Ibnu Sutowo, raja minyak di balik pembangunan Hotel Sultan yang baru saja dieksekusi negara

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. COM – Setelah 26 tahun dalam sengketa, Blok 15 Gelora Bung Karno (GBK) di mana eks Hotel Sultan berdiri, akhirnya kembali ke pangkuan negara. Hotel Sultan sendiri adalah hotel yang dikelola oleh perusahaan milik Pontjo Sutowo, PT Indobuildco.

Pontjo Sutowo adalah putra Ibnu Sutowo, pendiri PT Indobuildco.

Di awal-awal kariernya, Ibnu Sutowo adalah dokter yang bertugas di wilayah Sumatera. Pada 1946, setahun setelah Indonesia merdeka, Ibnu Sutowo bergabung sebagai dokter tentara di Sumatera. Dia tercatat pernah menduduki jabatan Kepala Jawatan Kesehatan Tentara VIII/Garuda di Sumatera Selatan.

Tahun 1957 menjadi titik balik karier Ibnu Sutowo. Ibnu Sutowo ditunjuk sebagai Direktur PT Permina (Perusahaan Minyak Nasional) yang kemudian berubah nama jadi (PN) Permina cikal bakal Pertamina. Dia pun menjalankan peran ganda: sebagai perwira militer aktif sekaligus mengelola perusahaan minyak negara.

Setelah Gerakan 30 September 1965, karier Ibnu Sutowo semakin melejit. Dia masuk jajaran orang kepercayaan Soeharto, penguasa Orde Baru.

Dia kemudian dipercaya Soeharto menjabat Menteri Urusan Minyak dan Gas Bumi pada 1966. Pada 1968, dia ditunjuk sebagai Direktur PT Pertamina dan menduduki jabatan tersebut hingga 1976 yang menjadikannya sebagai Dirut Pertamina terlama sepanjang sejarah perusahaan tersebut.

Saat dipimpin oleh Ibnu Sutowo, Pertamina dinilai mengalami kemajuan pesat. Terutama melalui penerapan skema production sharing dalam industri minyak nasional.

Keuntungan perusahaan semakin melonjak ketika harga minyak dunia meroket hingga 400 persen pada 1973. Tapi lonjakan pendapatan itu justru membawa persoalan baru.

Kebijakan-kebijakan perusahaan dinilai berjalan di luar kerangka Rencana Pembangunan Lima Tahun yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Sejumlah proyek dibiayai dengan dana yang disebut-sebut sulit dilacak dan dihitung secara akurat.

Unit-unit usaha yang semula diharapkan menjadi motor penggerak perekonomian negara justru berubah menjadi sumber kebocoran keuangan. Aroma korupsi berskala besar di tubuh Pertamina pun mulai tercium.

Pada 1974 Soeharto membentuk Komisi 4 untuk menyelidiki dugaan penyimpangan. Komisi ini kemudian merekomendasikan penertiban manajemen Pertamina.

Temuan lain mengungkap bahwa Pertamina saat itu kesulitan memenuhi kewajiban keuangan dari berbagai proyek yang dijalankan. Salah satu kasus yang paling menyita perhatian publik adalah skema sewa beli tanker samudera.

Masuk pertengahan 1975, kondisi keuangan Pertamina semakin goyah dan nyaris menyeret perekonomian nasional ke jurang krisis. Pertamina ketika itu menanggung utang jangka pendek sebesar 10,5 miliar dolar AS.

Skandal besar ini baru sepenuhnya terungkap pada awal 1980-an. Pemerintah kemudian membentuk tim khusus yang beranggotakan LB Moerdani dan Albert Hasibuan untuk menangani perkara tersebut.

Proses persidangan berlangsung bertahun-tahun di luar negeri. Dari upaya tersebut, pemerintah Indonesia akhirnya memperoleh hak sebesar Rp160 miliar.

Tapi nilai itu disebut tidak sebanding dengan besarnya dugaan korupsi, biaya penanganan perkara, serta sumber daya yang telah dikerahkan.

Presiden Soeharto pada akhirnya mengambil langkah penertiban internal Pertamina. Dia memerintahkan perusahaan itu menjual sebagian aset yang dianggap berlebihan guna menyelamatkan kondisi keuangan negara.

Hasil penyelidikan menyimpulkan adanya penyimpangan dalam tubuh Pertamina, namun tidak ada satu pun pelaku yang dijatuhi sanksi hukum. Ibnu Sutowo sendiri dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Utama Pertamina pada 5 Maret 1976 oleh Soeharto.

Dia tidak pernah secara resmi dinyatakan bersalah atas berbagai persoalan yang menjerat perusahaan minyak negara tersebut. “…tidak cukup bukti untuk menuntut Ibnu Sutowo secara pidana,” kata Presiden Soeharto ketika menjawab pertanyaan tertulis DPR RI awal tahun 1980, seperti dikutip dari pemberitaan Harian Kompas tanggal 13 Januari 2001.

Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034389024/sejarah-ibnu-sutowo-raja-minyak-di-balik-pembangunan-hotel-sultan

hotelsultan #pertamina #ibnusutowo #rajaminyak

Bagikan