COSPLAY KIJANG 90-AN!DONGENG MALAM LUCU2 AN PENGHANTAR TIDUR.

Red JPN

Surabaya. Jelajahpenanews. Com – Malam ini Bu Guru mau mendongeng sedikit buat Sahabat semua. Tarik selimut, rebahkan kepala, dan mari kita nikmati sebuah komedi satire tentang betapa niatnya sebuah produksi “sinetron pergerakan” zaman now.

Kalau mau membela rakyat itu sebenarnya sederhana: mengalir aja, natural, dan apa adanya. Nggak perlu lebay, nggak perlu akting berlebihan, apalagi sampai menyusun script sedemikian rupa layaknya audisi film drama festival!

Audisi Properti: Perburuan Kijang Tahun 90-an yang Bikin Geleng Kepala

Anak-anak kampus elite sekelas UI itu kalau ke kampus sehari-hari naik apa sih? Kalau nggak naik KRL ber-AC, ya bawa mobil harian: Rush, Avanza, Brio, atau Yaris. Tapi giliran mau demo atas nama “penderitaan rakyat”, kenapa repot-repot merental mobil Kijang kotak/kapsul tahun 90-an yang knalpotnya sudah batuk-batuk dan hampir punah dari peradaban aspal Sudirman-Thamrin?

Maksudnya biar apa? Biar dapet sinematografi ala-ala aktivis reformasi ’98?

Ini pergerakan mahasiswa atau lagi cosplay film dokumenter sejarah? Terlalu banyak energi yang dihabiskan untuk memikirkan estetika penderitaan di depan kamera, sampai hal-hal riil yang paling mendasar malah terlupakan. Pakai mobil biasa juga aman, nggak bakal dicoret status kemahasiswaannya hanya karena mobil komandonya bukan mobil antik!

Skenario Rapi Berjilid-jilid, Tapi Lupa Baca Aturan. Lupa substansi UU PERAMPASAN ASET KOK GAK DITUNTUT?

APA ORTU NYA KEBANYAKAN YG TAKUT DIRAMPAS ASETNYA ?

Skenario apa ini …demi apa?

Kelihatan sekali demonya seperti sudah ada yang menyutradarai di belakang layar. Skenarionya begitu detail dan presisi:

Pilih mobil tua biar kelihatan dramatis dan merakyat.

Pasang posisi kamera di sudut terbaik (good angle).

Pancing perdebatan di Bundaran HI—tempat yang jelas-jelas simpul macet dan ada himbauan jangan demo disana. Dah ada di script …”KALIAN KERAS AJA ..PASTI POLISI GAGAP NGGAK BISA JAWAB, KRN MMG TAK ADA LARANGAN TERTULIS, Kakak udah baca detail pergub nya kok. Tapi sayang ..kakak kelas mu lupa, dan tak baca aturan kalau TUPOKSI POLISI itu mengatur ketertiban di jalan raya. ITU HAK SEKALIGUS KEWAJIBANNYA. Kalau menurutnya ada indikasi membuat tidak tertib , dia bisa rekayasa pengalihan jalan seauai ilmunya agar nggak macet dan ribet jalanan. JELAS 2 ADA DI PERGUB LARANGAN DEMO. (Boleh demo asal tertib dan tidak mengganggu kepentigan umum).

BACA BERITA BULAN JUNI setelah demo dulu, Polda udah himbau ..mohon ..jangan demo disana. Kemarin pun sampai nyembah 2 Pak Pol nya mau kawal supaya pindah titik lokasi demo. (Yakin perintah presiden …tahan aja apapun yang terjadi ..jangan sampai ada benturan sedikit pun. Jangan ada yg luka.
Ingat cerita waktu 3 wamen datang je Ujiem ? Sampai di warning P Prabowo, Tio jangan sampai kena gores sedikitpun. Walau sempat fitnah, tapi rakyat pintar).

Terus nggak mau diatur, Mencak mencak , dorong dorong bar bar gaya preman memggoda hasrat manusia biasa untuk nampar , apalagi aparat. Sampai histeris jejeritan putus asa nggak bisa mancing amarah aparat biar bertindak kasar ke mereka. KALAU BU GURU DI GITUIN ..ASLI TAK GAMPAR MULUTNYA….BIAR JIN TANTRUMNYA LEPAS.

Begitu disetop polisi dengan sopan, langsung keluarkan jurus pamungkas: nangis tersedu-sedu, teriak histeris, pasang muka teraniaya, lalu teriak “Demokrasi dibungkam!”

Lucu parah! Skenario properti dan dramanya dipikirkan sampai matang, tapi urusan administrasi paling dasar—baca Pergub DKI 232/2015 dan kirim surat pemberitahuan resmi 3×24 jam sesuai UU No. 9/1998—malah lolos dari perhatian sutradara! Giliran ditegakkan aturannya, malah tantrum massal.

Umpat Polisi di Jalanan: Lupa Kalau Ortu Teman Sendiri Banyak yang Anggota?

Bagian paling menohok dan bikin tepok jidat adalah ketika emosi tak terkontrol itu melahirkan umpatan dan hardikan kasar. Mulai dari teriak-teriak menghardik petugas sampai melontarkan nyanyian dan makian kasar ke institusi kepolisian.

Pertanyaannya sederhana: Memang kalian pikir di antara ribuan mahasiswa berjaket kuning itu nggak ada yang orang tuanya polisi?

Banyak mahasiswa yang bisa kuliah tenang, bayar UKT lancar, dan punya masa depan cerah justru dari jerih payah bapak-ibunya yang berdinas di kepolisian—yang setiap hari berdiri di bawah terik matahari mengatur macet dan menjaga keamanan jalan.

Menghardik bapak polisi yang berdiri sabar dan santun di lapangan hanya demi konten viral itu bukan tanda keberanian intelektual, tapi tanda hilangnya adab.

Berjuanglah Tanpa Skenario Palsu

Perjuangan membela rakyat itu letaknya pada kejernihan ide, ketajaman riset, kepatuhan pada hukum, dan ketulusan niat. Jangan jadikan panggung aspirasi sebagai ajang method acting dan drama berjilid-jilid yang penuh kepalsuan kosmetik.

Mengalir saja, Nak Rakyat butuh solusi nyata berbasis kecerdasan akademik, bukan festival drama air mata dengan mobil rental 90-an di tengah jalan raya!

Selamat tidur, semoga mimpi tentang literasi dan akal sehat.

Salam Sayang Literasi Numerasi
Bu Guru💕

Mikir #DramaAktivis #SatireMalam #BEMUI #LiterasiHukum #Kijang90anCosplay #AksiTanpaDrama #AdabDanAkalSehat

Bagikan