Kreativitas Warga, Sampah Plastik Diolah Jadi Solar dan Bensin

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Rehat sejenak memajang wajah koruptor dan para penjilat. Sesekali kita acungkan jempol buat kreativitas warga. Sampah plastik bisa diolah menjadi solar dan bensin. Bahkan, ada yang menjualnya bebas di pinggir jalan. Simak narasinya sambil, seruput Koptagul, wak!

Negeri ini memang semakin ajaib. Plastik biasanya dibuang ke sungai, menyumbat got, bikin banjir, lalu disalahkan kepada hujan. Sekarang plastik itu malah bisa berubah menjadi bahan bakar seperti solar dan bensin.

Kresek bekas, bungkus mi instan, sachet kopi, plastik multilayer yang selama ini cuma dianggap penghuni tetap selokan, ternyata punya masa depan cerah. Namanya Petasol, bahan bakar hasil olahan sampah plastik yang kualitasnya setara solar.

Angka setananya 51–56. Biosolar biasa? Sekitar 48-an. Plastik ternyata bukan sampah. Dia cuma calon BBM salah tempat.

Prosesnya menggunakan teknologi pirolisis pada suhu 250–350 derajat Celsius tanpa oksigen. Satu kilogram sampah plastik tadinya dihargai cuma Rp100–Rp1.000, bisa menghasilkan 0,8–1 liter bahan bakar.

Biaya produksinya? Komunitas Get Plastic di Bali menghitung sekitar Rp7.000 per liter. Keuntungan bersihnya bisa Rp4.000–Rp4.700 per liter.

Waduh! Selama ini kita membuang plastik. Rupanya yang kita buang bukan sampah, tetapi calon duit.

Kementerian ESDM juga sudah memberi lampu hijau. Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut sampah plastik dapat menjadi BBM terbarukan, bahkan listrik. Perizinannya melalui KBLI 38211. Setelah spesifikasi diverifikasi, produk bisa dijual secara B2B.

Target pemerintah pun bukan main-main, tambahan 610 barel per hari pada 2026. BRIN sudah melisensikan teknologi ini, termasuk kepada Bank Sampah Banjarnegara yang menggunakan katalis bentonite teraktivasi garam.

Hasil uji Lemigas dan laboratorium BRIN menunjukkan Petasol aman digunakan untuk perahu nelayan, traktor, genset, mobil Cruiser, Fortuner, hingga truk engkel.

Di Imogiri, Bantul, KSM Pilah Berkah mengolah 50 kilogram plastik per hari menjadi 40–47 liter Petasol. Di Cimahi, kapasitas 75 kilogram per hari menghasilkan 60–70 liter, dengan angka setana 54–56.

Di Tanjungpinang, 10 kilogram plastik berubah menjadi 6–7 liter campuran solar, minyak tanah, dan premium.

Sementara Get Plastic di Badung, Bali, sudah menyebarkan lebih dari 40 mesin ke luar Bali. Total replikasi teknologinya sudah lebih dari 60 lokasi di seluruh Indonesia. Lebih gila lagi, emisi CO₂e turun hingga 79 persen dibandingkan sampah dibakar sembarangan.

Petani bisa mengurangi ketergantungan kepada pengecer. Nelayan bisa menghemat biaya operasional. Bank sampah punya sumber pendapatan baru. Selama ini kita sibuk mencari energi alternatif, padahal energinya mungkin sedang nongkrong di tong sampah.

Kita antre BBM sambil ngomel. Plastik menumpuk sambil ngomel. Pemerintah bikin program sambil rapat. Masyarakat bikin teknologi sambil bekerja.

Yang satu punya sampah. Yang satu punya teknologi. Yang satu lagi punya potensi duit. Tinggal bagaimana semuanya disambungkan.

Ini bukan sekadar soal mengubah plastik menjadi BBM. Ini soal mengubah cara berpikir. Sampah tidak selalu berarti masalah. Kadang dia cuma bahan bakar yang belum diproses.

Nuan bayangkan kalau setiap desa punya mesin pirolisis. Plastik dikumpulkan, dipilah, diproses, lalu menjadi energi. Sungai lebih bersih, sampah berkurang, ekonomi bergerak.

Tapi jangan terlalu cepat bahagia. Jangan sampai nanti kita bikin program nasional “Satu Rumah Satu Kresek” demi mengejar target produksi. Karena kalau plastik sudah bisa jadi solar, bisa-bisa besok orang bukan lagi buang sampah ke tong. Malah rebutan tong sampah.

“Bang, bagaimana kalau sampah masyarakat. Kan banyak itu mulai dari kalangan elite sampai kampung.”

“Wah, kalau sampah masyarakat model itu susah mau diolah jadi solar atau bensin. Malah mereka nimbunnya di belakang rumah.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Bagikan