Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Sebelum nama Ciputra dikenal sebagai salah satu tokoh besar dunia properti Indonesia, kehidupannya bersama sang istri, Dian Sumeler, justru dimulai dari keadaan yang sangat sederhana.
Dian Sumeler lahir di Tondano, 27 Desember 1931. Ia mengenal Ciputra sejak masih muda ketika keduanya berada di Manado. Hubungan mereka kemudian semakin dekat. Ada cerita sederhana dari masa muda mereka: Ciputra kerap menjemput Dian, lalu mereka bersepeda bersama menuju pusat kota untuk sekadar menikmati es di kedai sederhana.
Cinta itu kemudian membawa mereka ke jenjang pernikahan. Ciputra dan Dian Sumeler menikah di Bandung pada 1954, ketika Ciputra masih berusia 23 tahun dan sedang menempuh pendidikan arsitektur di ITB. Pernikahan tersebut menjadi salah satu keputusan penting dalam hidup Ciputra karena sejak saat itu ia harus menjalani kuliah sekaligus bekerja untuk menopang keluarganya.
Menariknya, kehidupan mereka pada masa awal pernikahan jauh dari gambaran keluarga pengusaha besar seperti yang dikenal kemudian.
Setelah Ciputra lulus dari ITB pada 1960, mereka pindah ke Jakarta. Dalam sebuah kesaksian yang dikutip Universitas Bangka Belitung, Dian pernah mengenang bahwa saat itu mereka belum memiliki rumah dan sempat berpindah-pindah dari satu losmen ke losmen lainnya.
Di tengah keadaan tersebut, Ciputra terus mengejar cita-citanya.
Ketika masih menjadi mahasiswa, sekitar 1957, ia bersama dua sahabatnya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan, mendirikan biro konsultan arsitektur Daya Cipta. Usaha itu menjadi salah satu langkah awal yang kemudian mengubah arah hidupnya.
Ciputra sebenarnya bercita-cita menjadi seorang insinyur. Namun setelah terjun ke dunia arsitektur, pandangannya berubah. Ia merasa seorang developer memiliki ruang yang lebih besar untuk menciptakan gagasan, mengembangkan kawasan, sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Dari Jakarta, perjalanan itu semakin besar.
Pada awal 1960-an, Ciputra bergabung dalam Pembangunan Jaya, perusahaan patungan antara Pemerintah DKI Jakarta dan pihak swasta. Salah satu proyek awal yang kemudian menjadi tonggak penting adalah pengembangan kawasan Senen. Setelah itu muncul proyek-proyek besar seperti Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jaya.
Memasuki dekade 1970-an, Ciputra bersama sejumlah mitra mendirikan Metropolitan Group. Dari sinilah lahir berbagai proyek besar, termasuk kawasan Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai.
Kemudian pada 1981, Ciputra bersama keluarganya mendirikan perusahaan yang menjadi embrio Ciputra Group.
Namun, perjalanan itu ternyata tidak selalu mulus.
Krisis ekonomi 1997–1998 menjadi salah satu ujian terbesar. Ciputra kemudian mengakui bahwa akibat jatuhnya nilai rupiah dan melonjaknya kewajiban perusahaan dalam valuta asing, secara teknis dirinya sudah berada dalam kondisi bangkrut.
Di titik inilah kisah perjuangan keluarga Ciputra menjadi semakin menarik.
Alih-alih meninggalkan persoalan, Ciputra memilih menghadapinya. Restrukturisasi utang, perubahan strategi bisnis, dan inovasi menjadi bagian dari usaha untuk menyelamatkan perusahaan. Salah satu strategi yang kemudian dikembangkan adalah bekerja sama dengan pemilik lahan di daerah untuk mengembangkan kawasan hunian.
Bagi Ciputra, perjalanan bisnis bukan sekadar tentang bagaimana memperoleh keuntungan, tetapi bagaimana tetap bertahan ketika keadaan berubah.
Ia kemudian merumuskan tiga nilai yang menjadi pegangan Grup Ciputra: Integritas, Profesionalisme, dan Entrepreneurship (IPE).
Dan di balik perjalanan panjang itu, ada Dian.
Dalam penghormatan resmi Grup Ciputra setelah kepergiannya, Dian Sumeler disebut sebagai sosok yang turut menentukan perjalanan Ciputra dalam keluarga, bisnis, dan kegiatan sosial. Bahkan terdapat kalimat yang menggambarkan dukungannya kepada sang suami:
“Saya paham cita-citamu, melangkahlah, aku mendukungmu.”
Dian bukan sekadar pendamping di dalam rumah tangga. Ia kemudian ikut terlibat dalam dunia bisnis dan sosial keluarga. Ia tercatat aktif dalam kegiatan pendidikan dan sosial melalui yayasan keluarga, serta pernah menjadi komisaris perusahaan sejak dekade 1980-an.
Perannya bahkan mendapat penghargaan Lifetime Achievement Perempuan Bintang Awards 2018 dalam kategori “Bintang Belakang Layar Terbaik.”
Dari pernikahan mereka lahir empat anak: Rina Ciputra Sastrawinata, Junita Ciputra, Candra Ciputra, dan Cakra Ciputra. Anak-anak mereka kemudian ikut mengambil bagian dalam meneruskan perjalanan bisnis keluarga.
Ciputra meninggal dunia di Singapura pada 27 November 2019, dalam usia 88 tahun. Dian Sumeler menyusul sekitar dua tahun kemudian, wafat pada 22 Desember 2021, lima hari sebelum ulang tahunnya yang ke-90.
Foto ini akhirnya terasa lebih dari sekadar potret pasangan suami istri.
Di balik senyum mereka, ada cerita tentang cinta yang dimulai sejak muda, kehidupan sederhana, perjuangan membangun usaha dari bawah, masa-masa sulit, krisis ekonomi, hingga keberhasilan membangun salah satu kelompok usaha properti besar di Indonesia.
Ciputra mungkin dikenang sebagai sang begawan properti.
Namun dalam perjalanan panjang itu, ada seorang perempuan bernama Dian Sumeler, yang memilih berjalan bersamanya sejak masa ketika rumah sendiri pun belum mereka miliki.
Karena terkadang, di balik sebuah kesuksesan besar, ada seseorang yang tidak selalu berada di depan kamera—tetapi selalu hadir ketika perjalanan sedang berada di titik paling sulit.








