoh internasional, guna memperkuat posisi dan daya saing Indonesia di kancah global.
Kunjungan Blair ke Jakarta kali ini rupanya bukan sekadar silaturahmi. Sebelum bertemu Prabowo di Kertanegara, Blair juga sempat bertemu dengan Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintahan (KPTDP) dan Kementerian PANRB untuk membahas perkembangan pemerintahan digital, serta bertemu Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk mendiskusikan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pembangunan manusia Indonesia.
Di Jakarta, Tony Blair bukan sekadar tamu dari masa lalu. Ia sudah lama menjadi bagian dari kalkulasi Indonesia untuk masa depan.








