Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Ada pemimpin yang dikenang karena lamanya menjabat. Ada pula yang dikenang karena jejak yang tetap terlihat jauh setelah ia meninggalkan jabatan ,Ali Sadikin adalah salah satunya.
Ketika dilantik Presiden Soekarno sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 28 April 1966, Bang Ali menerima sebuah ibu kota dengan persoalan yang tidak sedikit. Jakarta menghadapi berbagai masalah perkotaan—mulai dari permukiman yang kurang tertata, keterbatasan fasilitas kesehatan dan pendidikan, hingga kebutuhan akan infrastruktur yang semakin mendesak.
Bang Ali datang dari dunia militer. Namun, selama memimpin Jakarta hingga 1977, ia menunjukkan bahwa membangun sebuah kota membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan administratif. Dibutuhkan keberanian mengambil keputusan, keberanian mencoba sesuatu yang baru, dan kemampuan melihat Jakarta jauh ke depan.
Kebijakan yang mengundang kontroversi .Salah satu langkahnya yang paling kontroversial adalah kebijakan melegalkan dan mengatur perjudian dengan menarik pajak atau retribusi untuk menambah penerimaan daerah. Kebijakan tersebut mendapat kritik keras dan membuat Ali Sadikin dikenal dengan julukan “Gubernur Judi”. Pemerintah DKI pada masa itu juga membuat pengawasan terhadap tempat perjudian.
Terlepas dari perdebatan moral dan sosial yang menyertainya, penerimaan daerah kemudian menjadi salah satu sumber yang mendukung berbagai program pembangunan Jakarta.
Di tangannya, pembangunan tidak hanya berarti gedung-gedung besar. Ia memperhatikan kampung-kampung tempat masyarakat sehari-hari hidup. Melalui program Proyek Muhammad Husni Thamrin (MHT), kampung-kampung diperbaiki dengan pembangunan jalan, saluran air, dan berbagai fasilitas dasar. Program ini kemudian berkembang luas dan mendapat dukungan pembiayaan dari Bank Dunia.
Membangun kota sekaligus membangun ruang kehidupan
Jejak Bang Ali juga terlihat pada berbagai fasilitas yang kemudian menjadi bagian dari ingatan kolektif warga Jakarta.
Ada Taman Ismail Marzuki, yang menjadi ruang penting bagi kehidupan seni dan kebudayaan.
Ada Ragunan, Ancol, Proyek Senen, berbagai terminal dan pasar, kawasan industri Pulo Gadung, hingga penyelenggaraan Djakarta Fair yang menjadi cikal bakal Pekan Raya Jakarta.
Di bidang kebudayaan, pemerintahannya juga menyelenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta serta memberi perhatian pada pelestarian budaya Betawi.
Yang menarik, warisan Bang Ali bukan hanya soal beton, jalan, dan bangunan.
Ia juga meninggalkan gagasan bahwa sebuah ibu kota membutuhkan ruang untuk seni, kebudayaan, rekreasi, dan kehidupan masyarakatnya.
Bahkan pada 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperingati satu abad kelahirannya dan kembali menyoroti warisannya dalam pengembangan seni, budaya, serta ruang publik Jakarta.
Dari Balai Kota ke Petisi 50
Setelah masa jabatannya berakhir pada 1977, perjalanan Bang Ali ternyata belum selesai.
Pada 5 Mei 1980, namanya tercatat sebagai salah satu dari 50 tokoh yang menandatangani “Ungkapan Keprihatinan”, yang kemudian dikenal sebagai Petisi 50. Petisi tersebut menyampaikan keprihatinan terhadap sejumlah pernyataan Presiden Soeharto mengenai Pancasila dan kehidupan politik saat itu.
Sikap tersebut membawa konsekuensi politik bagi para penandatangannya. Mereka mengalami berbagai bentuk pembatasan dan pengucilan selama periode pemerintahan Orde Baru.
Di sinilah perjalanan Ali Sadikin menjadi semakin menarik.
Ia pernah berada di dalam kekuasaan, tetapi kemudian berani mengambil posisi kritis terhadap kekuasaan.
Bang Ali dan warisan yang tidak selesai ketika jabatan berakhir
Ali Sadikin wafat di Singapura pada 20 Mei 2008, dalam usia 80 tahun. Ia meninggalkan Jakarta dengan segala kelebihan dan kekurangannya—sebuah kota yang masih terus berkembang, tetapi fondasi sejumlah ruang publik dan program perkotaannya dapat ditelusuri ke masa kepemimpinannya.
Tentu, tidak semua kebijakan Bang Ali harus diterima tanpa kritik. Kebijakan perjudian, penataan kota, dan sejumlah keputusan lainnya tetap menjadi bagian dari perdebatan sejarah Jakarta.
Namun, satu hal sulit diabaikan:
Bang Ali meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada masa jabatannya.
Hari ini, ketika orang berjalan di TIM, berkunjung ke Ragunan, menikmati kawasan Ancol, menghadiri Jakarta Fair, atau sekadar melewati kampung-kampung yang dahulu menjadi sasaran program perbaikan, nama Ali Sadikin masih menemukan tempatnya dalam cerita tentang Jakarta.
Mungkin itulah alasan mengapa sapaan “Bang Ali” terasa lebih dekat daripada sekadar “Gubernur Ali Sadikin”.
Ia bukan hanya pernah memimpin Jakarta.
Ia ikut membentuk wajah Jakarta yang kemudian diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
Sebuah foto lama, sebuah sosok lama, dan sebuah cerita panjang tentang bagaimana Jakarta pernah dibangun dengan keberanian.








