Gus Miftah : KH Imam Jazuli Punya Modal Paling Lengkap Pimpin PBNU di Abad Kedua

Reporter: Ali Wafi

Jakarta, Jelajahpenanews.com – 20 Juli 2026
Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, kian menghangat. Di tengah munculnya sejumlah nama, Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Yogyakarta, KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Kiai Miftah, secara terbuka menilai KH Imam Jazuli sebagai figur yang paling memenuhi kebutuhan kepemimpinan NU di abad kedua.

Menurut Kiai Miftah, tantangan yang dihadapi NU saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dituntut tidak hanya menjaga tradisi pesantren, tetapi juga mampu menjawab tantangan globalisasi, transformasi digital, penguatan ekonomi umat, hingga diplomasi internasional.

“NU hari ini adalah organisasi besar yang sedang berada di persimpangan peradaban. Dibutuhkan nakhoda yang memiliki akar kuat pada tradisi pesantren sekaligus mampu membawa NU berperan di tingkat global,” Ungkap Kiai Miftah.

Dari sejumlah nama yang beredar, Kiai pendakwah ini menilai KH Imam Jazuli memiliki kombinasi kapasitas yang paling lengkap. Selain menjadi pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Kiai Imjaz, sapaan akrabnya, juga memiliki latar belakang pendidikan internasional di bidang filsafat, politik, pertahanan, dan strategi, serta pengalaman sebagai entrepreneur.

“Di titik inilah, figur seperti Kiai Imjaz bukan lagi sekadar alternatif. Beliau adalah kebutuhan mutlak. Jika NU ingin berlari mengejar zaman, lokomotifnya haruslah orang yang selesai dengan dirinya sendiri dan punya isi kepala yang melompat jauh ke depan,” urainya.

Enam Alasan Kiai Miftah Sebut KH Imam Jazuli layak memimpin PBNU
Pertama, Kiai Imjaz dinilai tetap berakar kuat pada tradisi pesantren sekaligus membawa gagasan transformasi pendidikan. Kiai Imjaz adalah arsitek pesantren transformatif, melalui gerakan nasional transformasi pesantren yang menghimpun sekitar 5.000 pengasuh pesantren, ia mendorong lahirnya pesantren yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan sumber daya manusia di era digital. Program tersebut disebut dibiayai secara mandiri melalui Imam Jazuli Foundation (IJF).

Kedua, Kiai Imjaz disebut memiliki kemampuan merangkul berbagai kalangan di internal NU. Menurut Kiai Miftah, karakter pemersatu itu penting agar energi organisasi tidak lagi tersita oleh konflik internal, melainkan difokuskan untuk pelayanan kepada umat.

Ketiga, Kiai Miftah menilai kemandirian ekonomi menjadi nilai lebih yang dimiliki Kiai Imjaz. Menurutnya, pemimpin yang tidak bergantung pada kepentingan politik maupun donor akan lebih leluasa menjalankan khidmah organisasi. Beliau adalah sosok kiai pengusaha dan pengusaha yang kiai.

Keempat, Kiai Imjaz dinilai memiliki cara berpikir progresif dan berorientasi pada masa depan. Kiai Miftah menyebut NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menyiapkan organisasi menghadapi tantangan puluhan tahun ke depan.

Kelima, jejaring global yang dimiliki Kiai Imjaz, terutama di bidang pendidikan, dinilai menjadi modal penting untuk memperluas akses kader-kader NU ke tingkat dunia, termasuk melalui peluang beasiswa dan kerja sama stratejik di kancah internasional.

Keenam, kemampuan manajerial Kiai Imjaz disebut telah terbukti melalui pengembangan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA). Dalam waktu relatif singkat, pesantren tersebut berkembang menjadi lembaga pendidikan berskala besar dengan ribuan santri serta alumni yang tersebar di berbagai negara.

“Jika keenam kriteria tersebut dijadikan alat ukur, maka KH Imam Jazuli menjadi satu figur utama yang paling layak diperhitungkan. Beliau memiliki akar pesantren yang kuat, pengalaman internasional, serta rekam jejak membangun lembaga pendidikan yang mandiri dan berkembang,” ujarnya.

Lebih dari itu, Kiai Miftah juga menjelaskan bahwa KH Imam Jazuli merupakan alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sebelum melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, serta memperdalam kajian politik, pertahanan, dan strategi di Malaysia.

“Beliau memahami tradisi pesantren sekaligus memiliki wawasan global. Kombinasi seperti ini menjadi kebutuhan penting bagi NU yang sedang memasuki abad kedua,” papar Kiai Miftah.

Merayakan Kepemimpinan Visioner dan Kolaboratif Abad kedua NU
Menjelang Muktamar ke-35, Kiai Miftah menegaskan bahwa NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga warisan para muassis sekaligus melakukan transformasi organisasi agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

“NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga tradisi dan nilai Aswaja sekaligus menghadirkan inovasi. Sosok yang memahami pesantren, memiliki kemandirian, mampu mengelola organisasi secara profesional, serta memiliki jejaring nasional dan internasional yang kuat,” ujarnya.

Ia menilai, abad kedua NU menjadi momentum penting menentukan arah organisasi ke depan. Menurutnya NU tidak boleh terhadap romantika sejarah, butuh terobosan untuk menjawab tantangan zaman.

“Abad kedua NU telah tiba. Pilihannya hanya dua: menjadi raksasa tua yang lamban dan hanya bangga pada romantika sejarah, atau menjelma menjadi kekuatan peradaban modern yang lincah, mandiri, dan memimpin dunia. Saya meyakini, dengan modal spiritualitas yang kuat dan transformasi manajemen yang tepat, NU akan memilih jalan yang kedua,” tuturnya.

Kiai Miftah menegaskan ke depan pemimpin harus mampu menjadikan NU tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga besar dalam pengaruh, kualitas, dan kontribusinya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

“mari kita bersatu mendorong Kiai Imjaz memimpin PBNU ke depan,” pungkas pengasuh ponpes Oraj Aji ini. (*)

Bagikan