Bawah Laut Perairan Indonesia Menarik Minat Negara Asing

Red JPN

Lombok. Jelajahpenanews. COM – Nelayan Indonesia menemukan tiga benda bawah air tak dikenal yang mencurigakan di perairan negara itu pada bulan April.

Pertama, pada tanggal 6 April, nelayan menemukan sebuah alat berbentuk torpedo sepanjang 3,7 meter di sebelah utara Gili Trawangan di Selat Lombok. Alat tersebut memiliki logo China Shipbuilding Industry Corporation .

Sedikit lebih dari seminggu kemudian, nelayan lain menemukan sebuah benda biru memanjang di dekat Kepulauan Tanakeke di lepas pantai Sulawesi Selatan, antara Selat Lombok dan Makassar. Dan pada tanggal 20 April, sebuah alat berbentuk torpedo berwarna kuning dengan panjang sekitar dua meter ditemukan di lepas pantai Pulau Kangean , tepat di utara Selat Lombok.

Signifikansi penemuan-penemuan ini terletak pada lokasi dan kemunculannya yang berulang. Semuanya ditemukan di dalam atau di dekat Jalur Laut Kepulauan II Indonesia, yaitu koridor yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik melalui Selat Makassar dan Lombok.

Terdapat pula temuan sebelumnya: sebuah pesawat luncur bawah air Sea Wing buatan Tiongkok ditemukan di dekat Kepulauan Masalembu pada Januari 2020, sedikit di sebelah barat garis langsung antara selat, dan satu lagi di dekat Pulau Selayar di sebelah timur garis tersebut pada Desember tahun yang sama. Jadi, temuan-temuan ini juga berada dekat dengan jalur pelayaran.

Investigasi pemerintah Indonesia terhadap temuan terbaru masih berlangsung. Indonesia mungkin juga akan kesulitan untuk memberikan respons yang tegas, sebagian karena aturan internasional yang mengatur transit kapal selam tanpa awak melalui jalur laut kepulauan yang telah ditentukan masih belum jelas.

Namun demikian, implikasi yang lebih luas sulit untuk diabaikan: perairan ini memiliki signifikansi strategis yang jauh melampaui fungsi komersialnya. Memang, kedalaman Selat Lombok yang lebih dari 250 meter menjadikannya salah satu dari sedikit jalur di kawasan ini yang cocok untuk transit bawah laut.

Selat Makassar memperpanjang rute tersebut ke utara menuju Laut Sulawesi dan Pasifik Barat dengan kedalaman yang cukup untuk transit bawah laut. Bersama-sama, selat-selat ini menyediakan koridor perairan dalam yang layak untuk pergerakan bawah laut antara Samudra Hindia dan Pasifik.

Terulangnya penemuan-penemuan semacam itu menunjukkan adanya minat yang berkelanjutan dalam mengumpulkan data di dalam dan sekitar jalur laut.

Pemahaman yang lebih baik tentang bentuk dasar laut, misalnya, dapat membantu seorang komandan memutuskan seberapa cepat kapal selam dapat bergerak dengan aman.

Variasi salinitas dapat menyebabkan kapal selam tiba-tiba naik atau tenggelam, sehingga mengetahui di mana dan kapan variasi tersebut terjadi juga membantu navigasi. Pemahaman tentang arus juga sama bermanfaatnya.

Informasi yang sama juga dapat membantu memprediksi di mana kapal selam musuh kemungkinan akan beroperasi. Perubahan suhu memengaruhi kinerja sonar, begitu pula sifat dasar laut, yang juga dapat menentukan di mana dan apakah ranjau dapat diletakkan.

Pengumpulan data tersebut membutuhkan pengamatan berkelanjutan dari waktu ke waktu, tugas yang sangat cocok untuk drone bawah air dengan daya tahan lama atau sensor dasar laut statis.

Beberapa karakteristik selat tersebut menjadikannya sangat menarik untuk pengumpulan data bawah laut.

Pertama, selat tersebut mengandung bahaya oseanografi, termasuk gelombang soliter internal, yang dapat menyebabkan kapal selam mengubah kedalaman secara tiba-tiba.

Kedua, selat tersebut merupakan hambatan strategis yang mungkin harus dilewati kapal selam. Ketiga, ukurannya yang terbatas membuat pengumpulan data terperinci lebih praktis daripada di laut lepas atau bahkan di Laut Cina Selatan. Selat Lombok, misalnya, hanya memiliki lebar sekitar 40 km pada titik terlebarnya.

Benda-benda bawah air tanpa awak itu sendiri sulit dideteksi karena ukurannya yang sangat kecil dan, ditenagai oleh baterai, hampir tidak mengeluarkan suara.

Dan yang terpenting, jumlahnya semakin banyak dan berkembang pesat. Indonesia harus memperkirakan akan ada lebih banyak kejadian seperti itu di jalur perairannya yang sempit dan strategis.

📝The Strategist

Bagikan