ELBARA PUTRA ADITYA JALANI TRADISI TORON TANA DI USIA 7 BULAN

Red JPN

SURABAYA, Jelajahpenanews.com – Tradisi adat Madura, Toron Tana, menjadi momen istimewa bagi keluarga Nandito Dwiputra Johana dan Nur Habibah Aprilia. Putra pertama mereka, Elbara Putra Aditya, yang kini berusia 7 bulan, menjalani tradisi turun-temurun tersebut pada Minggu (25/10/2026).

Acara yang berlangsung secara sederhana di kediaman keluarga di Jalan Plampitan, Surabaya, dimulai sekitar pukul 12.00 WIB. Meski digelar secara sederhana, suasana penuh kebahagiaan dan rasa syukur menyertai pelaksanaan tradisi yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Madura tersebut.

Toron Tana, Tradisi Penuh Makna dan Doa

Toron Tana secara harfiah berarti turun ke tanah. Tradisi ini merupakan bentuk pengenalan awal seorang anak terhadap tanah dan lingkungan tempat ia akan tumbuh serta menjalani kehidupan.

Bagi keluarga, pelaksanaan Toron Tana bukan sekadar menjalankan adat istiadat leluhur, tetapi juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kehadiran buah hati. Tradisi ini sekaligus menjadi sarana memanjatkan doa agar Elbara Putra Aditya tumbuh sehat, cerdas, berakhlak mulia, serta menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Dalam tradisi Toron Tana, terdapat sejumlah prosesi simbolis yang dapat dilakukan, seperti memperkenalkan anak pada ketan atau tetel tujuh warna, membiarkan anak mengenal tanah, serta memberikan kesempatan memilih benda-benda yang melambangkan harapan orang tua terhadap masa depannya.

Benda-benda tersebut dapat berupa Al-Qur’an, tasbih, uang, maupun pena. Pemilihan benda bukanlah penentu masa depan anak, melainkan simbol doa dan harapan agar sang buah hati kelak memiliki kehidupan yang baik dan bermanfaat.

Melestarikan Tradisi Leluhur

Tradisi Toron Tana memiliki kemiripan dengan adat Jawa yang dikenal sebagai Tedhak Siten atau Mudhun Lemah. Keduanya menjadi simbol tahapan penting dalam pertumbuhan anak sekaligus bentuk kasih sayang dan perhatian orang tua terhadap perkembangan buah hati.

Pelaksanaan tradisi secara sederhana di rumah menunjukkan bahwa nilai utama Toron Tana tidak terletak pada kemewahan acara, melainkan pada makna kebersamaan, rasa syukur, doa, dan upaya melestarikan warisan budaya leluhur.

Melalui tradisi ini, keluarga Nandito Dwiputra Johana dan Nur Habibah Aprilia berharap Elbara Putra Aditya kelak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, berilmu, berakhlak baik, serta membanggakan keluarga.

Tradisi Toron Tana pun menjadi pengingat bahwa warisan budaya tetap dapat dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya, meskipun dilaksanakan secara sederhana bersama keluarga di rumah

Bagikan