Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Di balik dinamika kepemimpinan Orde Baru, terdapat sejumlah figur penting yang memegang peran sentral di lingkaran dalam Istana Negara. Salah satu sosok yang paling karismatik dan mendapat kepercayaan penuh dari Presiden Soeharto adalah Joop Ave. Lahir di Yogyakarta pada 5 Desember 1934 dan menghembuskan napas terakhirnya pada 5 Februari 2014, pria berdarah Belanda ini mengukir rekam jejak yang unik—mulai dari diplomat, Kepala Rumah Tangga Istana, hingga menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (1993–1998).
Diplomat Multibahasa dan Guru Privat Presiden
Memulai kariernya dari Akademi Dinas Luar Negeri (1957) dan sempat menjadi penyiar bahasa Prancis di RRI Voice of Indonesia, Joop Ave dikenal sebagai sosok berwawasan luas yang menguasai empat bahasa asing secara aktif: Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman. Keahlian ini membuatnya dipercaya mengemban tugas diplomasi di Konsulat Jenderal RI di New York pada era 1960-an.
Karakternya yang humoris, supel, namun sangat tegas dan cerdas menarik perhatian Presiden Soeharto. Pada usia yang relatif muda, Joop Ave diangkat menjadi Kepala Rumah Tangga Istana Presiden (1972–1978)—posisi yang kini setara dengan Kepala Staf Kepresidenan. Tak hanya mengurus operasional Istana, menurut kesaksian adik Soeharto, Probosutedjo, Joop Ave bahkan ditunjuk secara khusus menjadi guru privat bahasa Inggris bagi Presiden Soeharto pada awal masa pemerintahannya.
Mendampingi Blusukan Rahasia (Incognito)
Salah satu sisi paling menarik dari peran Joop Ave adalah keterlibatannya dalam kunjungan rahasia (incognito) yang sering dilakukan Presiden Soeharto. Tanpa pengawalan ketat dan tanpa publikasi media, Presiden Soeharto kerap turun langsung ke desa-desa remote untuk melihat kondisi rakyat dan mengecek pelaksanaan program pembangunan secara nyata.
Joop Ave adalah salah satu dari sedikit orang kepercayaan yang selalu diminta hadir mendampingi perjalanan diam-diam tersebut. Ketelatenan, keandalan, serta kemampuannya menjaga rahasia negara membuat ikatan kerjanya dengan Presiden Soeharto menjadi sangat erat.
Pelopor Pariwisata dan Warisan Budaya
Setelah bertugas di Istana, karier Joop Ave kian cemerlang. Ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Jenderal Pariwisata (1982–1993) sebelum akhirnya dilantik menjadi Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi pada Kabinet Pembangunan VI. Di bawah kepemimpinannya, sektor pariwisata Indonesia berkembang pesat dan berhasil menembus panggung internasional.
Atas dedikasinya terhadap kebudayaan Nusantara, ia juga dianugerahi gelar kebangsawanan Raden Mas Kanjeng Haryo Condronegoro oleh Mangkunegara VIII.
Kisah Joop Ave adalah teladan tentang loyalitas, profesionalisme, dan keluwesan diplomasi yang membawa warna tersendiri dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Sumber: Wikipedia








