Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Nama Ratna Sari Dewi—terlahir dengan nama Naoko Nemoto—menempati halaman tersendiri yang penuh warna dalam lembaran sejarah modern Indonesia. Sosok perempuan asal Tokyo ini tidak hanya dikenal karena parasnya yang menawan, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang sarat dinamika: dari panggung diplomasi internasional hingga pusaran konflik politik yang mengubah takdir Indonesia.
Pertemuan di Tokyo dan Ikatan Cinta
Kisah ini bermula pada Juni 1959 di Imperial Hotel, Tokyo. Naoko Nemoto yang kala itu berusia 19 tahun bertemu dengan Presiden Soekarno yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan. Pesona, kecerdasan, dan minat Naoko terhadap dunia seni memikat hati sang Proklamator.
Setelah jalinan komunikasi yang intens melalui surat-menyurat, Naoko memutuskan memeluk agama Islam dan resmi menikah dengan Soekarno pada tahun 1962. Presiden Soekarno memberinya nama Indonesia yang bermakna indah: Ratna Sari Dewi, atau berarti “Dewi yang Esensial seperti Permata”.
Bunga Istana di Panggung Diplomasi
Sebagai pendamping Presiden Soekarno di era Demokrasi Terpimpin, Ratna Sari Dewi menjelma menjadi ikon diplomasi informal Indonesia. Keanggunannya saat mengenakan kebaya dan penampilannya yang elegan memukau para tamu kenegaraan serta pemimpin dunia. Ia kerap mendampingi Bung Karno dalam acara-acara diplomatik, menjadi jembatan kebudayaan antara Indonesia dan masyarakat internasional.
Duka Gejolak 1965 dan Pengasingan
Namun, kebahagiaan di Istana Negara tidak bertahan lama. Meletusnya peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965 membalikkan situasi politik nasional secara drastis. Ketika posisi Soekarno kian terdesak dan kondisi Jakarta memanas, Bung Karno mengambil langkah tegas demi menyelamatkan keselamatan istrinya yang tengah mengandung.
Dewi dikirim ke luar negeri dan melahirkan putrinya, Kartika Sari Dewi Soekarno, di Tokyo pada Maret 1967. Di saat yang sama, Bung Karno mulai menjalani masa-masa sulit dalam isolasi dan tahanan rumah hingga wafatnya pada 21 Juni 1970. Kehilangan suami tercinta di tengah situasi politik yang serba sulit menjadi duka mendalam bagi Dewi.
Ketangguhan Sang ‘Dewi’ di Panggung Dunia
Pasca-wafatnya Bung Karno, Ratna Sari Dewi tidak menyerah pada keadaan. Ia melanjutkan kehidupannya di Eropa, menjadi bagian dari kalangan high society Paris, hingga akhirnya kembali ke Jepang dan bertransisi menjadi kepribadian televisi (tarento) serta pengusaha sukses yang sangat populer.
Lewat Kartika Soekarno Foundation dan berbagai kegiatan kemanusiaan yang dijalankan bersama putrinya, Dewi Soekarno tetap menjaga ikatan batinnya dengan Indonesia. Perjalanan hidupnya dari Tokyo menuju Istana Negara hingga menjadi figur global menjadi bukti ketangguhan seorang wanita dalam mengarungi ombak sejarah dan cinta.
Sumber: Wikipedia








