YAMAN / RIYADH , jelajahpenanews. Com — 14 OKTOBER 2026 — Ini mungkin skandal paling memalukan sekaligus paling menyedihkan dalam sejarah perang modern. Sementara rakyat Yaman bertahan hidup di antara reruntuhan dan kelaparan, para pemimpin pemerintahan yang diakui dunia justru memerintah dari kamar hotel bintang lima di ibu kota negara lain. Mereka menyebut dirinya pemerintah — tapi tak satu pun berani duduk di ibu kota negaranya sendiri. Inilah kisah mengapa perang di Yaman tak kunjung usai — karena yang seharusnya memimpin justru lari paling jauh dari medan pertempuran.
🔴 Pemerintah yang tak berani pulang ke rumahnya sendiri
“Negara yang diklaim dipimpinnya berjarak ratusan kilometer. Ibu kotanya dikuasai musuh. Dan para pemimpinnya tidur di kasur empuk Ritz-Carlton Riyadh, sementara rakyatnya tidur di lantai yang dingin dan berlubang.”
- 🏨 Julukan yang menyakitkan: “Pemerintahan Hotel” — para menteri dan pejabat PLC lebih memilih tinggal dan memerintah dari kamar hotel mewah di Riyadh daripada di Aden, kota yang seharusnya menjadi pusat kekuasaan mereka
- 💰 Semua biaya ditanggung Saudi: gaji, penginapan, gaya hidup — semuanya disokong dana Kerajaan Arab Saudi. Ketergantungan total membuat mereka tak bisa mengambil keputusan sendiri
- 🗺️ Di atas kertas luas, di kenyataan kosong: PLC menguasai wilayah gurun yang sepi — sementara Houthi menguasai Sana’a dan wilayah padat penduduk tempat hampir 80% rakyat Yaman tinggal
🔴 Tentara yang tak pernah benar-benar ada — “Tentara Hantu” menguras miliaran dolar
“Di atas kertas: ratusan pasukan siap tempur. Di lapangan: belasan prajurit yang kelelahan, kurang senjata, dan terlupakan. Sisanya hanya nama yang dipalsukan demi mengantongi uang bantuan.”
👻 Skandal “Tentara Hantu” terbongkar gamblang:
- Jenderal nakal memalsukan daftar nama personel untuk menguras anggaran militer Saudi
- Komandan lapangan melaporkan pasukan besar yang nyatanya tak ada
- Uang yang seharusnya untuk senjata, makanan, dan obat prajurit — berakhir di rekening pribadi para elit
- ⚠️ Korupsi logistik, bentrokan internal antar-faksi, ketidakpercayaan antar-komandan — inilah yang membuat Arab Saudi akhirnya mundur dan menolak invasi darat. Mereka sadar: mereka membiayai hantu, bukan pasukan
🔴 Bahkan sekutu pun saling menodongkan senjata
- 🇸🇦 PLC didukung Saudi — tapi faksi pendukungnya sering bentrok dengan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab
- 🇦🇪 UEA punya kepentingan sendiri di selatan Yaman — sehingga kubu “sekolah” justru saling serang lebih sering daripada bersama melawan musuh utama
- 💔 Tanpa komando tunggal, tanpa kepercayaan, tanpa kehadiran pemimpin di tanah air — bagaimana mungkin mereka bisa memenangkan perang?
🔴 Pertanyaan yang tak boleh dihindari
“Siapa yang sebenarnya diperangi? Musuh di depan — atau korupsi di dalam barisan sendiri?”
Menurut kalian: Bagaimana sebuah pemerintahan bisa mengaku mewakili rakyat jika tak berani tinggal di negaranya sendiri? Dan berapa miliar dolar lagi yang harus terbuang sebelum dunia menyadari bahwa perang tak bisa dimenangkan oleh jenderal yang berkemewahan di hotel musiman?
Sumber: Sana’a Center for Strategic Studies, Al Jazeera, laporan Oktober 2026








