Moskow, Jelajahpenanews. Com – Dari Moscow kabar itu datang langsung. Tanggal 13 April 2026, di sela forum Cosmonautics Day di Rusia, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, menegaskan komitmen Indonesia untuk membangun bandar antariksa pertama di Asia Tenggara — dan Pulau Biak, Papua, adalah lokasinya.
“Tujuan utama kunjungan kami adalah untuk mempromosikan kegiatan antariksa Indonesia dan memperkuat kerja sama dengan Rusia, khususnya dalam pengembangan sektor antariksa,” kata Arif dalam wawancara dengan saluran Russia Today.
Ini bukan sekadar pernyataan diplomatis. Di balik kata-katanya, ada rencana konkret yang sudah lama dipersiapkan — dan kini mulai bergerak serius.
Mengapa Biak?
Jawabannya sederhana: geografi. Posisi Pulau Biak yang sangat dekat dengan garis khatulistiwa memberikan keuntungan rotasi bumi, yang memungkinkan peluncuran roket menuju orbit rendah dengan konsumsi bahan bakar yang jauh lebih efisien. Selain itu, orientasi wilayah Biak yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik menciptakan koridor peluncuran yang relatif aman karena meminimalkan risiko jatuhnya puing ke kawasan berpenduduk. Kombinasi ini menjadikan Biak sebagai salah satu titik peluncuran paling ideal di seluruh kawasan Asia-Pasifik.
Bukan ide baru. Studi awal terkait pembangunan bandar antariksa domestik sudah dimulai sejak 1985, ketika lembaga antariksa Indonesia sebelum dilebur ke BRIN mengidentifikasi kawasan Desa Saukobye, Biak Numfor, seluas sekitar 100 hektare sebagai lokasi potensial. Selama hampir empat dekade, rencana itu tertahan oleh berbagai tantangan: regulasi, pendanaan, hingga prioritas pembangunan nasional. Kini, hambatan-hambatan itu perlahan terurai.
Siapa saja yang terlibat?
Indonesia tidak berjalan sendiri. BRIN menjalin kerja sama strategis dengan Roscosmos State Space Corporation dari Rusia melalui kemitraan yang melibatkan Glavkosmos dan PT Uniresources Petroleum Indonesia. Nota kesepahaman yang ditandatangani pada 2023 menjadi fondasi kolaborasi teknologi, operasional, dan pengembangan bisnis spaceport.
Dalam kunjungan ke Moskow, Arif Satria bertemu langsung dengan Direktur Jenderal Roscosmos Dmitry Bakanov untuk membahas skema kerja sama antara BRIN dan badan antariksa Rusia tersebut. Pembahasan juga dilakukan dengan Glavkosmos terkait persiapan pembangunan fasilitas peluncuran di Biak.
Ini bukan sekadar membangun landasan roket. Spaceport Biak dirancang sebagai bandar antariksa komersial yang dapat digunakan oleh berbagai entitas — baik publik maupun swasta, domestik maupun internasional. Artinya, Indonesia membuka pintu bagi perusahaan peluncuran roket global untuk menjadikan Biak sebagai basis operasi mereka di kawasan Asia.
Bukan hanya soal roket, tapi juga satelit. Arif mengungkapkan bahwa pada akhir 2026, Indonesia berencana meluncurkan mikrosatelit baru dengan resolusi dan kemampuan yang lebih baik, untuk mendukung pemantauan lingkungan, ketahanan pangan, dan mitigasi bencana.
Gambaran besarnya adalah kedaulatan. Bukan hanya di darat dan laut, tapi juga di orbit. “Di masa lalu, kita fokus pada sumber daya darat dan maritim. Kini, antariksa menjadi frontier baru untuk pertumbuhan ekonomi,” kata Arif.
Jika proyek ini terealisasi sesuai target, Indonesia akan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki spaceport operasional sendiri. Dari Papua, Indonesia tak lagi sekadar menyaksikan roket orang lain meluncur ke langit. Kali ini, giliran Indonesia yang mengangkat kepalanya — dan melihat orbitnya sendiri.








